KARYA TULIS ILMIAH
HUBUNGAN
HIPERTENSI DALAM KEHAMLAN (HDK) DENGAN NILAI APGAR DI RSUP NTB
TAHUN 2014
Disusun Untuk Memenuhi Ketentuan Melakukan Kegiatan Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Sebagai Persyaratan Mencapai Derajat Diploma III Kesehatan Jurusan Kebidanan
Diajukan Oleh :
NORA TRI DAMAYANTI
NIM. P07124012413
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN KEBIDANAN
2015
LEMBAR PERSETUJUAN
HUBUNGAN HIPERTENSI DALAM KEHAMLAN (HDK)
DENGAN NILAI APGAR DI RSUP NTB
TAHUN 2014
Diajukan Sebagai Syarat Untuk
Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III (DIII) Kesehatan Jurusan Kebidanan
Tahun Akademik 2014/2015
Oleh :
NORA TRI DAMAYANTI
NIM. P 07124012 413
Mataram, September 2015
Menyetujui,
|
Pembimbing
I
( Linda Meliati, S. SiT., M.Kes.
)
NIP: 197707052006042001
|
Pembimbing
II
( Rita Sopiatun, SST. MPH. )
NIP.197901202001122002
|
LEMBAR PERSETUJUAN
HUBUNGAN HIPERTENSI DALAM KEHAMLAN (HDK)
DENGAN NILAI APGAR DI RSUP NTB
TAHUN 2014
Oleh :
NORA TRI DAMAYANTI
NIM. P 07124012 413
Telah dipertahankan di Depan Dewan
Penguji
Pada Tanggal September 2015
SUSUNAN DEWAN PENGUJI
Ketua Pengji
Linda Meliati, SSiT.
M.Kes
NIP. 197707052006042001
Penguji I
Hj.
Siti Aisyah, S.Pd. M.Kes
NIP. 19560414 198103 2001
Penguji II
Rita Sopiatun, SST. MPH
NIP. 197901202001122002
Mengetahui,
Ketua Jurusan Kebidanan
Politeknik Kesehatan Mataram
Hj. Siti
Aisyah, S.Pd.M.Kes.
NIP.
195604141981032001
ABSTRAK
NORA TRI DAMAYANTI. Hubungan
Hipertensi Dalam
Kehamlan (HDK) Dengan Nilai Apgar DI RSUP NTB Tahun 2014 (Dibawah Bimbingan Linda Meliati, S.
SiT., M.Kes. dan Rita Sopiatun, SST. MPH. )
Berdasarkan data yang diperoleh di RSUP NTB kejadian
persalinan yang disertai komplikasi dengan hipertensi dalam kehamilan pada tahun
2014 komplikasi dengan HDK didapatkan 70 kasus (7,02%) dari 966 kasus
komplikasi, asfiksia bayi baru lahir 137 kasus (13,07%)dari 1048 angka
kelahiran dan kasus HDK yang menyebabkan asfiksia bayi baru lahir yaitu 33
kasus (35,38%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dalam
kehamilan (HDK) dengan Nilai Apgardi Rumah Sakit Umum Provinsi NTB tahun 2014.
Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Populasinya adalah semua
ibu bersalin yang mengalami komplikasi di RSUP NTB tahun 2014 yaitu sebanyak
966 kasus. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini ada
dua yaitu : teknik total sampling untuk sampel kasus sebanyak 70 orang dan
teknik sistematik random sampling untuk sampel kontrol sebanyak 70 orang
sehingga jumlah sampel yang digunakan
dalam penelitian ini sebanyak 140 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan alat bantu rekam medik dan buku register. Analisa data dilakukan
dengan menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 140
responden yang diteliti di RSUP NTB, yang mengalami hipertensi dalam kehamilan
sebanyak 70 orang (50,0%), tidak asfiksia sebanyak 78 orang (55,7%) dan ada ada
hubungan antara hipertensi dalam kehamilan dengan nilai apgar pada bayi baru
lahir di RSUP NTB Tahun 2014. Disarankan kepada petugas kesehatan agar lebih
meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat khususnya ibu dengan cara
memberikan penyuluhan dan konseling serta menganjurkaan semua ibu hamil
beresiko maupun risiko tinggi untuk memeriksakan kehamilannya secara teratur
minimal 4 (empat) kali selama kehamilan
Kata Kunci : Hipertensi Dalam
Kehamilan, Nilai Apgar
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahNya
sehingga dapat terselesaikan Karya Tulis
Ilmiah ini dengan judul "Hubungan
Hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUP
NTB Tahun 2014" sebagai salah satu persyaratan Akademik dalam rangka
menyelesaikan kuliah Program DIII Kebidanan Politeknik Kesehatan Mataram.
Pada
kesempatan ini penulis menyampaikan
terima kasih dan penghargaan kepada yang terhormat :
1. H. Awan Dramawan, S.Pd,M.kes, selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Mataram.
2. Hj.
Siti Aisyah, S.Pd.,M.Kes, selaku Ketua Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Mataram.
3. Rita
Sopiatun, SST.MPH, selaku Ketua Program Studi yang telah banyak
memberikan masukan dan arahan untuk menyempurnakan Karya Tulis IImiah ini.
4. Linda
Meliati, S.SiT.,M.Kes, selaku Pembimbing Utama yang
telah banyak memberikan bimbingan.
5. Semua
Dosen di Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Mataram yang banyak memberikan
bekal pengetahuan dan wawasan kepada penulis.
6. Seluruh
tenaga kesehatan RSUP NTB yang membantu penulis dalam memberikan infomasi yang
berhubungan dengan penelitian ini.
7. Orang
tua dan saudara tercinta yang selalu memberikan dukungan moril, dan do’a demi kelancaran penelitian ini.
8. Teman-teman seangkatan yang telah memberikan saran
dan masukan dalam penyusunan Kaya Tulis
IImiah ini.
9. Seluruh pihak yang terlibat dalam
penyusunan Karya Tulis IImiah ini.
Akhirnya
penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun dan
semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
Mataram, September
2015
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................. iii
ABSTRAK............................................................................................................. iv
KATA PENGANTAR ............................................................................................ v
DAFTAR ISI ........................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... x
BAB
I PENDAHULUAN .............................................................................. ...... 1
A.
Latar
Belakang . .......................................................................... ...... 1
B.
Rumusan
Masalah .................................................................... ...... 5
C.
Tujuan
Penelitian ...................................................................... ...... 5
D.
Manfaat
Hasil Penelitian .......................................................... ...... 6
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... ...... 7
A.
TINJAUAN TEORI....................................................................... 7
1.
Konsep
Dasar Hipertensi Dalam Kehamilan................................... 7
2.
Nilai
Apgar...................................................................................... 19
3.
Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan Dengan Asfiksia Bayi
Baru Lahir ....................... 22
B.
Kerangka
Konsep............................................................................ 24
C.
Hipotesa........................................................................................ .... 24
BAB
III METODELOGI PENELITIAN........................................................ 25
A.
Lokasi
dan Waktu Penelitian ................................................... .... 25
B.
Jenis
dan Desain Penelitian .................................................... .... 25
C.
Populasi
dan Sampel ................................................................ .... 26
D.
Variabel Penelitian ................................................................... .... 28
E.
Teknik Pengumpulan Data ..................................................... .... 29
F.
Pengolahan
dan Analisa Data ............................................... .... 30
G.
Definisi
Operasional Variabel .................................................. .... 32
BAB
IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. .... 33
A. Hasil Penelitian .............................................................................. . 33
B. Pembahasan ................................................................................. . 37
BAB
V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ .... 44
A.
Kesimpulan
................................................................................... . 44
B.
Saran
............................................................................................ . 44
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR
TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Definisi Operasional ................................................................. 40
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden
Berdasarkan Hipertensi Dalam Kehamilan di Ruang Bersalin RSUP NTB Tahun 2014................................................ 35
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden
berdasarkan Nilai Apgar Pada Bayi Baru Lahir di Ruang Bersalin RSUP NTB Tahun
2014................................... 36
Tabel 4.3 Hubungan Hipertensi Dalam
Kehamilan Dengan Nilai Apgar Pada Bayi Baru Lahir di RSUP NTB Tahun 2014................................................................ 37
........
DAFTAR
GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Nilai Apgar..................................................................................... 25
Gambar 2.2 Gambaran klinis Asfiksia............................................................ 26
Gambar 2.3 Kerangka konsep......................................................................... 31
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.
Surat Izin pengampilan data
Lampiran 2.
Master Tabel
Lampiran 3.
Lembar Konsultasi
Lampiran 4.
