Selasa, 05 September 2017

KUESIONER KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET Fe



Kuisioner Kepatuhan
Jawablah pertanyaan kuisioner di bawah ini dengan sebenar-benarnya dengan memberikan tanda checklist (√) pada tempat yang disediakan. Semua pertanyaan diisi dengan satu jawaban.
Keterangan: Ya = 1
                    Tidak = 0
NO
Pertanyaan
Ya
Tidak
1.
Meminum tablet Fe dengan teratur tanpa diingatkan oleh keluarga


2.
Meminum tablet Fe sesuai dengan dosis yang telah diberikan


3.
Tidak menghentikan konsumsi tablet Fe sebelum waktunya


4.
Keluarga selalu mengingatkan untuk meminum tablet Fe


5.
Apakah yakin dengan manfaat meminum tablet Fe


6.
Meminum tablet Fe bersama dengan kopi


7.
Setiap minum tablet Fe merasa mual


8.
Apakah anda mengetahui apa dampak jika kekurangan zat besi (Fe)


9.
Apakah tablet Fe anda minu setiap hari


10.
Apakah anda mengetahui efek samping setelah minum tablet Fe


Sumber : (Fitriyani, 2015)
Dikategorikan benar jika memenuhi kriteri baik yaitu 65% atau menjawab 7 soal dengan jawaban “Ya”.

Jumat, 19 Februari 2016

HUBUNGAN HIPERTENSI DALAM KEHAMLAN (HDK) DENGAN NILAI APGAR DI RSUP NTB TAHUN 2014



KARYA TULIS ILMIAH

HUBUNGAN HIPERTENSI DALAM KEHAMLAN (HDK) DENGAN NILAI APGAR DI RSUP NTB
TAHUN 2014


Disusun Untuk Memenuhi Ketentuan Melakukan Kegiatan Penyusunan  Karya Tulis Ilmiah Sebagai Persyaratan Mencapai Derajat Diploma III Kesehatan Jurusan Kebidanan








Diajukan Oleh :

NORA TRI DAMAYANTI
NIM. P07124012413






KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN KEBIDANAN
2015
LEMBAR PERSETUJUAN

HUBUNGAN HIPERTENSI DALAM KEHAMLAN (HDK)
DENGAN NILAI APGAR DI RSUP NTB
TAHUN 2014

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III (DIII) Kesehatan Jurusan Kebidanan
Tahun Akademik  2014/2015



Oleh :

NORA TRI DAMAYANTI
NIM. P 07124012 413



Mataram,      September 2015


Menyetujui,

Pembimbing I


( Linda Meliati, S. SiT., M.Kes. )
NIP: 197707052006042001
Pembimbing II


( Rita Sopiatun, SST. MPH. )
NIP.197901202001122002





LEMBAR PERSETUJUAN

HUBUNGAN HIPERTENSI DALAM KEHAMLAN (HDK)
DENGAN NILAI APGAR DI RSUP NTB
TAHUN 2014

Oleh :

NORA TRI DAMAYANTI
NIM. P 07124012 413

Telah dipertahankan di Depan Dewan Penguji
Pada Tanggal      September 2015


SUSUNAN DEWAN PENGUJI


Ketua Pengji


Linda Meliati, SSiT. M.Kes                                 
NIP. 197707052006042001

Penguji I


Hj. Siti Aisyah, S.Pd. M.Kes                               
NIP. 19560414 198103 2001

Penguji II


Rita Sopiatun, SST. MPH                                   
NIP. 197901202001122002


Mengetahui,
Ketua Jurusan Kebidanan
Politeknik Kesehatan Mataram




Hj. Siti Aisyah, S.Pd.M.Kes.
NIP. 195604141981032001
ABSTRAK


NORA TRI DAMAYANTI. Hubungan Hipertensi Dalam Kehamlan (HDK) Dengan Nilai Apgar DI RSUP NTB Tahun 2014 (Dibawah Bimbingan Linda Meliati, S. SiT., M.Kes. dan Rita Sopiatun, SST. MPH. )

Berdasarkan data yang diperoleh di RSUP NTB kejadian persalinan yang disertai komplikasi dengan hipertensi dalam kehamilan pada tahun 2014 komplikasi dengan HDK didapatkan 70 kasus (7,02%) dari 966 kasus komplikasi, asfiksia bayi baru lahir 137 kasus (13,07%)dari 1048 angka kelahiran dan kasus HDK yang menyebabkan asfiksia bayi baru lahir yaitu 33 kasus (35,38%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan Nilai Apgardi Rumah Sakit Umum Provinsi NTB tahun 2014. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Populasinya adalah semua ibu bersalin yang mengalami komplikasi di RSUP NTB tahun 2014 yaitu sebanyak 966 kasus. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu : teknik total sampling untuk sampel kasus sebanyak 70 orang dan teknik sistematik random sampling untuk sampel kontrol sebanyak 70 orang sehingga jumlah sampel yang  digunakan dalam penelitian ini sebanyak 140 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat bantu rekam medik dan buku register. Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji chi square.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 140 responden yang diteliti di RSUP NTB, yang mengalami hipertensi dalam kehamilan sebanyak 70 orang (50,0%), tidak asfiksia sebanyak 78 orang (55,7%) dan ada ada hubungan antara hipertensi dalam kehamilan dengan nilai apgar pada bayi baru lahir di RSUP NTB Tahun 2014. Disarankan kepada petugas kesehatan agar lebih meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat khususnya ibu dengan cara memberikan penyuluhan dan konseling serta menganjurkaan semua ibu hamil beresiko maupun risiko tinggi untuk memeriksakan kehamilannya secara teratur minimal 4 (empat) kali selama kehamilan


Kata Kunci : Hipertensi Dalam Kehamilan, Nilai Apgar



KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayahNya sehingga dapat terselesaikan  Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul  "Hubungan Hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUP NTB Tahun 2014" sebagai salah satu persyaratan Akademik dalam rangka menyelesaikan kuliah Program DIII Kebidanan Politeknik Kesehatan Mataram.
Pada kesempatan ini penulis  menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada yang terhormat :
1.     H. Awan Dramawan, S.Pd,M.kes, selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Mataram.
2.     Hj. Siti  Aisyah, S.Pd.,M.Kes, selaku Ketua  Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Mataram.
3.     Rita Sopiatun, SST.MPH, selaku Ketua Program Studi yang telah banyak memberikan masukan dan arahan untuk menyempurnakan  Karya Tulis IImiah ini.
4.     Linda Meliati, S.SiT.,M.Kes, selaku Pembimbing Utama yang telah banyak memberikan bimbingan.
5.     Semua Dosen di Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan Mataram yang banyak memberikan bekal pengetahuan dan wawasan kepada penulis.
6.     Seluruh tenaga kesehatan RSUP NTB yang membantu penulis dalam memberikan infomasi yang berhubungan dengan penelitian ini.
7.     Orang tua dan saudara tercinta yang selalu memberikan dukungan moril, dan do’a demi kelancaran penelitian ini.
8.     Teman-teman seangkatan yang telah memberikan saran dan masukan dalam penyusunan  Kaya Tulis IImiah ini.
9.     Seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan  Karya Tulis IImiah ini.
Akhirnya penulis mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun dan semoga  Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.


Mataram,     September 2015



Penulis







DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................. iii
ABSTRAK............................................................................................................. iv
KATA PENGANTAR ............................................................................................ v
DAFTAR ISI ........................................................................................................ vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR  ............................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. ...... 1
A.   Latar Belakang . .......................................................................... ...... 1
B.   Rumusan Masalah .................................................................... ...... 5
C.   Tujuan Penelitian ...................................................................... ...... 5
D.   Manfaat Hasil Penelitian .......................................................... ...... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... ...... 7
A.   TINJAUAN TEORI.......................................................................       7                  
1.    Konsep Dasar Hipertensi Dalam Kehamilan................................... 7
2.    Nilai Apgar...................................................................................... 19
3.    Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan Dengan Asfiksia Bayi Baru Lahir         ....................... 22
B.   Kerangka Konsep............................................................................ 24
C.   Hipotesa........................................................................................ .... 24
BAB III METODELOGI PENELITIAN........................................................     25
A.   Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................... .... 25
B.   Jenis dan Desain Penelitian .................................................... .... 25
C.   Populasi dan Sampel ................................................................ .... 26
D.   Variabel  Penelitian ................................................................... .... 28
E.   Teknik  Pengumpulan Data ..................................................... .... 29
F.    Pengolahan dan Analisa Data  ............................................... .... 30
G.   Definisi Operasional Variabel .................................................. .... 32
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. .... 33
A.   Hasil Penelitian .............................................................................. .     33
B.   Pembahasan ................................................................................. .     37
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ .... 44
A.     Kesimpulan ................................................................................... .     44
B.     Saran ............................................................................................ .     44
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN




DAFTAR TABEL

                                                                                 Halaman

Tabel 3.1  Definisi Operasional .................................................................      40

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Hipertensi Dalam Kehamilan di Ruang Bersalin RSUP NTB Tahun 2014................................................ 35

Tabel 4.2  Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Nilai Apgar Pada Bayi Baru Lahir di Ruang Bersalin RSUP NTB Tahun 2014................................... 36

Tabel 4.3  Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan Dengan Nilai Apgar Pada Bayi Baru Lahir di RSUP NTB Tahun 2014................................................................ 37

........




