Output SPSS
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kehamilan merupakan suatu proses yang dialami oleh
seluruh wanita di dunia. Melewati proses kehamilan seorang wanita harus
mendapat penatalaksanaan yang benar, karena ini semua berpengaruh terhadap morbiditas
dan mortalitas ibu. Pemerintah Indonesia telah merencanakan MakingPregnancy Safer (MPS) yang
merupakan bagian dari safe motherhood,
yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian
bayi dengan pelaksanaan sesuai dengan
tiga kunci MPS, yaitu : (1) setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
yang terlatih, (2) setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapatkan pelayanan yang akurat, (3) setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap
pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan
penanganan komplikasi keguguran (Depkes RI, 2010).
Menurut World Health Organization
(WHO) diperkirakan paling sedikit
600.000 ibu meninggal pertahun. Kematian ini merupakan akibat langsung dari
kehamilan dan persalinan. Di Indonesia masih terdapat 18.000 ibu yang meninggal
setiap tahun akibat komplikasi hamil dan melahirkan. Dari hasil penelitian yang
dilakukan diseluruh dunia bahwa 99% dari seluruh kematian ibu terjadi di negara
sedang berkembang termasuk di Indonesia, di negara maju kematian ibu sangat
sedikit atau hampir tidak ada. Hal ini memberi kejelasan bahwa setiap kematian
ibu sesungguhnya dapat di hindari atau di cegah (Amelda, 2008). Sedangkan berdasarkan
Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukan bahwa secara nasional Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia
adalah359/100.000 kelahiran hidup, jika dibandingkan AKI2007 sebesar
228//100.000 kelahiran hidup, AKI tersebut meningkat dan masih jauh dari target
Millenium Development Goal’s (MDGs)
2015 yaitu 102/100.000 kelahiran hidup sehingga memerlukan usaha dari semua komponen untuk mencapai target tersebut,
sedangkan angka kematian bayi hasil SDKI 2012 lebih rendah dari hasil SDKI
2007, hasil SDKI 2012 adalah 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup dan kematian
balita adalah 40 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Sama dengan pola SDKI
2007, lebih dari tiga perempat dari
semua kematian balita terjadi dalam tahun pertama kehidupan anak dan mayoritas
kematian bayi terjadi pada periode neonatus (Depkes RI, 2012).
Menurut Dikes Provinsi NTB tahun 2012 penyebab utama
kematian ibu melahirkan
yang sudah diidentifikasi adalah abortus 4 kasus (3%), perdarahan42 kasus
(32,31%), partus lama 1 kasus (1%), yang mencakup HDK)/preeklampsia/eklampsia yaitu
38 kasus (29%), infeksi 4 kasus (3%), lain-lain 41 kasus (31,54%). Dan angka
kematian bayi di NTB tahun 2012 tercatat 1058 kasus. Angka komplikasi neonatal
yang tercatat pada laporan Dikkes Provinsi sangat tinggi mencapai 8880 kasus
(54,05%). BBLR menduduki peringkat pertama menyumbang angka kematian bayi yaitu
501 kasus (50%), diikuti asfiksia 212 kasus (21%), cacat bawaan sebanyak 112
kasus (11%), infeksi 56 kasus (5,29%) dan penyebab lainnya 112 kasus (12%) (Dikes
NTB, 2012).
Sedangkan pada tahun 2013 penyebab utama kematian ibu
yang sudah di identifikasi yaitu perdarahan hamil muda/abortus /KET/ mola 2
kasus (1,7%), perdarahan APB/HPP 38 kasus (32,47%),infeksi 7 kasus (5,98%),
hipertensi dalam kehamilan (HDK) / hipertensi kronis/ hipertensi dengan protein
urin/eklamsia/sindrom hellp 34 kasus (29,05%), emboli 7 kasus (5,98%) dan
lain-lain 29 kasus (24,78%). Dan penyebab angka kematian bayi pada tahun 2013
yaitu BBLR 508 kasus (51,10%), asfiksia 193 kasus (19,41%), tetanus 4 kasus
(0,49%), sepsis 35 kasus (3,52%), kelainan kongenital 117 kasus (11,77%),
ikterus 11 kasus (1,10%) dan lain-lain 126 kasus (12,67%) (Dikes NTB, 2013).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ni
Nyoman Sri Sukarthi di ruang bersalin RSUD TRIPAT Gerung tahun 2013, tentang hubungan
Hipertensi dalam kehamilan dengan kejadian Preeklamsia diperoleh kasus Hipertensi dalam kehamilan
pada tahun 2010 yaitu 15 (1.7%) kasus, meningkat menjadi 24 (1.8%) kasus pada
tahun 2011, dan pada tahun 2012 meningkat lagi menjadi 35 (2.3%) kasus (Ni
Nyoman Sri Sukarthi, 2013).
Hipertensi gestasional merupakan 5-15%penyulit
kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan
morbiditas dari ibu bersalin. Di Indonesia mortalitas dan morbiditas hipertensi
gestasional juga masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh selain etiologi
tidak jelas, juga oleh perawatan dalam persalinan masih ditangani oleh petugas
non medik dan sistem rujukan yang belum sempurna. Hipertensi dalam kehamilan
dapat dialami oleh semua lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang
pengelolaan hipertensi gestasional harus benar-benar dipahami oleh semua tenaga
medik baik di pusat maupun di daerah. (Sarwono Prawirohardjo. 2009).
Keadaan ibu yang mengalami hipertensi
dalam kehamilan dapat mengakibatkan aliran darah ibu melalui plasenta
berkurang, sehingga aliran oksigen ke janin berkurang sehingga akan
mengakibatkan gawat janin dan akan berlanjut sebagai asfiksia bayi baru lahir (Buku
PONED, 2008).
Hasil dari pengambilan data kasus di RSUP NTB kejadian
persalinan yang disertai komplikasi dengan hipertensi dalam kehamilan pada tahun
2012 di dapatkan 73 kasus (3,92%) dari 1860 kasus komplikasi,asfiksia bayi baru
lahir didapatkan 1363 kasus (46,87%) dari 2908 angka kelahiran, dan kasus hipertensi dalam kehamilan yang menyebabkan asfiksia bayi baru lahir yaitu 18
kasus (24,65%), dan pada tahun 2013 komplikasi dengan hipertensi dalam kehamilan didapatkan 65 kasus (3,92%) dari 1654 kasus komplikasi,
asfiksia bayi baru lahir 411 kasus (14,80%) dari 2776 angka kelahiran dan kasus
hipertensi dalam kehamilan yang menyebabkan asfiksia bayi baru lahir yaitu 23
kasus (35,38%).Sedangkan pada tahun
2014 komplikasi dengan HDK didapatkan 70 kasus (7,02%) dari 966 kasus
komplikasi, asfiksia bayi baru lahir 137 kasus (13,07%)dari 1048 angka
kelahiran dan kasus HDK yang
menyebabkan asfiksia bayi baru lahir yaitu 33 kasus
(35,38%). Berdasarkan data tersebut, peneliti tertarik untuk
melaksanakanpenelitian dengan judul “Hubungan Hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan
Nilai Apgardi Rumah Sakit Umum Provinsi
NTB tahun 2014”.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang
dan permasalahan diatas dapat dirumuskan permasalahan: "Apakah Ada Hubungan Hipertensi dalam Kehamilan (HDK) dengan
Nilai Apgar di Rumah Sakit Umum
Provinsi NTB Tahun 2014?
C.
Tujuan
1. Tujuan
Umum
Untuk
mengetahui hubungan hipertensi dalam kehamilan
(HDK) dengan Nilai Apgar
di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB Tahun 2014.
2. Tujuan
Khusus
a. Mengidentifikasi
kejadian hipertensi dalam kehamilan (HDK)
di
Rumah Sakit Umum Provinsi NTB Tahun 2014.
b. Mengidentifikasi
Nilai Apgar pada bayi baru lahir di RSUP NTB Tahun 2014.
c. Menganalisa
hubungan hipertensi dalam kehamilan (HDK)
dengan
Nilai Apgar di Rumah Sakit Umum
Provinsi NTB Tahun 2014.
D. Manfaat
1. Bagi
Rumah Sakit Umum Provinsi NTB dan Tenaga Kesehatan
Diharapkan
menjadi salah satu acuan kepada Pihak rumah sakit dan tenaga kesehatan yang
bekerja agar dapat melaksanakan tindakan penanganan terhadap ibu dan bayi yang mengalami
komplikasi sesuai dengan protap yang telah ada.
2. Bagi
Institusi
Memberikan masukan tentang penyakit
hipertensi dalam kehamilan dan asfiksia pada bayi baru lahir agar dapat
dijadikan penambahan bahan referensi perpustakaan.
3. Bagi
Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan
penulis khususnya tentang Karya Tulis Ilmiah yang berjudul Hubungan Hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan
Nilai Apgar.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Konsep
Teori
1. Hipertensi Dalam Kehamilan
a.
Pengertian
Hipertensi Dalam Kehamilan
1) Hipertensi
gestasional (disebut juga transient
hypertension) adalah hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai
dengan proteinuria danhipertensi menghilang setelah 3 bulan pasca persalinan
atau kehamilan dengan tanda-tanda preeklamsi tetapi tanpa proteinuria. (Sarwono
Prawirohardjo, 2009).
2) Hipertensi
gestasional (HDK) adalah kenaikan tekanan darah diastolik 15 mmHg atau >90
mmHg dalam 2 pengukuran berjarak 1 jam atau tekanan darah diastolik sampai 110
mmHg. Tekanan darah diatolik merupakan indikator dalam penanganan hipertensi
dalam kehamilan karena tekanan darah diastolik mengukur tahanan perifer dan
tidak tergantung keadaan emosional pasien (Saifuddin, 2006).
3)
Hipertensi dalam kehamilan yaitu
hipertensi pada kehamilan yang timbul pada trimester akhir kehamilan, namun
tanpa disertai gejala dan tanda preeklamsia, bersifat sementara dan tekanan
darah kembali normal setelah melahirkan (postpartum). Hipertensi gestasional berkaitan dengan timbulnya hipertensi kronik suatu
saat di masa yang akan datang.
b.
Etiologi
Bagaimana kehamilan memicu
atau memperparah hipertensi masih belum terpecahkan walaupun sudah dilakukan
riset yang intensif selama beberapa dekade dan gangguan hipertensi masih
merupakan salah satu masalah yang signifikan dalam Ilmu Kebidanan (Saifuddin,
2006).
Hipertensi karena kehamilan
lebih sering pada primigravida. Patologi telah terjadi akibat implantasi
sehingga timbul iskemi plasenta yang diikuti syndrom inflamasi, resiko
meningkat pada masa plasenta besar (pada gemeli, penyakit trofoblas, diabetes
melitus, ishoimunisasi rhesus, faktor herediter dan masalah vaskuler).
Hipertensi karena kehamilan dan preeklampsi ringan sering ditemukan tanpa gejala
kecuali meningkatnya tekanan darah. Prognosis menjadi buruk bila terdapat
proteinuria, edema tidak lagi menjadi suatu tanda yang sahih untuk preeklamsi
(Saifuddin, 2006).
c.
Patofisiologi
Menurut Sarwono
Prawirahardjo (2009), penyebab hipertensi dalam kehamilan hingga kini belum
diketahui dengan jelas. Banyak teori yang telah dikemukakan tentang terjadinya
hipertensi dalam kehamilan tetapi tidak ada satupun teori tersebut yang
dianggap mutlak benar. Teori sekarang yang banyak di anut adalah :
1) Teori
iskemia plasenta, radikal bebas, dan disfungsi endotel
a) Iskemia
plasenta dan pembentukan oksidan/radikal bebas sebagaimana yang dijelaskan di
teori invasi trofoblast, pada hipertensi dalam kehamilan terjadi kegagalan
remodelig arteri spiralis dengan akibat plasenta mengalami iskemia. Plasenta
yang mengalami hipoksia dan iskemia akan menghasilkan oksidan (disebut juga radikal bebas). Oksidan atau radikal bebas adalah senyawa penerima elektron
atau atom/molekul yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan. Salah satu
oksidan penting yang dihasilkan plasenta iskemia adalah hidroksil yang sangat
toksis, khususnya terhadap membran sel endotel pembuluh darah. Adanya radikal
hodroksil dalam darah mungkin dahulu di anggap bahan toksin yang beredarr dalam
darah, maka dahulu hipertensi disebut toxaemia.
b) Peroksida
lemak sebagai oksidan pada hipertensi dalam kehamilan. Pada hipertensi dalam
kehamilan telah terbukti bahwa kadar oksidan, khususnya peroksida lemak
meningkat, sedangkan anti oksidan misal Vitamin E pada hipertensi dalam
kehamilan menurun, sehingga terjadi dominasi kadar oksidan peroksida lemak yang
relatif tinggi akan beredar dalam darah dan bersifat toksis, peroksida lemak
sebagai oksidan/radikal bebas akan merusak membran sel endotel.
c) Disfungsi
sel endotel
Akibat sel endotel terpapar terhadap peroksida
lemak, maka terjadi kerusakan sel endotel yang dimulai dari kerusakan membran
sel endotel yang menyebabkan terganggunya fungsi endotel yang mengakibatkan
gangguan metabolisme prostaglandin, kerusakan pada agregasi sel-sel trombosit
pada daerah endotel kapilar gramerolus, peningkatan premeabilitas kapilar,
peningkatan produksi bahan vasopresor dan peningkatan vaktor koagulasi.
2) Teori
kelainan vaskularisasi placenta
Pada hipertensi dalam
kehamilan tidak terjadi infasi sel-sel trofoblastPada laapisan otot arteri
spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Lapisan otot arteri spiralis tidak
memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi. Akbatnya arteri spiralis
relatif mengalami vasokontriksi, akan terjadi kegagalan remodeling arteri
spiralis sehingga aliran darah uteroplasenta menurun, dan erjadilah hipoksia
dan iskemia plasenta. Dampak iskemia plasenta akan menurunkan
perubahan-perubahan yang dapat menjelaskan patogenesis hipertensi dalam
kehamilan selanjutnya.
3) Teori
intoleransi imunologik antara ibu dan janin
Dugaan bawa faktor
imunologik berperan terhadap terjadinya hipertensi dalam kehamilan terbukti
dengan fakta bahwa :
a) Primigravidaa
mempunyai resiko lebih besar terjadinyyaa hipertensi dalam kehamilan
dibandingkan dengan multigravida.
b) Ibu
yang multipara yang kemudian menikah lagi mempunyai resiko lebih besar
terjadinya hipertensi dalam kehamilan jika dibandingkan dengan suami yang
sebelumnya.
4) Teori
adapptasi kardiovaskulatori, genetik
a) Pada
hipertensi dalam kehamilan kehilangan daya refrakter terhadap bahan
vasokonstriktor, dan ternyata terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan
vasopresor. Artinya daya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor
hilang sehingga pembuluh darah sangat peka terhadap bahan vasopresor.
Peningkatan kepekaan terhadap kehamilan yang akan menjadi hipertensi dalam
kehamilan.
b) Genetik
Ada faktor keturunan dan familial dengan model gen tunggal. Genotipe ibu lebih
menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara familial jika
dibandingkan dengan genotipe janin.
5) Teori
divisiensi gizi
Beberapa hasil penelitian
menunjukan bahwa defisiensi gizi berperan dalam terjadinya hipertensi dalam
kehamilan. Suasana serba sulit mendapatkan gizi menimbulkan kenaikan insiden
hipertensi dalam kehamilan. Beberapa peneliti juga menganggap bahwa defisiensi kalsium pada diet perempuan
hamil mengakibatkan resiko terjjadinya hipertensi dalam kehamilan.
6) Teori
stimulus inflamasi teori ini berdasrkan fakta bahwa lepasnya debrist trofoblast
didalam sirkulasi darah merupakan rangsangan utama terjadinya proses inflamasi.
d.
Faktor
Resiko
Terdapat banyak faktor
resiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan, yang dapat dikelompokkan
dalam faktorresiko sebagai berikut :
1) Primigravida,
primipartenitas
2) Hiperplasentosis,
misalnya : molahidatidosa, kehamilan multipel, diabetes mellitus, hidrops
fetalis dan bayi besar.
3) Umur
yang ekstrim yaitu remaja dan umur 35 tahun ke atas.
4) Riwayat
keluarga pernah preeklampsia/eklampsia
5) Penyakit-penyakit
ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil
6) Obesitas
(Sarwono
Prawirohardjo, 2009).
e. Gejala
Klinis Hipertens Dalam Kehamilan
Berikut ini adalah gejala- gejala hipertensi dalam
kehamilan atau tekanan darah tinggi pada saat kehamilan menurut
antara lain adalah :
1) Kenaikan
Berat Badan
Gejala pertama yang mencurigakan adanya HDK ialah
terjadi kenaikan berat badan yang melonjak tinggi dan dalam waktu singkat.
Kenaikan berat badan 0,5 kg setiap minggu dianggap masih dalam batas wajar,
tetapi bila kenaikan berat badan mencapai 1 kg per minggu atau 3 kg sebulan
harus diwaspadai kemungkinan timbulnya HDK. Ciri khas kenaikan berat badan
penderita HDK ialah kenaikan yang berlebihan dalam waktu singkat dan bukannya
kenaikan berat badan yang merata sepanjang waktu kehamilan. Hal ini disebabkan
oleh berat badan yang berlebihan tersebut yang merupakan akibat dari adanya
penimbunan cairan/edem.
2) Kenaikan
Tekanan Darah
Gambaran klinik yang khas pada HDK yaitu ditemukannya
kenaikan tekanan darah ataupun didapatkannya tekanan darah yang tinggi.
Hipertensi ditegakkan apabila :
a) Terdapat
kenaikan tekanan sistolik > 30 mmHg atau tekanan sistolik mencapai 140 mmHg
atau lebih
b) Bila
didapatkan kenaikan tekanan diastolik lebih dari 15 mmHg atau tekanan diastolik
mencapai 90 mmHg atau lebih.