DAFTAR GAMBAR

                                       Halaman
Gambar 2.1 Nilai Apgar..................................................................................... 25

Gambar 2.2 Gambaran klinis Asfiksia............................................................ 26

Gambar 2.3 Kerangka konsep......................................................................... 31






































DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran 1. Surat Izin pengampilan data

Lampiran 2. Master Tabel

Lampiran 3. Lembar Konsultasi

Lampiran 4. Output SPSS




BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Kehamilan merupakan suatu proses yang dialami oleh seluruh wanita di dunia. Melewati proses kehamilan seorang wanita harus mendapat penatalaksanaan yang benar, karena ini semua berpengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas ibu. Pemerintah Indonesia telah merencanakan MakingPregnancy Safer (MPS) yang merupakan bagian dari safe motherhood, yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi  dengan pelaksanaan sesuai dengan tiga kunci MPS, yaitu : (1) setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih, (2) setiap komplikasi obstetrik dan neonatal  mendapatkan pelayanan yang akurat,  (3) setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan  penanganan komplikasi keguguran (Depkes RI, 2010). 
Menurut World Health Organization (WHO) diperkirakan  paling sedikit 600.000 ibu meninggal pertahun. Kematian ini merupakan akibat langsung dari kehamilan dan persalinan. Di Indonesia masih terdapat 18.000 ibu yang meninggal setiap tahun akibat komplikasi hamil dan melahirkan. Dari hasil penelitian yang dilakukan diseluruh dunia bahwa 99% dari seluruh kematian ibu terjadi di negara sedang berkembang termasuk di Indonesia, di negara maju kematian ibu sangat sedikit atau hampir tidak ada. Hal ini memberi kejelasan bahwa setiap kematian ibu sesungguhnya dapat di hindari atau di cegah (Amelda, 2008). Sedangkan berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukan bahwa secara nasional Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah359/100.000 kelahiran hidup, jika dibandingkan AKI2007 sebesar 228//100.000 kelahiran hidup, AKI tersebut meningkat dan masih jauh dari target Millenium Development Goal’s (MDGs) 2015 yaitu 102/100.000 kelahiran hidup sehingga memerlukan usaha dari  semua komponen untuk mencapai target tersebut, sedangkan angka kematian bayi hasil SDKI 2012 lebih rendah dari hasil SDKI 2007, hasil SDKI 2012 adalah 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup dan kematian balita adalah 40 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Sama dengan pola SDKI 2007, lebih dari tiga perempat  dari semua kematian balita terjadi dalam tahun pertama kehidupan anak dan mayoritas kematian bayi terjadi pada periode neonatus (Depkes RI, 2012).
Menurut Dikes Provinsi NTB tahun 2012 penyebab utama kematian ibu melahirkan yang sudah diidentifikasi adalah abortus 4 kasus (3%), perdarahan42 kasus (32,31%), partus lama 1 kasus (1%), yang mencakup HDK)/preeklampsia/eklampsia yaitu 38 kasus (29%), infeksi 4 kasus (3%), lain-lain 41 kasus (31,54%). Dan angka kematian bayi di NTB tahun 2012 tercatat 1058 kasus. Angka komplikasi neonatal yang tercatat pada laporan Dikkes Provinsi sangat tinggi mencapai 8880 kasus (54,05%). BBLR menduduki peringkat pertama menyumbang angka kematian bayi yaitu 501 kasus (50%), diikuti asfiksia 212 kasus (21%), cacat bawaan sebanyak 112 kasus (11%), infeksi 56 kasus (5,29%) dan penyebab lainnya 112 kasus (12%) (Dikes NTB, 2012).
Sedangkan pada tahun 2013 penyebab utama kematian ibu yang sudah di identifikasi yaitu perdarahan hamil muda/abortus /KET/ mola 2 kasus (1,7%), perdarahan APB/HPP 38 kasus (32,47%),infeksi 7 kasus (5,98%), hipertensi dalam kehamilan (HDK) / hipertensi kronis/ hipertensi dengan protein urin/eklamsia/sindrom hellp 34 kasus (29,05%), emboli 7 kasus (5,98%) dan lain-lain 29 kasus (24,78%). Dan penyebab angka kematian bayi pada tahun 2013 yaitu BBLR 508 kasus (51,10%), asfiksia 193 kasus (19,41%), tetanus 4 kasus (0,49%), sepsis 35 kasus (3,52%), kelainan kongenital 117 kasus (11,77%), ikterus 11 kasus (1,10%) dan lain-lain 126 kasus (12,67%) (Dikes NTB, 2013).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ni Nyoman Sri Sukarthi di ruang bersalin RSUD TRIPAT Gerung tahun 2013, tentang hubungan Hipertensi dalam kehamilan dengan kejadian Preeklamsia  diperoleh kasus Hipertensi dalam kehamilan pada tahun 2010 yaitu 15 (1.7%) kasus, meningkat menjadi 24 (1.8%) kasus pada tahun 2011, dan pada tahun 2012 meningkat lagi menjadi 35 (2.3%) kasus (Ni Nyoman Sri Sukarthi, 2013).
Hipertensi gestasional merupakan 5-15%penyulit kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas dari ibu bersalin. Di Indonesia mortalitas dan morbiditas hipertensi gestasional juga masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh selain etiologi tidak jelas, juga oleh perawatan dalam persalinan masih ditangani oleh petugas non medik dan sistem rujukan yang belum sempurna. Hipertensi dalam kehamilan dapat dialami oleh semua lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang pengelolaan hipertensi gestasional harus benar-benar dipahami oleh semua tenaga medik baik di pusat maupun di daerah. (Sarwono Prawirohardjo. 2009).
Keadaan ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan dapat mengakibatkan aliran darah ibu melalui plasenta berkurang, sehingga aliran oksigen ke janin berkurang sehingga akan mengakibatkan gawat janin dan akan berlanjut sebagai asfiksia bayi baru lahir (Buku PONED, 2008).
Hasil dari pengambilan data kasus di RSUP NTB kejadian persalinan yang disertai komplikasi dengan hipertensi dalam kehamilan pada tahun 2012 di dapatkan 73 kasus (3,92%) dari 1860 kasus komplikasi,asfiksia bayi baru lahir didapatkan 1363 kasus (46,87%) dari 2908 angka kelahiran, dan kasus hipertensi dalam kehamilan yang menyebabkan asfiksia bayi baru lahir yaitu 18 kasus (24,65%), dan  pada tahun 2013 komplikasi dengan hipertensi dalam kehamilan didapatkan 65 kasus (3,92%) dari 1654 kasus komplikasi, asfiksia bayi baru lahir 411 kasus (14,80%) dari 2776 angka kelahiran dan kasus hipertensi dalam kehamilan yang menyebabkan asfiksia bayi baru lahir yaitu 23 kasus (35,38%).Sedangkan pada tahun 2014 komplikasi dengan HDK didapatkan 70 kasus (7,02%) dari 966 kasus komplikasi, asfiksia bayi baru lahir 137 kasus (13,07%)dari 1048 angka kelahiran dan kasus HDK yang menyebabkan asfiksia bayi baru lahir yaitu 33 kasus (35,38%). Berdasarkan data tersebut, peneliti tertarik untuk melaksanakanpenelitian dengan judul “Hubungan Hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan Nilai Apgardi Rumah Sakit Umum Provinsi NTB tahun 2014”.