3) Proteinuri
Proteinuri merupakan kelainan yang ditemukan pada fase
lanjut dan jarang sekali ditemukan pada fase dini HDK. Dalam keadaan normal,
tidak dijumpai protein dalam urin dan masih dalam batas normal bila secara
kuantitatif (Esbach) dijumpai 0,3 gram/24 jam. Apabila jumlahnya di temukan
melebihi 0,3 gram/24 jam maka dianggap patologis dan secara kualitatif dapat
dinyatakan dengan (+1) - (+4)
4) Nyeri Kepala
Nyeri kepala jarang ditemukan pada HDK ringan dan
lebih sering ditemukan pada HDK berat. Nyeri kepala ini dirasakan di daerah
frontal atau daerah oksiput dan sukar diatasi dengan obat-obat analgesik. Bila
ditemukan nyeri kepala hebat, harus berhati-hati karena ada kemungkinan akan
terjadi eklamsi.
5) Nyeri
Epigastrium
Nyeri epigastrium merupakan gejala lanjut HDK dan juga
merupakan gajala akan terjadi kejang. Rasa nyeri ini mungkin disebabkan oleh
regangan kapsul hati sebagai akibat perdarahan atau edem hati, tetapi mungkin
juga kelainannya terletak pada susunan saraf pusat.
6) Gangguan
Penglihatan
Gangguan penglihatan bervariasi dari derajat ringan
sampai derajat berat yaitu dari penglihatan kabur sampai kebutaan. Penyebabnya
adalah spasmus arteriol, iskernia, edem, dan pada keadaan berat dapat terjadi
ablasio retina. Gangguan penglihatan ini bersifat reversibel. Jarang terjadi
perdarahan atau eksudat pada retina, tetapi bila dijumpai berarti adanya
hipertensi kronis
7) Gejala
Lainnya
Sejumlah gejala lain bisa mengikuti preeklamsi dan
eklamsi seperti, oliguri atau anuri, edem paru sampai sianosis, dan gejala
perdarahan sampai DIC. Pada umurnnya gejala-gejala ini merupakan tanda dari
beratnya dan sudah lanjutnya.
(Rendi Tamara, 2011)
f.
Diagnosis
1) Tekanan
darah ≥140 mmHg untuk sistolik dan > 90 mmHg untuk diastolik dalam 2
pengukuran berjarak satu jam, atau tekanan diastolik sampai dengan 110 mmHg.
2) Terjadi
sebelum dan setelah 20 minggu
3) Pemeriksaan
laboratorium : protein uri, Na, Creatinin serum, Trombosit, Bilirubin, SGO.
4) Pemeriksaan
pendahuluan diperlukan untuk menyingkirkan penyakit yang secara sekunder dapat
menyebabkan hipertensi antara lain : faal ginjal untuk mengetahui kemungkinan
penyakit ginjal menahun seperti pielonefritis akut, polikstik, dll.
5) Cultur
urine : untuk mengetahui kemungkinan infeksi ginjal.
(Manuaba, 2008)
g.
Penanganan
dan pengobatan HDK
Kiat Menurunkan Tekanan Darah yaitu :
1) Turunkan
Kelebihan Berat Badan
Diantara semua faktor resiko yang dapat dikendalikan,
berat badan adalah salah satu yang paling erat kaitannya dengan hipertensi.
Dibandingkan dengan orang yang kurus, orang yang gemuk (kelebihan berat badan)
lebih besar peluangnya terkena hipertensi
2) Olahraga
Olahraga sangat bermanfaat bagi kesehatan
kardiovaskuler. Gerak fisik hingga taraf tertentu dibutuhkan tubuh untuk
menjaga mekanisme pengatur tekanan darah agar tetap bekerja sebagaimana
mestinya. Olahraga yang disarankan untuk ibu hamil seperti senam hamil, renang,
atau gerakan statis (seperti berjalan kaki).
3) Diet
Mengurangi asupan garam Seperti kasus hipertensi pada
umumnya, pada penderita hipertensi gestasional pengurangan asupan garam dapat
menurunkan tekanan darah secara nyata. Umumnya kita mengkonsumsi garam lebih
banyak garam daripada yang dibutuhkan oleh tubuh. Idealnya, kita cukup
menggunakan sekitar satu sendok teh saja atau sekitar 5 gram garam per hari.
4) Memperbanyak
serat Mengkonsumsi lebih banyak serat atau makanan rumahan yang mengandung
banyak serat akan memperlancar buang air besar dan menahan sebagian natrium.
Sebaiknya ibu hamil yang mengalami hipertensi menghindari makanan kalengan dan
makanan siap saji dari restoran, yang dikuatirkan mengandung banyak pengawet
dan kurang serat.
5) Memperbanyak
asupan kalium Penelitian menunjukkan
bahwa dengan mengkonsumsi 3500 miligram kalium dapat membantu mengatasi
kelebihan natrium, sehingga dengan volume darah yang ideal dapat dicapai
kembali tekanan yang normal.Banyak jenis buah yang dapat menurunkan tekanan
darah salah satunya pisang merupakan sumber zat potasium yang dapat membantu
menurunkan tekanan darah dan mengurangi pembekuan cairan dalam tubuh. Selain
pada buah pisang potasium juga bisa ditemui pada kismis, yogurt, bit, Brussels
sprout (sejenis kubis), alpukat, dan jeruk.
6) Penuhi
kebutuhan magnesium Ditemukan antara rendahnya asupan magnesium dengan
hipertensi. Sumber makanan yang kaya magnesium antara lain kacang tanah, kacang
polong, dan makanan laut. Kandungan asam lemak omega 3 dalam ikan dapat
membantu melancarkan aliran darah dan melindungi dari efek tekanan darah tinggi
serta mengurangi peradangan.
7) Lengkapi
kebutuhan kalsium 800 miligram kasium
per hari (setara dengan tiga gelas susu) sudah lebih dari cukup untuk
memberikan pengaruh terhadap penurunan tekanan darah.
8) Relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau teknik yang
bertujuan untuk mengurangi ketegangan, kecemasan, dengan cara melatih penderita
untuk dapat belajar membuat rilek otot-otot di dalam tubuh. Teknik relaksasi
dapat dilakukan dalam hipnobirting, dimana dalam relaksasi ibu hamil duduk
dengan tenang, pikiran fokus, tidak menatap cahaya langsung kemudian ibu hamil
dibimbing untuk melakukan relaksasi pada kelompok otot-otot secara bertahap
sampai keseluruh bagian tubuh.
h. Dampak hipertensi dalam
kehamilan
1) Pertumbuhan janin terhambat
2) Terjadi penurunan kesadaran atau koma
3) Terjadi gagal jantung, ginjal atau hati
4) Terjadi koagulopati (Saifuddin, 2007)
2. Nilai Apgar
a.
Pengertian
Apgar
skor atau nilai apgar adalah
suatu metode sederhana yang digunakan untuk menilai keadaan umum bayi sesaat
setelah kelahiran (Prawirohardjo, 2002).
b.
Cara
Menentukan Nilai APGAR
Nilai Apgar dinilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap, selanjutnya
dilakukan pada 5 menit berikutnya karena hal ini mempunyai korelasi yang erat
dengan mortalitas dan morbilitas neonatal. Nilai Apgar 1 menit menunjukkan
toleransi bayi terhadap proses kelahirannya, nilai Apgar 5 menit menunjukkan
adaptasi bayi terhadap lingkungan barunya (Ana Setiyana, 2009).
Tabel. 2.1 Cara
menentukan nilai Apgar
|
Skor
|
0
|
1
|
2
|
|
Appearance color
(warna kulit)
|
Pucat
|
Badan merah,
ekstremitas biru
|
Seluruh tubuh kemerahan
|
|
Pulse (heart rate) atau
Frekuensi jantung
|
Tidak ada
|
< 100 x/menit
|
>100 x/menit
|
|
Grimace
(reaksi terhadap
rangsangan)
|
Tidak ada
|
Sedikit gerakan mimic
|
Menangis, batuk/ bersin
|
|
Activity (tonus otot)
|
Lumpuh
|
Ekstremitas dalam
fleksi sedikit
|
Gerakan aktif
|
|
Respiration
(usaha napas)
|
Tidak ada
|
Lemah tidak teratur
|
Menangis kuat
|
Penilaian : 0-3 = Asfiksia Berat
4-6 = Asfiksia Sedang
7-10 = Bayi Normal
c.
Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Apgar
Faktor yang mempengaruhi nilai Apgar diantaranya
adalah kondisi bayi. Kondisi bayi dapat menghasilkan nilai retrospektif, yang dipengaruhi
oleh kejadian berikutnya. Faktor lain yang dapat mempengaruhi penilaian,
misalnya pengkajian warna dapat dipengaruhi oleh pencahayaan, pigmentasi kulit,
jumlah hemoglobin dan tingkat perfusi perifer. Pigmentasi kulit pada bayi
non-kulit putih biasanya akan mulai hari kelima kehidupan,
tetapi bila kulit menghitam akibat pigmentasi, warna kulit dapat dikaji melalui
observasi lapisan mukosa telapak tangan dan kaki, dan harus berwarna merah
muda. Bayi praterm cenderung memiliki apgar score yang lebih rendah daripada
bayi cukup bulan karena imaturitas neurologis mempengaruhi tonus otot,
memperlambat reflek dan warna merah kebiruan pada kulit (Behrman, 2008).
Menurut Danuatmadja (2009), nilai
apgar rendah dikarenakan dua hal, pertama karena janin memiliki kelainan tubuh
akibat gangguan selama kehamilan, seperti prematur, bayi dengan berat lahir rendah,
atau bayi dari ibu yang memiliki kelainan seperti diabetes, gangguan jantung,
atau hipertensi. Penyebab kedua adalah proses persalinan yang susah atau
penggunaan obat-obatan penahan sakit selama persalinan.
3.
Hubungan
Hipertensi Dalam Kehamilan dengan Nilai Apgar
Hipertensi dalam kehamilan merupakan komplikasi yang
meliputi 10% dari jumlah seluruh kehamilan. Hipertensi dalam kehamilan sampai
saat ini masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas fetal dan
maternal di seluruh dunia. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
hipertensi dalam kehamilan yaitu : kadar nitrat oksida rendah pada vaskuler
maternal dan fetal sehingga terjadi disfungsi endothel yang berakibat
hipertensi dan insufisiensi darah fetal plasenta, insufisiensi kalsium,
ketidakseimbangan prostaglandin, gangguan sistem renin angiotensin dan
resistensi insulin (Saefudin, 2006)
Hipertensi dalam kehamilan dikategorikan menjadi 4 bagian
yaitu : hipertensi gestasional, preeklampsia - eklampsia, superimposed
preeklampsia dan hipertensi kronik. Hipertensi gestasional di diagnosis pada
wanita hamil dengan tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih yang pertama
kalinya selama kehamilan, namun tidak ditemukan adanya proteinuria. Kemudian
pada preeklampsia terjadi sindrom spesifik pada kehamilan mengenai menuruannya
perfusi organ sekunder terhadap vasospasme dan aktivitas endotel dan pada
ekslampsia disertai dengan adanya kejang pada wanita dengan preeklampsia yang
tidak diketahui penyebab lainnya. Sedangkan pada hipertensi kronik didiagnosis
sebelum adanya kehamilan. Jika hipertensi timbul sebelum usia kehamilan 20
minggu atau jika hipertensi tetap ada setelah
6 minggu post partum (Saefudin, 2006)
Selain itu hipertensi dalam kehamilan bisa mengakibatkan
terjadinya gangguan pada sirkulasi fetal plasental yang menimbulkan asfiksia
neonatus dan terjadi resusitasi. Cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
neonatus dan evaluasi adekuat atau tidaknya resusitasi yang diberikan
ditentukan melalui nilai apgar yaitu suatu metode cepat yang dapat digunakan
untuk menilai keadaan bayi yang baru lahir dan diterapkan pada menit pertama
dan menit kelima sesudah kelahiran (Prawirohardjo, 2009).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Eka Wijayanti (2011), dari hasil penelitian
dan analisa yang digunakan menggunakan uji Koefisien Korelasi diperoleh nilai
probabilias sebesar 0,034 dengan taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukkan
bahwa H0 ditolak, yang berarti bahwa ada hubungan antara hipertensi dalam kehamilan
dengan nilai apgar di RSUD Dr. R. Koesma Tuban tahun 2011.
B.
Kerangka
Konsep
Fakor
Ibu :
1. Preeklampsia
dan eklampsia
2.
3. Perdarahan
abnormal
4. Partus
lama atau partus macet
5. Demam
sebelum dan selama persalinan
6. Infeksi
berat
7. Kehamilan
Lebih bulan/post matur
8. Gangguan
his
9. Usia <
20 atau > 35 tahun
10. Gravida
empat atau lebih
|
Faktor plasenta
dan tali pusat
|
2.
Hipertensi dalam kehamilan
3.
4.
5.
amilankehkehamilan
|
Gambar 2.3 Kerangka Konsep penelitian (Notoatmodjo, 2005)
Keterangan
:
= variabel yang
diteliti
= variabel
yang tidak ditelit
C.
Hipotesa
Hipotesis dalam penelitian
ini yaitu ada hubungan antara hipertensi gestasional dalam kehamilan dengan nilai
apgar pada bayi baru lahir di RSUP NTB Tahun 2014.
BAB
III
METODELOGI
PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah sakit
umum provinsi NTB dengan pertimbangan :
a.
Tersedianya data ibu yang
mengalami hipertensi gestasional
b.
Rumah Sakit Umum Provinsi
merupakan salah satu rumah sakit rujukan yang masih tinggi mengalami kasus
hipertensi gestasional dan asfiksia pada bayi baru lahir.
c.
Belum ada yang melakukan
penelitian sebelumnya
2.
Waktu
Penelitian
Penelitian
ini telah dilaksanakan pada bulan Juni 2015.
B.
Jenis
Dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik Dengan
rancangan (cross sectional) karena
pengukuran atau pengamatannya dilaksanakan sesaat pada waktu tertentu secara
bersamaan.
C. Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Populasi
adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Eva dkk, 2010 ).
Populasi
dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin yang mengalami komplikasi di
RSUP NTB tahun 2014 yaitu sebanyak 966
kasus.
2.
Sampel
Sampel
adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi (Eva dkk, 2010).
a.
Besar
Sampel
Sampel
pada penelitian ini adalah semua ibu bersalin yang mengalami hipertensi dalam kehamilan yaitu 70 kasus dan sebagian dari ibu
bersalin yang tidak mengalami hipertensi gestasional di RSUP NTB tahun 2014 yang diambil sebanyak 70 kasus juga, jadi jumlah
sampel yang akan di gunakan seluruhnya adalah 140 sampel.
b. Tehnik pengambilan sampel
1)
Cara pengambilan sampel
untuk kelompok kasus yaitu menggunakan total sampling yaitu teknik penentuan
sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.
Sebagai
sampel penelitian pada kelompok kasus adalah semua ibu yang mengalami
hipertensi dalam kehamilan sebanyak
70 orang.
2)
Kelompok kontrol
Jumlah
sampel untuk kelompok kontrol adalah 1:1
dengan kelompok kasus yaitu ibu yang mengalami komplikasi pada persalinan.
Dengan
rumus :
N
K =
n
(966-70)
K =
70
926
K =
70
K = 13,22
K = 13
Cara pengambilan sampel untuk
kelompok kontrol menggunakan systematic
random sampling yang merupakan modifikasi dari sampel random sampling yaitu
dengan cara membagi jumlah populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang
diinginkan.
Jadi sampel yang di ambil untuk kelompok
kontrol yaitu kelipatan 14
dari total ibu yang mengalami komplikasi (966
kasus). Kemudian bilangan 1 sampai 966
di random bila keluar angka 5 maka 5 adalah sampel pertama untuk kelipatan 13 misalnya no. 5, 18, 31 dan seterusnya sampai mencapai
jumlah 70 anggota sampel.
3) Kriteria Sampel
a)
Kriteria
Inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu
dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel.
Yang
menjadi kriteria inklusi adalah semua ibu bersalin yang mengalami komplikasi
kehamilan.
b)
Kriteria
Eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak
dapat diambil sebagai sampel.
Yang
menjadi kriteria ekslusi adalah semua ibu bersalin yang mengalami gawat janin.
D. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang
digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh
satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu, misalnya umur,
jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, dan sebagainya.
(Notoatmodjo, 2005)
1.
Variabel
Independen
Adalah
variabel bebas, sebab atau yang mempengaruhi. Dalam penelitian ini yang menjadi
variabel independen yaitu hipertensi dalam
kehamilan (HDK).
2.
Variabel
dependen
Adalah
variabel terikat, akibat, terpengaruhi atau variabel yang dipengaruhi oleh
variabel bebas atau variabel independen. Dalam penelitian ini yang menjadi
variabel dependen adalah nilai apgar.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian yang akan dilakukan
ini menggunakan data sekunder. Data-data
sekunder tersebut meliputi :
1. Data
jumlah ibu yang mengalami hipertensi gestasional diperoleh melalui register dan
rekam medik Rumah Sakit Umum Provinsi NTB tahun 2014.
2. Data
jumlah ibu yang mengalami komplikasi pada persalinan diperoleh melalui register
dan rekam medik Rumah Sakit Umum Provinsi NTB tahun 2014.
3. Data
jumlah ibu yang mengalami hipertensi dalam
kehamilan (HDK) dengan bayi yang mengalami asfiksia
diperoleh melalui register dan rekam medik Rumah Sakit Umum Provinsi NTB tahun
2014.
4. Data
gambaran umum tempat penelitian diperoleh melalui Profil Rumah Sakit Umum
Provinsi NTB 2014
.
F. Pengolahan dan Analisa Data
Sebelum dianalisis, data
diolah terlebih dahulu. Melalui proses sebagai berikut :
1. Editing
Editing
adalah memeriksa data yang telah dikumpulkan Tujuannya adalah mengurangi
kesalahan atau kekurangan dalam pengumpulan data.
2. Entri
data (pemasukan Data)
Entri
data adalah kegiatan pemasukan data yang telah dikumpulkan kedalam master
tabel, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana. Dalam penelitian ini
dibuat distribusi berdasarkan hipertensi dalam
kehamilan (HDK) dan distribusi berdasarkan asfiksia bayi baru lahir.
3. Coding
Coding
adalah kegiatan memberi kode numerik (Angka) terhadap data yang terdiri atas
beberapa kategori, yaitu :
a. Data
tentang kejadian hipertensi dalam kehamilan diolah dan dikelompokkan menurut :
1)
Hipertensi Dalam Kehamilan : diberi kode 1
2)
Tidak Hipertensi Dalam
Kehamilan : diberi kode 2
b. Data
tentang nilai apgar diolah dan dikelompokkan menurut :
1)
Asfiksia : diberi
kode 1
2)
Tidak asfiksia :
diberi kode 2
4. Tabulating
Tabulating
adalah memasukkan jawaban yang telah diberi kode kedalam tabel.
Langkah terakhir dari
penelitian ini adalah melakukan analisa data. Selanjutnya data dimasukkan ke
dalam komputer dan dianalisis secara statistik menggunakan program SPSS (Statistical product and service solutions).
Analisa
data pada penelitian ini terdiri dari :
a. Analisis
univariat
Analisa univariat dilakukan
terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini
hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel, yaitu
distribusi ibu yang mengalami hipertensi dalam
kehamilan (HDK) dan distribusi bayi yang mengalami asfiksia.
b. Analisis
bivariat
Analisis bivariat dilakukan
terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Meliputi satu
variabel independen (hipertensi dalam
kehamilan) dan variabel dependen (nilai apgar).
Kemudian untuk analisis hubungan menggunakan uji chi square, uji ini dapat digunakan untuk mengetahui seberapa
besar hubungan variabel x dan y. Hasil perhitungan bila p value lebih kecil
dari 0.05 maka Ho ditolak, bila p value
lebih besar maka Ho diterima. Dalam penelitian ini alasan menggunakan chi square adalah menguji hubungan
antara hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan
kejadian nilai apgar di Ruang Bersalin RSUP NTB Tahun 2014.
G. Definisi Operasional
Variabel
Tabel 3.1 Definisi operasional hubungan hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan nilai agar di Ruang Bersalin RSUP
NTB tahun 2014.
|
Variabel
|
Definisi
Operasional
|
Alat
Ukur
|
Cara
Ukur
|
Hasil
Ukur
|
Skala
Ukur
|
|
Hipertensi
dalam kehamilan (HDK)
|
Hipertensi yang
timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria dan hipertensi menghilang
setelah 3 bulan pasca persalinan
|
- Data Rekam medicyang
terdiagnosa di RSUP NTB
- Buku
register ibu bersalin di ruang bersalin RSUP NTB
|
Melihat
data rekam medik dan melihat buku register
|
1.
HDK
2.
Tidak HDK
|
Nominal
|
|
Nilai apgar
|
Penilaian yang
digunakan untuk mengukur keadaan bayi setelah bayi lahir yang dilihat dari data
rekam medik yang ada.
|
Data Rekam medik yang terdiagnosa
|
Melihat data rekam
medik
|
1.
Asfiksia
2.
Tidak Asfiksia
|
|
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1.
Gambaran
Umum RSUP NTB
Berdasarkan
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 13/Menkes/SK/2005 tanggal 5
Januari 2005 tentang Peningkatan Kelas Rumah Sakit Umum Daerah Mataram milik
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, meningkatkan kelas Rumah Sakit Umum
Daerah Mataram dari kelas B Non Pendidikan menjadi kelas B Pendidikan sejak
tanggal 5 Januari 2005.
a. Luas dan Letak
Rumah Sakit Umum Provinsi
NTB terdiri dari tiga lantai yang mempunyai luas bangunan 18.198 m2, berlokasi
di jalan Pejanggik No. 6 Mataram dengan batas wilayah sebagai berikut:
1) Sebelah
Utara : Jalan Pariwisata
2) Sebelah
Selatan : Jalan Pejanggik
3) Sebelah
Barat : Jalan Veteran
4) Sebelah
Timur : Jalan Harimau
b. Ketenagaan
Untuk melaksanakan program-program yang telah
disusun disesuaikan dengan tugas dan fungsi, RSU Provinsi NTB mempunyai 967
orang tenaga yang terdiri dari:
1) Tenaga
Medis seluruhnya 88 orang, terdiri dari :
a)
Dokter spesialis : 41 orang
b)
Dokter umum : 43 orang
c)
Dokter gigi : 4 orang
2) Tenaga
Paramedis seluruhnya 372 orang, terdiri dari :
a)
Paramedis perawatan : 312 orang
b)
Paramedis non perawatan : 60 orang
3) Tenaga
Non Medis seluruhnya 107 orang, terdiri dari :
a)
Apoteker : 6 orang
b)
THL : 101 orang
4) Tenaga
seluruhnya 967 orang, terdiri dari :
a)
Tenaga PNS : 631 orang
b)
Tenaga kontrak : 235 orang
c)
THL : 101 orang
c. Ruang Bersalin (VK Teratai)
Ruang VK terletak pada
lantai dasar RSUP NTB. Ruang ini memiliki pegawai dengan status PNS berjumlah
28 orang yang rinciannya seperti sebagai berikut:
1)
Tenaga Spesialis Obgyn : 7 orang
2)
Dokter Umum : 5 orang
3)
D1 / DIII / DIV Kebidanan :
1 / 11 / 4 orang
Jumlah tempat tidur
berjumlah 16 buah tempat tidur dengan rincian sebagai berikut: Ruang isolasi sebanyak : 2 TT, Ruang USG : 2
TT, Monitoring/Konseling : 2 TT, Ruang Persalinan Fisiologis : 3 TT, Ruang Persalinan
Patologis : 4 TT, Ruang
Tindakan : 1 TT, Ruang VIP : 1 TT dan Ruang
Jaga Dokter : 1 TT.
d. Fasilitas Pendukung
1) Unit
pelayanan tranfusi darah
2) Ruang
operasi mayor dan minor
3) Ruang
operasi kandungan
4) Ruang
P2KS
5) Ruang
kepala SMF
6) Ruang
sekretariat
2.
Identifikasi Kejadian Hipertensi Dalam Kehamilan
Pada penelitian
ini, kejadian hipertensi dalam kehamilan dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu
: hipertensi dalam kehamilan dan tidak hipertensi dalam kehamilan. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Hipertensi
Dalam Kehamilan di Ruang Bersalin RSUP NTB Tahun 2014.
|
No
|
Hipertensi
Dalam Kehamilan
|
n
|
%
|
|
1
|
HDK
|
70
|
50,0
|
|
2
|
Tidak HDK
|
70
|
50,0
|
|
Jumlah
|
140
|
100
|
Tabel 4.1 di
atas menunjukkan bahwa dari 140 responden yang diteliti, yang mengalami
hipertensi dalam kehamilan dan yang tidak mengalami hipertensi dalam kehamilan
masing-masing sebanyak 70 orang (50,0%).
3.
Identifikasi Nilai Apgar Pada Bayi Baru Lahir
Pada penelitian
ini, kejadian hipertensi dalam kehamilan dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu
: hipertensi dalam kehamilan dan tidak hipertensi dalam kehamilan. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan
Nilai Apgar Pada Bayi Baru Lahir di Ruang Bersalin RSUP NTB Tahun 2014.
|
No
|
Keadaan
bayi
|
n
|
%
|
|
1
|
Asfiksia
|
62
|
44,3
|
|
2
|
Tidak asfiksia
|
78
|
55,7
|
|
Jumlah
|
140
|
100
|
Tabel 4.2 di
atas menunjukkan bahwa dari 140 responden yang diteliti, lebih banyak yang
tidak mengalami asfiksia sebanyak 78 orang (55,7%) dibandingkan yang mengalami
asfiksia sebanyak 62 orang (44,3%).
4.
Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan Dengan Nilai Apgar Pada Bayi
Baru Lahir
Untuk mengetahui
hubungan antara hipertensi dalam kehamilan dengan nilai Apgar pada bayi baru
lahir dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut :
Tabel 4.3 Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan Dengan Nilai
Apgar Pada Bayi Baru Lahir di RSUP NTB Tahun 2014.
|
No
|
Status Ibu
|
Nilai Apgar
|
Jumlah
|
P value
|
|
Asfiksia
|
Tidak
Asfiksia
|
|
n
|
%
|
n
|
%
|
n
|
%
|
0,000
|
|
1
|
HDK
|
58
|
82,9
|
12
|
17,1
|
70
|
100,0
|
|
2
|
Tidak HDK
|
4
|
5,7
|
66
|
94,3
|
70
|
100,0
|
|
Jumlah
|
62
|
44,3
|
78
|
55,7
|
140
|
100,0
|
Tabel 4.3 di
atas menunjukkan bahwa kejadian asfiksia pada ibu yang mengalami HDK sebanyak
58 orang (82,9%) lebih besar dibandingkan yang tidak mengalami HDK sebanyak 4
orang (5,7%) sedangkan yang tidak asfiksia pada ibu yang tidak mengalami HDK
sebanyak 66 orang (94,3%) lebih besar dibandingkan yang mengalami HDK sebanyak
12 orang (17,1%).
Hasil analisis
statistik dengan menggunakan uji chi
square diperoleh nilai p value
sebesar 0,000 dengan taraf signifikan 0,05
(p < α), karena 0,000 < 0,05, artinya ada hubungan antara kejadian
hipertensi dalam kehamilan dengan nilai apgar pada bayi baru lahir di RSUP
Provinsi NTB Tahun 2015.
B. Pembahasan
1.
Kejadian Hipertensi Dalam Kehamilan
Hasil penelitian
yang telah dilakukan di RSUP NTB menunjukkan bahwa dari 140 responden, yang
mengalami hipertensi dalam kehamilan dan yang tidak mengalami hipertensi dalam
kehamilan masing-masing sebanyak 70 orang (50,0%).
Berdasarkan
hasil penelitian tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa terjadinya hipertensi
dalam kehamilan pada ibu di RSUP NTB dipengaruhi oleh beberapa keadaan yaitu
lebih sering pada primigravida, patologi terjadi akibat implitasi sehingga
timbul iskemia plasenta yag diikuti sindrom inflamasi, resiko meningkat pada
masa plasenta besar diabetes melitus faktor herediter dan masalah vaskuler.
Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan penanganan yang
bertujuan untuk mencegah terjadinya hipertensi dalam kehamilan yang lebih parah
yaitu eklampsia ibu hamil diharapkan mampu melahirkan bayi hidup dengan trauma
seminimal mungkin pada bayi maupun ibu sendiri (Saefudin, 2001).
Menurut Murbawi
(2003), penanganan hipertensi dalam kehamilan dapat dilakukan dengan menganjurkan
ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi, rendah lemak, karbohidrat,
mengurangi garam dan memperbanyak sayuran serta buah segar. Jika hal ini
kondisi ibu tidak membaik walau sudah diberi obat-obatan, kehamilan harus
segera diakhiri meskipun janin masih belum mencukupi.
Hasil penelitian
ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa penyakit hipertensi dalam
kehamilan merupakan komplikasi yang serius trimester kedua-ketiga dengan gejala
klinis seperti: odema hipertensi ,proteinuria, kejang sampai koma dengan umur
kehamilan di atas 20 minggu, dan dapat terjadi antepartum, intrapartum,
pascapartus (Manuaba, 2001)
Hasil penelitian
ini didukung oleh penelitiannya Suryati (2012) tentang “Faktor-faktor Yang
Berhubungan dengan Hipertensi Dalam Kehamilan di Rumah Sakit Umum Madapangga”
dari hasil penelitiannya tersebut diketahui bahwa sampel yang mengalami
hipertensi dalam kehamilan dan yang tidak mengalami hipertensi dalam kehamilan
masing-masing berjumlah 70 orang (50,0%). Dalam penelitiannya tersebut
dikatakan bahwa masih adanya ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan
disebabkan karena ibu tidak bisa menjaga kehamilannya dengan baik.
2.
Nilai Apgar
Hasil penelitian
yang telah dilakukan di RSUP NTB menunjukkan bahwa dari 140 responden, lebih
banyak yang tidak mengalami asfiksia sebanyak 78 orang (55,7%) dibandingkan
yang mengalami asfiksia sebanyak 62 orang (44,3%).
Hal ini berarti bahwa penilaian
apgar sesaat setelah bayi baru lahir perlu dilakukan untuk menilai keadaan bayi
tersebut secara menyeluruh sehingga dapat ditentukan secara cepat apakah bayi
memerlukan tindakan medis segera. Selain itu, penilaian melalui apgar score
juga sangat diperlukan untuk mengetahui apakah bayi yang dilahirkan oleh ibu
mengalami asfiksia atau tidak. Namun, jika dilihat dari hasil penelitian yang
telah dilakukan di Ruang VK Teratai RSUP NTB ditemukan bahwa sebagian besar
sampel yang diteliti tidak mengalami asfiksia sebanyak 78 orang (55,7%),
hal ini disebabkan karena pada saat persalinan ibu tidak mengalami komplikasi,
sehingga pertukaran gas serta transport O2 dari ibu ke janin tidak
mengalami gangguan. Akan tetapi, ada juga ibu yang mengalami asfiksia, hal ini
terjadi karena pada saat hamil ibu menderita beberapa kelainan yang beresiko
terjadinya hipoksia janin dan menyebabkan terjadinya asfiksia neonatorum
(Mansjoer, 2009).
Hal
ini sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa pada kondisi tertentu pada ibu yang mengalami komplikasi
terjadi gangguan sirkulasi darah uteroplasenta sehingga pasokan oksigen ke bayi
menjadi berkurang. Hipoksia bayi dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin
yang dapat berlanjut menjadi asfiksia pada bayi baru lahir. Gangguan pertukaran
gas dan transport O2 dapat terjadi karena kelainan dalam kehamilan
atau persalinan. Dengan semakin turunnya tekanan O2 atau dengan
adanya kekurangan nutrisi, maka akan terjadi perubahan metabolisme dari aerobik
menjadi anaerobik dalam pemecahan glukosa atau glikogen (melalui tes) dan
protein. Glukosa yang pertama akan dipecah adalah cadangan dalam lever atau
hati dan lemak diubah menjadi glukosa. Apabila keadaan ini terus terjadi maka
akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi maka akan
menyebabkan asfiksia pada bayi baru lahir (Mansjoer, 2009).
Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitiannya Lia Rahman (2014) tentang “Hubungan
Preeklampsia Berat dengan Kejadian Asfiksia di RSUD Kota Malang” hasil penelitiannya diketahui bahwa sebagian besar ibu
yang diteliti tidak mengalami asfiksia sebesar 73,1%
dan yang mengalami asfiksia sebesar 26,9%. Dalam penelitiannya juga dikatakan bahwa
komplikasi pada ibu
bisa mengakbatkan terjadinya hipoksia
janin yang dapat mempengaruhi terjadinya
gangguan pertukaran oksigen dari ibu ke janin.
3.
Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan dengan Nilai Apgar
Pada Bayi Baru Lahir
Hasil penelitian
yang telah dilakukan di RSUP NTB menunjukkan bahwa kejadian asfiksia pada ibu
yang mengalami HDK sebanyak 58 orang (82,9%) lebih besar dibandingkan yang
tidak mengalami HDK sebanyak 4 orang (5,7%) sedangkan yang tidak asfiksia pada
ibu yang tidak mengalami HDK sebanyak 66 orang (94,3%) lebih besar dibandingkan
yang mengalami HDK sebanyak 12 orang (17,1%). Sedangkan dari hasil analisisnya
menunjukkan ada hubungan antara kejadian hipertensi dalam kehamilan dengan
nilai apgar pada bayi baru lahir di RSUP Provinsi NTB Tahun 2015 dengan nilai p value sebesar 000 < 0,05.
Hal ini
menunjukkan ditemukannya hubungan antara variabel hipertensi dalam kehamilan
dengan nilai apgar pada bayi baru lahir disebabkan karena sebagian besar ibu
yang hipertensi dalam kehamilan memiliki bayi asfiksia. Hipertensi dalam
kehamilan merupakan komplikasi yang meliputi 10% dari jumlah seluruh kehamilan.
Terjadinya hipertensi dalam kehamilan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :
kadar nitrat oksida rendah pada vaskuler maternal dan fetal sehingga terjadi
disfungsi endothel yang berakibat hipertensi dan insufisiensi darah fetal
plasenta, insufisiensi kalsium, ketidakseimbangan prostaglandin, gangguan
sistem renin angiotensin dan resistensi insulin (Saefudin, 2006)
Selain itu
hipertensi dalam kehamilan bisa mengakibatkan terjadinya gangguan pada
sirkulasi fetal plasental yang menimbulkan asfiksia neonatus dan terjadi
resusitasi. Cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi neonatus dan evaluasi
adekuat atau tidaknya resusitasi yang diberikan ditentukan melalui nilai apgar
yaitu suatu metode cepat yang dapat digunakan untuk menilai keadaan bayi yang
baru lahir dan diterapkan pada menit pertama dan menit kelima sesudah kelahiran
(Prawirohardjo, 2009).