B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas dapat dirumuskan permasalahan:  "Apakah Ada Hubungan Hipertensi dalam Kehamilan (HDK) dengan Nilai Apgar di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB Tahun 2014?

C.   Tujuan
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan Nilai Apgar di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB Tahun 2014.

2.    Tujuan Khusus
a.    Mengidentifikasi kejadian hipertensi dalam kehamilan (HDK) di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB Tahun 2014.
b.    Mengidentifikasi Nilai Apgar pada bayi baru lahir di RSUP NTB  Tahun 2014.
c.    Menganalisa hubungan hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan Nilai Apgar di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB Tahun 2014.

D.   Manfaat
1.      Bagi Rumah Sakit Umum Provinsi NTB dan Tenaga Kesehatan
Diharapkan menjadi salah satu acuan kepada Pihak rumah sakit dan tenaga kesehatan yang bekerja agar dapat melaksanakan tindakan penanganan terhadap ibu dan bayi yang mengalami komplikasi sesuai dengan protap yang telah ada.
2.      Bagi Institusi
            Memberikan masukan tentang penyakit hipertensi dalam kehamilan dan asfiksia pada bayi baru lahir agar dapat dijadikan penambahan bahan referensi perpustakaan.
3.      Bagi Peneliti
            Menambah wawasan dan pengetahuan penulis khususnya tentang Karya Tulis Ilmiah yang berjudul Hubungan Hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan Nilai Apgar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.   Konsep Teori
1.    Hipertensi Dalam Kehamilan
a.    Pengertian Hipertensi Dalam Kehamilan
1)    Hipertensi gestasional (disebut juga transient hypertension) adalah hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai dengan proteinuria danhipertensi menghilang setelah 3 bulan pasca persalinan atau kehamilan dengan tanda-tanda preeklamsi tetapi tanpa proteinuria. (Sarwono Prawirohardjo, 2009).
2)    Hipertensi gestasional (HDK) adalah kenaikan tekanan darah diastolik 15 mmHg atau >90 mmHg dalam 2 pengukuran berjarak 1 jam atau tekanan darah diastolik sampai 110 mmHg. Tekanan darah diatolik merupakan indikator dalam penanganan hipertensi dalam kehamilan karena tekanan darah diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak tergantung keadaan emosional pasien (Saifuddin, 2006).
3)   
7
Hipertensi dalam kehamilan yaitu hipertensi pada kehamilan yang timbul pada trimester akhir kehamilan, namun tanpa disertai gejala dan tanda preeklamsia, bersifat sementara dan tekanan darah kembali normal setelah melahirkan (postpartum). Hipertensi gestasional berkaitan dengan timbulnya hipertensi kronik suatu saat di masa yang akan datang.
b.    Etiologi
Bagaimana kehamilan memicu atau memperparah hipertensi masih belum terpecahkan walaupun sudah dilakukan riset yang intensif selama beberapa dekade dan gangguan hipertensi masih merupakan salah satu masalah yang signifikan dalam Ilmu Kebidanan (Saifuddin, 2006).
Hipertensi karena kehamilan lebih sering pada primigravida. Patologi telah terjadi akibat implantasi sehingga timbul iskemi plasenta yang diikuti syndrom inflamasi, resiko meningkat pada masa plasenta besar (pada gemeli, penyakit trofoblas, diabetes melitus, ishoimunisasi rhesus, faktor herediter dan masalah vaskuler). Hipertensi karena kehamilan dan preeklampsi ringan sering ditemukan tanpa gejala kecuali meningkatnya tekanan darah. Prognosis menjadi buruk bila terdapat proteinuria, edema tidak lagi menjadi suatu tanda yang sahih untuk preeklamsi (Saifuddin, 2006).
c.    Patofisiologi
Menurut Sarwono Prawirahardjo (2009), penyebab hipertensi dalam kehamilan hingga kini belum diketahui dengan jelas. Banyak teori yang telah dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan tetapi tidak ada satupun teori tersebut yang dianggap mutlak benar. Teori sekarang yang banyak di anut adalah :
1)    Teori iskemia plasenta, radikal bebas, dan disfungsi endotel
a)    Iskemia plasenta dan pembentukan oksidan/radikal bebas sebagaimana yang dijelaskan di teori invasi trofoblast, pada hipertensi dalam kehamilan terjadi kegagalan remodelig arteri spiralis dengan akibat plasenta mengalami iskemia. Plasenta yang mengalami hipoksia dan iskemia akan menghasilkan oksidan (disebut  juga radikal bebas). Oksidan  atau radikal bebas adalah senyawa penerima elektron atau atom/molekul yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan. Salah satu oksidan penting yang dihasilkan plasenta iskemia adalah hidroksil yang sangat toksis, khususnya terhadap membran sel endotel pembuluh darah. Adanya radikal hodroksil dalam darah mungkin dahulu di anggap bahan toksin yang beredarr dalam darah, maka dahulu hipertensi disebut toxaemia.
b)    Peroksida lemak sebagai oksidan pada hipertensi dalam kehamilan. Pada hipertensi dalam kehamilan telah terbukti bahwa kadar oksidan, khususnya peroksida lemak meningkat, sedangkan anti oksidan misal Vitamin E pada hipertensi dalam kehamilan menurun, sehingga terjadi dominasi kadar oksidan peroksida lemak yang relatif tinggi akan beredar dalam darah dan bersifat toksis, peroksida lemak sebagai oksidan/radikal bebas akan merusak membran sel endotel.
c)    Disfungsi sel endotel
Akibat sel endotel terpapar terhadap peroksida lemak, maka terjadi kerusakan sel endotel yang dimulai dari kerusakan membran sel endotel yang menyebabkan terganggunya fungsi endotel yang mengakibatkan gangguan metabolisme prostaglandin, kerusakan pada agregasi sel-sel trombosit pada daerah endotel kapilar gramerolus, peningkatan premeabilitas kapilar, peningkatan produksi bahan vasopresor dan peningkatan vaktor koagulasi.
2)    Teori kelainan vaskularisasi placenta
Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi infasi sel-sel trofoblastPada laapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Lapisan otot arteri spiralis tidak memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi. Akbatnya arteri spiralis relatif mengalami vasokontriksi, akan terjadi kegagalan remodeling arteri spiralis sehingga aliran darah uteroplasenta menurun, dan erjadilah hipoksia dan iskemia plasenta. Dampak iskemia plasenta akan menurunkan perubahan-perubahan yang dapat menjelaskan patogenesis hipertensi dalam kehamilan selanjutnya.
3)    Teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin
Dugaan bawa faktor imunologik berperan terhadap terjadinya hipertensi dalam kehamilan terbukti dengan fakta bahwa :
a)     Primigravidaa mempunyai resiko lebih besar terjadinyyaa hipertensi dalam kehamilan dibandingkan dengan multigravida.
b)     Ibu yang multipara yang kemudian menikah lagi mempunyai resiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam kehamilan jika dibandingkan dengan suami yang sebelumnya.
4)    Teori adapptasi  kardiovaskulatori, genetik
a)    Pada hipertensi dalam kehamilan kehilangan daya refrakter terhadap bahan vasokonstriktor, dan ternyata terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan vasopresor. Artinya daya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor hilang sehingga pembuluh darah sangat peka terhadap bahan vasopresor. Peningkatan kepekaan terhadap kehamilan yang akan menjadi hipertensi dalam kehamilan.
b)    Genetik
Ada faktor keturunan dan familial dengan  model gen tunggal. Genotipe ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara familial jika dibandingkan dengan genotipe janin.
5)    Teori divisiensi gizi
Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa defisiensi gizi berperan dalam terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Suasana serba sulit mendapatkan gizi menimbulkan kenaikan insiden hipertensi dalam kehamilan. Beberapa peneliti juga menganggap  bahwa defisiensi kalsium pada diet perempuan hamil mengakibatkan resiko terjjadinya hipertensi dalam kehamilan.
6)    Teori stimulus inflamasi teori ini berdasrkan fakta bahwa lepasnya debrist trofoblast didalam sirkulasi darah merupakan rangsangan utama terjadinya proses inflamasi.
d.    Faktor Resiko
Terdapat banyak faktor resiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan, yang dapat dikelompokkan dalam faktorresiko sebagai berikut :
1)  Primigravida, primipartenitas
2)  Hiperplasentosis, misalnya : molahidatidosa, kehamilan multipel, diabetes mellitus, hidrops fetalis dan bayi besar.
3)  Umur yang ekstrim yaitu remaja dan umur 35 tahun ke atas.
4)  Riwayat keluarga pernah preeklampsia/eklampsia
5)  Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil
6)    Obesitas
(Sarwono Prawirohardjo, 2009).
e.    Gejala Klinis Hipertens Dalam Kehamilan
Berikut ini adalah gejala- gejala hipertensi dalam kehamilan atau tekanan darah tinggi pada saat kehamilan menurut antara lain adalah :
1)    Kenaikan Berat Badan
Gejala pertama yang mencurigakan adanya HDK ialah terjadi kenaikan berat badan yang melonjak tinggi dan dalam waktu singkat. Kenaikan berat badan 0,5 kg setiap minggu dianggap masih dalam batas wajar, tetapi bila kenaikan berat badan mencapai 1 kg per minggu atau 3 kg sebulan harus diwaspadai kemungkinan timbulnya HDK. Ciri khas kenaikan berat badan penderita HDK ialah kenaikan yang berlebihan dalam waktu singkat dan bukannya kenaikan berat badan yang merata sepanjang waktu kehamilan. Hal ini disebabkan oleh berat badan yang berlebihan tersebut yang merupakan akibat dari adanya penimbunan cairan/edem.
2)    Kenaikan Tekanan Darah
Gambaran klinik yang khas pada HDK yaitu ditemukannya kenaikan tekanan darah ataupun didapatkannya tekanan darah yang tinggi. Hipertensi ditegakkan apabila :
a)    Terdapat kenaikan tekanan sistolik > 30 mmHg atau tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih
b)    Bila didapatkan kenaikan tekanan diastolik lebih dari 15 mmHg atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih.
3)    Proteinuri
Proteinuri merupakan kelainan yang ditemukan pada fase lanjut dan jarang sekali ditemukan pada fase dini HDK. Dalam keadaan normal, tidak dijumpai protein dalam urin dan masih dalam batas normal bila secara kuantitatif (Esbach) dijumpai 0,3 gram/24 jam. Apabila jumlahnya di temukan melebihi 0,3 gram/24 jam maka dianggap patologis dan secara kualitatif dapat dinyatakan dengan (+1) - (+4)­
4)    Nyeri Kepala
Nyeri kepala jarang ditemukan pada HDK ringan dan lebih sering ditemukan pada HDK berat. Nyeri kepala ini dirasakan di daerah frontal atau daerah oksiput dan sukar diatasi dengan obat-obat analgesik. Bila ditemukan nyeri kepala hebat, harus berhati-hati karena ada kemungkinan akan terjadi eklamsi.
5)    Nyeri Epigastrium
Nyeri epigastrium merupakan gejala lanjut HDK dan juga merupakan gajala akan terjadi kejang. Rasa nyeri ini mungkin disebabkan oleh regangan kapsul hati sebagai akibat perdarahan atau edem hati, tetapi mungkin juga kelainannya terletak pada susunan saraf pusat.
6)    Gangguan Penglihatan
Gangguan penglihatan bervariasi dari derajat ringan sampai derajat berat yaitu dari penglihatan kabur sampai kebutaan. Penyebabnya adalah spasmus arteriol, iskernia, edem, dan pada keadaan berat dapat terjadi ablasio retina. Gangguan penglihatan ini bersifat reversibel. Jarang terjadi perdarahan atau eksudat pada retina, tetapi bila dijumpai berarti adanya hipertensi kronis
7)    Gejala Lainnya
Sejumlah gejala lain bisa mengikuti preeklamsi dan eklamsi seperti, oliguri atau anuri, edem paru sampai sianosis, dan gejala perdarahan sampai DIC. Pada umurnnya gejala-gejala ini merupakan tanda dari beratnya dan sudah lanjutnya.
(Rendi Tamara, 2011)
f.     Diagnosis
1)    Tekanan darah ≥140 mmHg untuk sistolik dan > 90 mmHg untuk diastolik dalam 2 pengukuran berjarak satu jam, atau tekanan diastolik sampai dengan 110 mmHg.
2)    Terjadi sebelum dan setelah 20 minggu
3)    Pemeriksaan laboratorium : protein uri, Na, Creatinin serum, Trombosit, Bilirubin, SGO.
4)    Pemeriksaan pendahuluan diperlukan untuk menyingkirkan penyakit yang secara sekunder dapat menyebabkan hipertensi antara lain : faal ginjal untuk mengetahui kemungkinan penyakit ginjal menahun seperti pielonefritis akut, polikstik, dll.
5)    Cultur urine : untuk mengetahui kemungkinan infeksi ginjal.
(Manuaba, 2008)
g.    Penanganan dan pengobatan HDK
Kiat Menurunkan Tekanan Darah yaitu :
1)    Turunkan Kelebihan Berat Badan
Diantara semua faktor resiko yang dapat dikendalikan, berat badan adalah salah satu yang paling erat kaitannya dengan hipertensi. Dibandingkan dengan orang yang kurus, orang yang gemuk (kelebihan berat badan) lebih besar peluangnya terkena hipertensi

2)    Olahraga
Olahraga sangat bermanfaat bagi kesehatan kardiovaskuler. Gerak fisik hingga taraf tertentu dibutuhkan tubuh untuk menjaga mekanisme pengatur tekanan darah agar tetap bekerja sebagaimana mestinya. Olahraga yang disarankan untuk ibu hamil seperti senam hamil, renang, atau gerakan statis (seperti berjalan kaki).
3)    Diet
Mengurangi asupan garam Seperti kasus hipertensi pada umumnya, pada penderita hipertensi gestasional pengurangan asupan garam dapat menurunkan tekanan darah secara nyata. Umumnya kita mengkonsumsi garam lebih banyak garam daripada yang dibutuhkan oleh tubuh. Idealnya, kita cukup menggunakan sekitar satu sendok teh saja atau sekitar 5 gram garam per hari.
4)    Memperbanyak serat Mengkonsumsi lebih banyak serat atau makanan rumahan yang mengandung banyak serat akan memperlancar buang air besar dan menahan sebagian natrium. Sebaiknya ibu hamil yang mengalami hipertensi menghindari makanan kalengan dan makanan siap saji dari restoran, yang dikuatirkan mengandung banyak pengawet dan kurang serat.
5)    Memperbanyak asupan kalium  Penelitian menunjukkan bahwa dengan mengkonsumsi 3500 miligram kalium dapat membantu mengatasi kelebihan natrium, sehingga dengan volume darah yang ideal dapat dicapai kembali tekanan yang normal.Banyak jenis buah yang dapat menurunkan tekanan darah salah satunya pisang merupakan sumber zat potasium yang dapat membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi pembekuan cairan dalam tubuh. Selain pada buah pisang potasium juga bisa ditemui pada kismis, yogurt, bit, Brussels sprout (sejenis kubis), alpukat, dan jeruk.
6)    Penuhi kebutuhan magnesium Ditemukan antara rendahnya asupan magnesium dengan hipertensi. Sumber makanan yang kaya magnesium antara lain kacang tanah, kacang polong, dan makanan laut. Kandungan asam lemak omega 3 dalam ikan dapat membantu melancarkan aliran darah dan melindungi dari efek tekanan darah tinggi serta mengurangi peradangan.
7)    Lengkapi kebutuhan kalsium  800 miligram kasium per hari (setara dengan tiga gelas susu) sudah lebih dari cukup untuk memberikan pengaruh terhadap penurunan tekanan darah.