Hasil penelitian
ini sejalan dengan penelitiannya Eka Wijayanti (2011), dari hasil penelitian
dan analisa yang digunakan menggunakan uji Koefisien Korelasi diperoleh nilai
probabilias sebesar 0,034 dengan taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukkan
bahwa H0 ditolak, yang berarti bahwa ada hubungan antara hipertensi dalam
kehamilan dengan nilai apgar di RSUD Dr. R. Koesma Tuban tahun 2011.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Dari 140 responden yang diteliti di RSUP NTB, yang
mengalami hipertensi dalam kehamilan sebanyak 70 orang (50,0%).
2. Responden yang diteliti di RSUP NTB lebih banyak yang
tidak mengalami asfiksia sebanyak 78 orang (55,7%)
3. Ada hubungan antara hipertensi dalam kehamilan dengan
nilai apgar pada bayi baru lahir di RSUP NTB Tahun 2014.
B. Saran
1. Bagi
Rumah Sakit Umum Provinsi NTB dan Tenaga Kesehatan
Disarankan kepada petugas kesehatan
agar lebih meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat khususnya ibu
dengan cara memberikan penyuluhan dan konseling serta menganjurkaan semua ibu
hamil beresiko maupun risiko tinggi untuk memeriksakan kehamilannya secara
teratur minimal 4 (empat) kali selama kehamilan.
2. Bagi
Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan
sebagai tambahan referensi kepustakaan dan bahan bacaan bagi
mahasiswa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnya.
3. Bagi
Peneliti
Diharapkan
hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kejadian hipertensi dalam kehamilan dengan nilai apgar pada bayi baru lahir agar bisa diterapkan
di lingkungan masyarakat.
DAFTAR
PUSTAKA
Dikes Provinsi NTB. 2012. Profil Dinas Kesehatan Provinsi NTB.
Pemerintah Provinsi NTB, Mataram.
Ellya, Eva Sibagariang, dkk. 2010. Buku Saku Metodologi Penelitian. CV.
Trans Info Medika, Jakarta.
Fuji Indriani Rahayu. 2011. Hubungan usia dan Paritas dengan kejadian
hipertensi dalam kehamilan. Ruang Teratai RSUP NTB, Mataram.
Manuaba, I.B.G, dkk. 2012. Pengantar Kulyah Obstetri. Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Mochtar, Rustam. 2011. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi,Obstetri Patologi. Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Nanny, Vivian Lia Dewi. 2011. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita.
Salemba Medika, Jakarta.
Ni Nyoman Sri Sukarthi. 2013. Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan Dengan
Kejadian Preeklamsi. Ruang Bersalin RSUD Tripat Gerung, Lombok Barat.
Notoatmodjo S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka cipta, Jakarta
Paket Pelatihan Pelayanan Obstetri dan
Neonatal Emergensi Dasar (PONED), 2008.
Rioni Sanjaya. 2008. Hubungan Hipertensi Gestasional Dengan Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir. RSU
Yani Metro, Tanjung Karang.
RSUP NTB, 2012. Rekam Medik. Ruang Rekam Medik RSUP NTB, Mataram
RSUP NTB, 2013. Rekam Medik. Ruang Rekam Medik RSUP NTB, Mataram
RSUP NTB, 2012. Register Harian Ruang Bersalin RSUP NTB.
RSUP NTB, 2012. Register Harian Ruang Bersalin RSUP NTB.
Rukiyah, Ai Yeyeh, Lia Yulianti. 2010. Askeb Patologi Kebidanan, Trans Info
Media, Jakarta.
Rukiyah, Ai Yeyeh,
dkk. 2010. Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita. Trans Info Media, Jakarta.
Sarwono Prawirohardjo. 2009. Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta.
Saifuddin, Abdul Bari. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohadjo, Jakarta.
| MASTER
TABEL |
|
|
|
|
|
|
| HUBUNGAN HIPERTENSI
DALAM KEHAMILAN DENGAN NILAI APGAR |
| DI RUMAH SAKIT UMUM
PROVINSI NTB |
| TAHUN 2014 |
|
|
|
|
|
|
| No |
No. RM |
Diagnosa |
Kategori |
Nilai Apgar |
Kategori |
| 1 |
505398 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 2 |
515299 |
150/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 3 |
509899 |
170/130
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 4 |
74299 |
140/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 5 |
515473 |
160/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 6 |
529174 |
150/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 7 |
75073 |
180/140
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 8 |
517771 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 9 |
509071 |
150/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 10 |
84072 |
160/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 11 |
507873 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 12 |
508987 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 13 |
512087 |
160/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 14 |
522687 |
160/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 15 |
73787 |
160/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 16 |
509589 |
160/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 17 |
519489 |
170/130
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 18 |
508789 |
150/130
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 19 |
504462 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 20 |
526156 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 21 |
87128 |
190/140
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 22 |
510659 |
140/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 23 |
514159 |
140/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 24 |
517129 |
150/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
5-6 |
Tidak
Asfiksia |
| 25 |
524550 |
150/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 26 |
529440 |
150/130
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 27 |
514401 |
170/130
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 28 |
517200 |
170/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 29 |
514802 |
160/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 30 |
505702 |
160/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 31 |
512415 |
140/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 32 |
520815 |
140/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 33 |
512476 |
140/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 34 |
515677 |
150/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 35 |
517078 |
150/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 36 |
88479 |
150/130
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 37 |
515080 |
160/130
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 38 |
517881 |
170/140
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 39 |
515481 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 40 |
528882 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 41 |
507083 |
140/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 42 |
517184 |
150/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 43 |
525784 |
150/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 44 |
528085 |
150/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 45 |
502387 |
160/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 46 |
507582 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 47 |
520182 |
150/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 48 |
516282 |
150/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 49 |
80283 |
140/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 50 |
82344 |
160/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 51 |
91744 |
160/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 52 |
74803 |
170/130
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 53 |
88003 |
170/130
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 54 |
522604 |
180/140
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 55 |
512906 |
180/140
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 56 |
523707 |
150/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 57 |
523107 |
140/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 58 |
11608 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 59 |
514308 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 60 |
518910 |
150/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 61 |
518507 |
140/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 62 |
527507 |
140/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 63 |
526727 |
150/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 64 |
514528 |
150/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 65 |
509023 |
160/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 66 |
511723 |
160/110
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 67 |
519342 |
170/120
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 68 |
514143 |
150/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 69 |
513144 |
140/100
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 70 |
516126 |
140/90
mmHg |
Hipertensi
Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 71 |
503627 |
130/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 72 |
87033 |
120/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 73 |
81633 |
100/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 74 |
86132 |
110/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 75 |
505634 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 76 |
527475 |
120/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 77 |
507475 |
120/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 78 |
528576 |
120/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 79 |
519476 |
100/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 80 |
77089 |
100/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 81 |
82226 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 82 |
509525 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 83 |
512261 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 84 |
79240 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 85 |
506064 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 86 |
521521 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 87 |
523943 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 88 |
517843 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 89 |
504111 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 90 |
515711 |
100/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 91 |
502011 |
100/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 92 |
515113 |
130/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 93 |
509214 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 94 |
514915 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 95 |
502610 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 96 |
48310 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 97 |
71411 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 98 |
527444 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 99 |
504646 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 100 |
510547 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 101 |
512247 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 102 |
75047 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 103 |
507847 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 104 |
506135 |
100/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 105 |
516635 |
100/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 106 |
514535 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 107 |
505936 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 108 |
528339 |
100/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 109 |
516334 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
4-6 |
Asfiksia |
| 110 |
508016 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 111 |
504518 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 112 |
90618 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 113 |
529207 |
130/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 114 |
515408 |
100/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 115 |
82325 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 116 |
505026 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 117 |
507526 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 118 |
509130 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 119 |
525630 |
100/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 120 |
517530 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 121 |
508133 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
6-8 |
Tidak
Asfiksia |
| 122 |
509933 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 123 |
515448 |
130/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 124 |
525248 |
130/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 125 |
526136 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 126 |
518939 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
0-3 |
Asfiksia |
| 127 |
507039 |
100/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 128 |
503283 |
100/60
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 129 |
525784 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 130 |
525997 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 131 |
522687 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 132 |
527488 |
100/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 133 |
511842 |
130/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 134 |
523107 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 135 |
527594 |
100/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 136 |
518846 |
100/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 137 |
84930 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 138 |
517129 |
110/70
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 139 |
820840 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |
| 140 |
525527 |
120/80
mmHg |
Tidak
Hipertensi Dalam Kehamilan |
7-9 |
Tidak
Asfiksia |