8)    Relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau teknik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan, kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat rilek otot-otot di dalam tubuh. Teknik relaksasi dapat dilakukan dalam hipnobirting, dimana dalam relaksasi ibu hamil duduk dengan tenang, pikiran fokus, tidak menatap cahaya langsung kemudian ibu hamil dibimbing untuk melakukan relaksasi pada kelompok otot-otot secara bertahap sampai keseluruh bagian tubuh.
h.    Dampak hipertensi dalam kehamilan
1)    Pertumbuhan janin terhambat
2)    Terjadi penurunan kesadaran atau koma
3)    Terjadi gagal jantung, ginjal atau hati
4)    Terjadi koagulopati (Saifuddin, 2007)

2.    Nilai Apgar
a.      Pengertian
Apgar skor atau nilai apgar adalah suatu metode sederhana yang digunakan untuk menilai keadaan umum bayi sesaat setelah kelahiran (Prawirohardjo, 2002).
Skor apgar atau nilai apgar adalah sebuah metode yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1952 oleh Dr. Virginia Apgar sebagai sebuah metode sederhana untuk secara cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir sesaat setelah kelahiran (Wiknjosastro, 2002).
b.     Cara  Menentukan Nilai APGAR
Nilai Apgar dinilai 1 menit setelah bayi lahir lengkap, selanjutnya dilakukan pada 5 menit berikutnya karena hal ini mempunyai korelasi yang erat dengan mortalitas dan morbilitas neonatal. Nilai Apgar 1 menit menunjukkan toleransi bayi terhadap proses kelahirannya, nilai Apgar 5 menit menunjukkan adaptasi bayi terhadap lingkungan barunya (Ana Setiyana, 2009).
Tabel. 2.1 Cara menentukan nilai Apgar
Skor
0
1
2
Appearance color
(warna kulit)
Pucat
Badan merah, ekstremitas biru
Seluruh tubuh kemerahan
Pulse (heart rate) atau Frekuensi jantung
Tidak ada
< 100 x/menit
>100 x/menit
Grimace
(reaksi terhadap rangsangan)
Tidak ada
Sedikit gerakan mimic
Menangis, batuk/ bersin
Activity (tonus otot)
Lumpuh
Ekstremitas dalam fleksi sedikit
Gerakan aktif
Respiration
(usaha napas)
Tidak ada
Lemah tidak teratur
Menangis kuat


Penilaian :          0-3      = Asfiksia Berat
                    4-6      = Asfiksia Sedang
                    7-10    = Bayi Normal
c.     Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Apgar
Faktor yang mempengaruhi nilai Apgar diantaranya adalah kondisi bayi. Kondisi bayi dapat menghasilkan nilai retrospektif, yang dipengaruhi oleh kejadian berikutnya. Faktor lain yang dapat mempengaruhi penilaian, misalnya pengkajian warna dapat dipengaruhi oleh pencahayaan, pigmentasi kulit, jumlah hemoglobin dan tingkat perfusi perifer. Pigmentasi kulit pada bayi non-kulit putih biasanya akan mulai hari kelima kehidupan, tetapi bila kulit menghitam akibat pigmentasi, warna kulit dapat dikaji melalui observasi lapisan mukosa telapak tangan dan kaki, dan harus berwarna merah muda. Bayi praterm cenderung memiliki apgar score yang lebih rendah daripada bayi cukup bulan karena imaturitas neurologis mempengaruhi tonus otot, memperlambat reflek dan warna merah kebiruan pada kulit (Behrman, 2008).
Menurut Danuatmadja (2009), nilai apgar rendah dikarenakan dua hal, pertama karena janin memiliki kelainan tubuh akibat gangguan selama kehamilan, seperti prematur, bayi dengan berat lahir rendah, atau bayi dari ibu yang memiliki kelainan seperti diabetes, gangguan jantung, atau hipertensi. Penyebab kedua adalah proses persalinan yang susah atau penggunaan obat-obatan penahan sakit selama persalinan.

3.    Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan dengan Nilai Apgar
Hipertensi dalam kehamilan merupakan komplikasi yang meliputi 10% dari jumlah seluruh kehamilan. Hipertensi dalam kehamilan sampai saat ini masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas fetal dan maternal di seluruh dunia. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya hipertensi dalam kehamilan yaitu : kadar nitrat oksida rendah pada vaskuler maternal dan fetal sehingga terjadi disfungsi endothel yang berakibat hipertensi dan insufisiensi darah fetal plasenta, insufisiensi kalsium, ketidakseimbangan prostaglandin, gangguan sistem renin angiotensin dan resistensi insulin (Saefudin, 2006)
Hipertensi dalam kehamilan dikategorikan menjadi 4 bagian yaitu : hipertensi gestasional, preeklampsia - eklampsia, superimposed preeklampsia dan hipertensi kronik. Hipertensi gestasional di diagnosis pada wanita hamil dengan tekanan darah mencapai 140/90 mmHg atau lebih yang pertama kalinya selama kehamilan, namun tidak ditemukan adanya proteinuria. Kemudian pada preeklampsia terjadi sindrom spesifik pada kehamilan mengenai menuruannya perfusi organ sekunder terhadap vasospasme dan aktivitas endotel dan pada ekslampsia disertai dengan adanya kejang pada wanita dengan preeklampsia yang tidak diketahui penyebab lainnya. Sedangkan pada hipertensi kronik didiagnosis sebelum adanya kehamilan. Jika hipertensi timbul sebelum usia kehamilan 20 minggu atau jika hipertensi tetap ada setelah  6 minggu post partum (Saefudin, 2006)
Selain itu hipertensi dalam kehamilan bisa mengakibatkan terjadinya gangguan pada sirkulasi fetal plasental yang menimbulkan asfiksia neonatus dan terjadi resusitasi. Cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi neonatus dan evaluasi adekuat atau tidaknya resusitasi yang diberikan ditentukan melalui nilai apgar yaitu suatu metode cepat yang dapat digunakan untuk menilai keadaan bayi yang baru lahir dan diterapkan pada menit pertama dan menit kelima sesudah kelahiran (Prawirohardjo, 2009).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Eka Wijayanti (2011), dari hasil penelitian dan analisa yang digunakan menggunakan uji Koefisien Korelasi diperoleh nilai probabilias sebesar 0,034 dengan taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak, yang berarti bahwa ada hubungan antara hipertensi dalam kehamilan dengan nilai apgar di RSUD Dr. R. Koesma Tuban tahun 2011.





B.   Kerangka Konsep
Fakor Ibu :
1.     Preeklampsia dan eklampsia
2.      


3.     Perdarahan abnormal
4.     Partus lama atau partus macet
5.     Demam sebelum dan selama persalinan
6.     Infeksi berat
7.     Kehamilan Lebih bulan/post matur
8.     Gangguan his
9.     Usia < 20 atau > 35 tahun
10.  Gravida empat atau lebih
Faktor plasenta dan tali pusat
Faktor bayi
Nilai Apgar
2.     Hipertensi dalam kehamilan



3.     
4.     
5.    amilankehkehamilan

 












                                                                                  
Gambar 2.3 Kerangka Konsep penelitian (Notoatmodjo, 2005)
Keterangan :
                     =  variabel yang diteliti
 

                    =  variabel yang tidak ditelit

C.   Hipotesa
Hipotesis dalam penelitian ini yaitu ada hubungan antara hipertensi gestasional dalam kehamilan dengan nilai apgar pada bayi baru lahir di RSUP NTB Tahun 2014.

BAB III
METODELOGI PENELITIAN

A.   Lokasi dan Waktu Penelitian
1.    Lokasi Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah sakit umum provinsi NTB dengan pertimbangan :
a.    Tersedianya data ibu yang mengalami hipertensi gestasional
b.    Rumah Sakit Umum Provinsi merupakan salah satu rumah sakit rujukan yang masih tinggi mengalami kasus hipertensi gestasional dan asfiksia pada bayi baru lahir.
c.    Belum ada yang melakukan penelitian sebelumnya
2.    Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni 2015.

B.   Jenis Dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik Dengan rancangan (cross sectional) karena pengukuran atau pengamatannya dilaksanakan sesaat pada waktu tertentu secara bersamaan.



25
 
C.   Populasi dan Sampel
1.    Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Eva dkk, 2010 ).
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin yang mengalami komplikasi di RSUP NTB tahun 2014 yaitu sebanyak 966 kasus.
2.    Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Eva dkk, 2010).
a.     Besar Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah semua ibu bersalin yang mengalami hipertensi dalam kehamilan yaitu 70 kasus dan sebagian dari ibu bersalin yang tidak mengalami hipertensi gestasional di RSUP NTB tahun 2014 yang diambil sebanyak 70 kasus juga, jadi jumlah sampel yang akan di gunakan seluruhnya adalah 140 sampel.
b.     Tehnik pengambilan sampel
1)    Cara pengambilan sampel untuk kelompok kasus yaitu menggunakan total sampling yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.
Sebagai sampel penelitian pada kelompok kasus adalah semua ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan  sebanyak  70 orang.
2)    Kelompok kontrol
Jumlah sampel untuk  kelompok kontrol adalah 1:1 dengan kelompok kasus yaitu ibu yang mengalami komplikasi pada persalinan.
Dengan rumus :
                     N
K =
                      n

                    (966-70)
K =
                         70

                        926
K =
                         70
         K = 13,22
         K = 13
           Cara pengambilan sampel untuk kelompok kontrol menggunakan systematic random sampling yang merupakan modifikasi dari sampel random sampling yaitu dengan cara membagi jumlah populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang diinginkan.
           Jadi sampel yang di ambil untuk kelompok kontrol yaitu kelipatan 14 dari total ibu yang mengalami komplikasi (966 kasus). Kemudian bilangan 1 sampai 966 di random bila keluar angka 5 maka 5 adalah sampel pertama untuk kelipatan 13 misalnya no. 5, 18, 31 dan seterusnya sampai mencapai jumlah 70 anggota sampel.
3)     Kriteria Sampel
a)    Kriteria Inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel.
Yang menjadi kriteria inklusi adalah semua ibu bersalin yang mengalami komplikasi kehamilan.
b)   Kriteria Eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel.
Yang menjadi kriteria ekslusi adalah semua ibu bersalin yang mengalami gawat janin.

D.   Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu, misalnya umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, dan sebagainya. (Notoatmodjo, 2005)



1.    Variabel Independen
Adalah variabel bebas, sebab atau yang mempengaruhi. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen yaitu hipertensi dalam kehamilan (HDK).
2.    Variabel dependen
Adalah variabel terikat, akibat, terpengaruhi atau variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas atau variabel independen. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah nilai apgar.

E.   Teknik  Pengumpulan Data
Dalam penelitian yang akan dilakukan ini menggunakan data sekunder. Data-data  sekunder  tersebut meliputi :
1.      Data jumlah ibu yang mengalami hipertensi gestasional diperoleh melalui register dan rekam medik Rumah Sakit Umum Provinsi NTB tahun 2014.
2.      Data jumlah ibu yang mengalami komplikasi pada persalinan diperoleh melalui register dan rekam medik Rumah Sakit Umum Provinsi NTB tahun 2014.
3.      Data jumlah ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan bayi yang mengalami asfiksia diperoleh melalui register dan rekam medik Rumah Sakit Umum Provinsi NTB tahun 2014.
4.      Data gambaran umum tempat penelitian diperoleh melalui Profil Rumah Sakit Umum Provinsi NTB 2014
.
F.    Pengolahan dan Analisa Data
Sebelum dianalisis, data diolah terlebih dahulu. Melalui proses sebagai berikut :
1.    Editing
Editing adalah memeriksa data yang telah dikumpulkan Tujuannya adalah mengurangi kesalahan atau kekurangan dalam pengumpulan data.
2.    Entri data (pemasukan Data)
Entri data adalah kegiatan pemasukan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana. Dalam penelitian ini dibuat distribusi berdasarkan hipertensi dalam kehamilan (HDK) dan distribusi berdasarkan asfiksia bayi  baru lahir.
3.    Coding
Coding adalah kegiatan memberi kode numerik (Angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori, yaitu :
a.    Data tentang kejadian hipertensi dalam kehamilan diolah dan dikelompokkan menurut :
1)     Hipertensi Dalam Kehamilan                   : diberi kode 1
2)     Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan        : diberi kode 2

b.    Data tentang nilai apgar diolah dan dikelompokkan menurut :
1)    Asfiksia                                              : diberi kode 1
2)    Tidak asfiksia                                    : diberi kode 2
4.    Tabulating
Tabulating adalah memasukkan jawaban yang telah diberi kode kedalam tabel.
Langkah terakhir dari penelitian ini adalah melakukan analisa data. Selanjutnya data dimasukkan ke dalam komputer dan dianalisis secara statistik menggunakan program SPSS (Statistical product and service solutions).
Analisa data pada penelitian ini terdiri dari :
a.    Analisis univariat
Analisa univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel, yaitu distribusi ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan (HDK) dan distribusi bayi yang mengalami asfiksia.
b.    Analisis bivariat
Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Meliputi satu variabel independen (hipertensi dalam kehamilan) dan variabel dependen (nilai apgar). Kemudian untuk analisis hubungan menggunakan uji chi square, uji ini dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar hubungan variabel x dan y. Hasil perhitungan bila p value lebih kecil dari 0.05  maka Ho ditolak, bila p value lebih besar maka Ho diterima. Dalam penelitian ini alasan menggunakan chi square adalah menguji hubungan antara hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan kejadian nilai apgar di Ruang Bersalin RSUP NTB Tahun 2014.

G.   Definisi Operasional Variabel
Tabel 3.1   Definisi operasional hubungan hipertensi dalam kehamilan (HDK) dengan nilai agar di Ruang Bersalin RSUP NTB tahun 2014.

Variabel
Definisi Operasional
Alat
Ukur
Cara
Ukur
Hasil
Ukur
Skala
Ukur
Hipertensi dalam kehamilan (HDK)
Hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pasca persalinan
-  Data Rekam medicyang terdiagnosa di RSUP NTB
-  Buku register ibu bersalin di ruang bersalin RSUP NTB

Melihat data rekam medik dan melihat buku register
1.  HDK
2.  Tidak HDK
Nominal
Nilai apgar
Penilaian yang digunakan untuk mengukur keadaan bayi setelah bayi lahir yang dilihat dari data rekam medik yang ada.

Data  Rekam medik yang terdiagnosa

Melihat data rekam medik
1.   Asfiksia
2.   Tidak Asfiksia




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.   Hasil Penelitian
1.    Gambaran Umum RSUP NTB
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 13/Menkes/SK/2005 tanggal 5 Januari 2005 tentang Peningkatan Kelas Rumah Sakit Umum Daerah Mataram milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, meningkatkan kelas Rumah Sakit Umum Daerah Mataram dari kelas B Non Pendidikan menjadi kelas B Pendidikan sejak tanggal 5 Januari 2005.
a.    Luas dan Letak
Rumah Sakit Umum Provinsi NTB terdiri dari tiga lantai yang mempunyai luas bangunan 18.198 m2, berlokasi di jalan Pejanggik No. 6 Mataram dengan batas wilayah sebagai berikut:
1)    Sebelah Utara      : Jalan Pariwisata
2)    Sebelah Selatan : Jalan Pejanggik
3)    Sebelah Barat      : Jalan Veteran
4)    Sebelah Timur     : Jalan Harimau
b.    Ketenagaan
33
Untuk melaksanakan program-program yang telah disusun disesuaikan dengan tugas dan fungsi, RSU Provinsi NTB mempunyai 967 orang tenaga yang terdiri dari:
1)    Tenaga Medis seluruhnya 88 orang, terdiri dari : 
a)    Dokter spesialis                          : 41 orang
b)    Dokter umum                             : 43 orang
c)    Dokter gigi                                   :  4 orang
2)    Tenaga Paramedis seluruhnya 372 orang, terdiri dari :
a)    Paramedis perawatan               : 312 orang
b)    Paramedis non perawatan                  :   60 orang
3)    Tenaga Non Medis seluruhnya 107 orang, terdiri dari :
a)    Apoteker                                      :     6 orang
b)    THL                                               : 101 orang
4)    Tenaga seluruhnya 967 orang, terdiri dari :
a)    Tenaga PNS                               : 631 orang
b)    Tenaga kontrak                          : 235 orang
c)    THL                                               : 101 orang
c.    Ruang Bersalin (VK Teratai)
Ruang VK terletak pada lantai dasar RSUP NTB. Ruang ini memiliki pegawai dengan status PNS berjumlah 28 orang yang rinciannya seperti sebagai berikut:
1)    Tenaga Spesialis Obgyn                :   7 orang
2)    Dokter Umum                                   :   5 orang
3)    D1 / DIII / DIV Kebidanan               :   1 / 11 / 4 orang
Jumlah tempat tidur berjumlah 16 buah tempat tidur dengan rincian sebagai berikut:  Ruang isolasi sebanyak : 2 TT, Ruang USG : 2 TT, Monitoring/Konseling : 2 TT, Ruang Persalinan Fisiologis : 3 TT, Ruang Persalinan Patologis            : 4 TT, Ruang Tindakan : 1 TT, Ruang VIP  : 1 TT dan Ruang Jaga Dokter : 1 TT.
d.    Fasilitas Pendukung
1)    Unit pelayanan tranfusi darah
2)    Ruang operasi mayor dan minor
3)    Ruang operasi kandungan
4)    Ruang P2KS
5)    Ruang kepala SMF
6)    Ruang sekretariat

2.    Identifikasi Kejadian Hipertensi Dalam Kehamilan
Pada penelitian ini, kejadian hipertensi dalam kehamilan dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu : hipertensi dalam kehamilan dan tidak hipertensi dalam kehamilan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Hipertensi Dalam Kehamilan di Ruang Bersalin RSUP NTB Tahun 2014.

No
Hipertensi Dalam Kehamilan
n
%
1
HDK
70
50,0
2
Tidak HDK
70
50,0
Jumlah
140
100

Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa dari 140 responden yang diteliti, yang mengalami hipertensi dalam kehamilan dan yang tidak mengalami hipertensi dalam kehamilan masing-masing sebanyak 70 orang (50,0%).
3.    Identifikasi Nilai Apgar Pada Bayi Baru Lahir
Pada penelitian ini, kejadian hipertensi dalam kehamilan dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu : hipertensi dalam kehamilan dan tidak hipertensi dalam kehamilan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.2  Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Nilai Apgar Pada Bayi Baru Lahir di Ruang Bersalin RSUP NTB Tahun 2014.

No
Keadaan bayi
n
%
1
Asfiksia
62
44,3
2
Tidak asfiksia
78
55,7
Jumlah
140
100

Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa dari 140 responden yang diteliti, lebih banyak yang tidak mengalami asfiksia sebanyak 78 orang (55,7%) dibandingkan yang mengalami asfiksia sebanyak 62 orang (44,3%).
4.    Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan Dengan Nilai Apgar Pada Bayi Baru Lahir
Untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dalam kehamilan dengan nilai Apgar pada bayi baru lahir dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut :


Tabel 4.3  Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan Dengan Nilai Apgar Pada Bayi Baru Lahir di RSUP NTB Tahun 2014.

No
Status Ibu
Nilai Apgar
Jumlah
P value
Asfiksia
Tidak Asfiksia
n
%
n
%
n
%
0,000
1
HDK
58
82,9
12
17,1
70
100,0
2
Tidak HDK
4
5,7
66
94,3
70
100,0
Jumlah
62
44,3
78
55,7
140
100,0

Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa kejadian asfiksia pada ibu yang mengalami HDK sebanyak 58 orang (82,9%) lebih besar dibandingkan yang tidak mengalami HDK sebanyak 4 orang (5,7%) sedangkan yang tidak asfiksia pada ibu yang tidak mengalami HDK sebanyak 66 orang (94,3%) lebih besar dibandingkan yang mengalami HDK sebanyak 12 orang (17,1%).
Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi square diperoleh nilai p value sebesar 0,000 dengan taraf signifikan 0,05  (p < α), karena 0,000 < 0,05, artinya ada hubungan antara kejadian hipertensi dalam kehamilan dengan nilai apgar pada bayi baru lahir di RSUP Provinsi NTB Tahun 2015.

B.   Pembahasan
1.    Kejadian Hipertensi Dalam Kehamilan
Hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUP NTB menunjukkan bahwa dari 140 responden, yang mengalami hipertensi dalam kehamilan dan yang tidak mengalami hipertensi dalam kehamilan masing-masing sebanyak 70 orang (50,0%).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa terjadinya hipertensi dalam kehamilan pada ibu di RSUP NTB dipengaruhi oleh beberapa keadaan yaitu lebih sering pada primigravida, patologi terjadi akibat implitasi sehingga timbul iskemia plasenta yag diikuti sindrom inflamasi, resiko meningkat pada masa plasenta besar diabetes melitus faktor herediter dan masalah vaskuler. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan penanganan yang bertujuan untuk mencegah terjadinya hipertensi dalam kehamilan yang lebih parah yaitu eklampsia ibu hamil diharapkan mampu melahirkan bayi hidup dengan trauma seminimal mungkin pada bayi maupun ibu sendiri (Saefudin, 2001).
Menurut Murbawi (2003), penanganan hipertensi dalam kehamilan dapat dilakukan dengan menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi, rendah lemak, karbohidrat, mengurangi garam dan memperbanyak sayuran serta buah segar. Jika hal ini kondisi ibu tidak membaik walau sudah diberi obat-obatan, kehamilan harus segera diakhiri meskipun janin masih belum mencukupi.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa penyakit hipertensi dalam kehamilan merupakan komplikasi yang serius trimester kedua-ketiga dengan gejala klinis seperti: odema hipertensi ,proteinuria, kejang sampai koma dengan umur kehamilan di atas 20 minggu, dan dapat terjadi antepartum, intrapartum, pascapartus (Manuaba, 2001)
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitiannya Suryati (2012) tentang “Faktor-faktor Yang Berhubungan dengan Hipertensi Dalam Kehamilan di Rumah Sakit Umum Madapangga” dari hasil penelitiannya tersebut diketahui bahwa sampel yang mengalami hipertensi dalam kehamilan dan yang tidak mengalami hipertensi dalam kehamilan masing-masing berjumlah 70 orang (50,0%). Dalam penelitiannya tersebut dikatakan bahwa masih adanya ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan disebabkan karena ibu tidak bisa menjaga kehamilannya dengan baik.

2.    Nilai Apgar
Hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUP NTB menunjukkan bahwa dari 140 responden, lebih banyak yang tidak mengalami asfiksia sebanyak 78 orang (55,7%) dibandingkan yang mengalami asfiksia sebanyak 62 orang (44,3%).
Hal ini berarti bahwa penilaian apgar sesaat setelah bayi baru lahir perlu dilakukan untuk menilai keadaan bayi tersebut secara menyeluruh sehingga dapat ditentukan secara cepat apakah bayi memerlukan tindakan medis segera. Selain itu, penilaian melalui apgar score juga sangat diperlukan untuk mengetahui apakah bayi yang dilahirkan oleh ibu mengalami asfiksia atau tidak. Namun, jika dilihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Ruang VK Teratai RSUP NTB ditemukan bahwa sebagian besar sampel yang diteliti tidak mengalami asfiksia sebanyak 78 orang (55,7%), hal ini disebabkan karena pada saat persalinan ibu tidak mengalami komplikasi, sehingga pertukaran gas serta transport O2 dari ibu ke janin tidak mengalami gangguan. Akan tetapi, ada juga ibu yang mengalami asfiksia, hal ini terjadi karena pada saat hamil ibu menderita beberapa kelainan yang beresiko terjadinya hipoksia janin dan menyebabkan terjadinya asfiksia neonatorum (Mansjoer, 2009).
Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pada kondisi tertentu pada ibu yang mengalami komplikasi terjadi gangguan sirkulasi darah uteroplasenta sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia pada bayi baru lahir. Gangguan pertukaran gas dan transport O2 dapat terjadi karena kelainan dalam kehamilan atau persalinan. Dengan semakin turunnya tekanan O2 atau dengan adanya kekurangan nutrisi, maka akan terjadi perubahan metabolisme dari aerobik menjadi anaerobik dalam pemecahan glukosa atau glikogen (melalui tes) dan protein. Glukosa yang pertama akan dipecah adalah cadangan dalam lever atau hati dan lemak diubah menjadi glukosa. Apabila keadaan ini terus terjadi maka akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi maka akan menyebabkan asfiksia pada bayi baru lahir (Mansjoer, 2009).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitiannya Lia Rahman (2014) tentang “Hubungan Preeklampsia Berat dengan Kejadian Asfiksia di RSUD Kota Malang” hasil penelitiannya diketahui bahwa sebagian besar ibu yang diteliti tidak mengalami asfiksia sebesar 73,1% dan yang mengalami asfiksia sebesar 26,9%. Dalam penelitiannya juga dikatakan bahwa komplikasi pada ibu bisa mengakbatkan terjadinya hipoksia janin yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan pertukaran oksigen dari ibu ke janin.
3.    Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan dengan Nilai Apgar Pada Bayi Baru Lahir
Hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUP NTB menunjukkan bahwa kejadian asfiksia pada ibu yang mengalami HDK sebanyak 58 orang (82,9%) lebih besar dibandingkan yang tidak mengalami HDK sebanyak 4 orang (5,7%) sedangkan yang tidak asfiksia pada ibu yang tidak mengalami HDK sebanyak 66 orang (94,3%) lebih besar dibandingkan yang mengalami HDK sebanyak 12 orang (17,1%). Sedangkan dari hasil analisisnya menunjukkan ada hubungan antara kejadian hipertensi dalam kehamilan dengan nilai apgar pada bayi baru lahir di RSUP Provinsi NTB Tahun 2015 dengan nilai p value sebesar 000 < 0,05.
Hal ini menunjukkan ditemukannya hubungan antara variabel hipertensi dalam kehamilan dengan nilai apgar pada bayi baru lahir disebabkan karena sebagian besar ibu yang hipertensi dalam kehamilan memiliki bayi asfiksia. Hipertensi dalam kehamilan merupakan komplikasi yang meliputi 10% dari jumlah seluruh kehamilan. Terjadinya hipertensi dalam kehamilan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : kadar nitrat oksida rendah pada vaskuler maternal dan fetal sehingga terjadi disfungsi endothel yang berakibat hipertensi dan insufisiensi darah fetal plasenta, insufisiensi kalsium, ketidakseimbangan prostaglandin, gangguan sistem renin angiotensin dan resistensi insulin (Saefudin, 2006)
Selain itu hipertensi dalam kehamilan bisa mengakibatkan terjadinya gangguan pada sirkulasi fetal plasental yang menimbulkan asfiksia neonatus dan terjadi resusitasi. Cara yang dapat digunakan untuk mengevaluasi neonatus dan evaluasi adekuat atau tidaknya resusitasi yang diberikan ditentukan melalui nilai apgar yaitu suatu metode cepat yang dapat digunakan untuk menilai keadaan bayi yang baru lahir dan diterapkan pada menit pertama dan menit kelima sesudah kelahiran (Prawirohardjo, 2009).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitiannya Eka Wijayanti (2011), dari hasil penelitian dan analisa yang digunakan menggunakan uji Koefisien Korelasi diperoleh nilai probabilias sebesar 0,034 dengan taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak, yang berarti bahwa ada hubungan antara hipertensi dalam kehamilan dengan nilai apgar di RSUD Dr. R. Koesma Tuban tahun 2011.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.   Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.    Dari 140 responden yang diteliti di RSUP NTB, yang mengalami hipertensi dalam kehamilan sebanyak 70 orang (50,0%).
2.    Responden yang diteliti di RSUP NTB lebih banyak yang tidak mengalami asfiksia sebanyak 78 orang (55,7%)
3.    Ada hubungan antara hipertensi dalam kehamilan dengan nilai apgar pada bayi baru lahir di RSUP NTB Tahun 2014.

B.   Saran
1.      Bagi Rumah Sakit Umum Provinsi NTB dan Tenaga Kesehatan
Disarankan kepada petugas kesehatan agar lebih meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat khususnya ibu dengan cara memberikan penyuluhan dan konseling serta menganjurkaan semua ibu hamil beresiko maupun risiko tinggi untuk memeriksakan kehamilannya secara teratur minimal 4 (empat) kali selama kehamilan.


44
 
2.      Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan referensi kepustakaan dan bahan bacaan bagi mahasiswa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan penelitian selanjutnya.           
3.      Bagi Peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan tentang faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kejadian hipertensi dalam kehamilan dengan nilai apgar pada bayi baru lahir agar bisa diterapkan di lingkungan masyarakat.









DAFTAR PUSTAKA

Dikes Provinsi NTB. 2012. Profil Dinas Kesehatan Provinsi NTB. Pemerintah Provinsi NTB, Mataram.

Ellya, Eva Sibagariang, dkk. 2010. Buku Saku Metodologi Penelitian. CV. Trans Info Medika, Jakarta.

Fuji Indriani Rahayu. 2011. Hubungan usia dan Paritas dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan. Ruang Teratai RSUP NTB, Mataram.

Manuaba, I.B.G, dkk. 2012. Pengantar Kulyah Obstetri. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Mochtar, Rustam. 2011. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi,Obstetri Patologi. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Nanny, Vivian Lia Dewi. 2011. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Salemba Medika, Jakarta.

Ni Nyoman Sri Sukarthi. 2013. Hubungan Hipertensi Dalam Kehamilan Dengan Kejadian Preeklamsi. Ruang Bersalin RSUD Tripat Gerung, Lombok Barat.

Notoatmodjo S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka cipta, Jakarta

Paket Pelatihan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED), 2008.

Rioni Sanjaya. 2008. Hubungan Hipertensi Gestasional Dengan Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir. RSU Yani Metro, Tanjung Karang.

RSUP NTB, 2012. Rekam Medik. Ruang Rekam Medik RSUP NTB, Mataram

RSUP NTB, 2013. Rekam Medik. Ruang Rekam Medik RSUP NTB, Mataram

RSUP NTB, 2012. Register Harian Ruang Bersalin RSUP NTB.

RSUP NTB, 2012. Register Harian Ruang Bersalin RSUP NTB.

Rukiyah, Ai Yeyeh, Lia Yulianti. 2010. Askeb Patologi Kebidanan, Trans Info Media, Jakarta.
Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk.  2010. Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita. Trans Info Media, Jakarta.

Sarwono Prawirohardjo. 2009. Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Saifuddin, Abdul Bari. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo, Jakarta.





MASTER TABEL 






HUBUNGAN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN DENGAN NILAI APGAR 
DI RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB 
TAHUN 2014






No No. RM Diagnosa  Kategori  Nilai Apgar Kategori
1 505398 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
2 515299 150/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
3 509899 170/130 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
4 74299 140/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
5 515473 160/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
6 529174 150/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
7 75073 180/140 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
8 517771 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
9 509071 150/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
10 84072 160/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
11 507873 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
12 508987 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
13 512087 160/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
14 522687 160/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
15 73787 160/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
16 509589 160/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
17 519489 170/130 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
18 508789 150/130 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
19 504462 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
20 526156 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
21 87128 190/140 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
22 510659 140/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
23 514159 140/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
24 517129 150/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  5-6 Tidak Asfiksia
25 524550 150/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
26 529440 150/130 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
27 514401 170/130 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
28 517200 170/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
29 514802 160/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
30 505702 160/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
31 512415 140/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
32 520815 140/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
33 512476 140/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
34 515677 150/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
35 517078 150/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
36 88479 150/130 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
37 515080 160/130 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
38 517881 170/140 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
39 515481 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
40 528882 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
41 507083 140/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
42 517184 150/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
43 525784 150/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
44 528085 150/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
45 502387 160/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
46 507582 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
47 520182 150/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
48 516282 150/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
49 80283 140/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
50 82344 160/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
51 91744 160/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
52 74803 170/130 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
53 88003 170/130 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
54 522604 180/140 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
55 512906 180/140 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
56 523707 150/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
57 523107 140/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
58 11608 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
59 514308 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
60 518910 150/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
61 518507 140/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
62 527507 140/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
63 526727 150/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
64 514528 150/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
65 509023 160/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
66 511723 160/110 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
67 519342 170/120 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
68 514143 150/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
69 513144 140/100 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
70 516126 140/90 mmHg Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
71 503627 130/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
72 87033 120/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
73 81633 100/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
74 86132 110/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
75 505634 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
76 527475 120/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
77 507475 120/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
78 528576 120/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
79 519476 100/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
80 77089 100/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
81 82226 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
82 509525 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
83 512261 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
84 79240 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
85 506064 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
86 521521 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
87 523943 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
88 517843 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
89 504111 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
90 515711 100/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
91 502011 100/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
92 515113 130/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
93 509214 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
94 514915 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
95 502610 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
96 48310 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
97 71411 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
98 527444 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
99 504646 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
100 510547 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
101 512247 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
102 75047 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
103 507847 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
104 506135 100/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
105 516635 100/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
106 514535 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
107 505936 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
108 528339 100/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
109 516334 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  4-6 Asfiksia
110 508016 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
111 504518 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
112 90618 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
113 529207 130/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
114 515408 100/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
115 82325 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
116 505026 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
117 507526 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
118 509130 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
119 525630 100/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
120 517530 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
121 508133 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  6-8 Tidak Asfiksia
122 509933 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
123 515448 130/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
124 525248 130/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
125 526136 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
126 518939 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  0-3 Asfiksia
127 507039 100/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
128 503283 100/60 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
129 525784 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
130 525997 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
131 522687 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
132 527488 100/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
133 511842 130/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
134 523107 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
135 527594 100/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
136 518846 100/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
137 84930 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
138 517129 110/70 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
139 820840 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia
140 525527 120/80 mmHg Tidak Hipertensi Dalam Kehamilan  7-9 Tidak Asfiksia