Jumat, 19 Februari 2016

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PROVINSI NTB TAHUN 2015



KARYA TULIS ILMIAH


FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR  DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH PROVINSI NTB
TAHUN 2015


















Di Susun Oleh

RENI IMROATUS SHOLEHAH
NIM : 12.9.2.112

             
                                                         






PRODI DIII KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NAHDATUL WATHAN MATARAM
TAHUN 2014/2015
LEMBAR PERSETUJUAN
                                                                            
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH PROVINSI NTB
TAHUN 2015


Karya Tulis Ilmiah ini telah disetujui, diperiksa dan siap diujikan dihadapan  
Tim Penguji Fakultas Ilmu Kesehatan UNW Mataram



Pembimbing I
Pembimbing II





( Een Eriana, SST. )

( Ni Putu Karunia Ekayani, SST.M.Kes. )


                                                                       

Mengatahui,
Ketua Program Studi DIII Kebidanan



(Abidaturrosydah, SST. )
NIDN. 0824128401





LEMBAR PENGESAHAN

KARYA TULIS ILMIAH

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH PROVINSI NTB
TAHUN 2015

Telah Diuji dan Dipertahankan pada
Tanggal : ………………………..


Oleh Tim Penguji

Ketua Penguji,




Een Eriana, SST.

Penguji I



Shohipatul Mawaddah, SST.


Penguji II




Ni Putu Karunia Ekayani, SST.M.Kes.


Mengetahui,
Fakultas Ilmu Kesehatan UNW Mataram
Dekan,




Hj. Wilya Isnaeni, SKM.MM.
NIDN. 0831126517

ABSTRAK

Program Studi Kebidanan (DIII)
Fakultas Ilmu Kesehatan UNW Mataram
Mataram,   September 2015

Muliatun
Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Berat Bayi Lahir Rendah di Ruang Bersalin Teratai Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015

VII + 59 halaman + 7 tabel + 1 gambar + 3 lampiran

Berdasarkan data yang diperoleh di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB, angka kejadian berat bayi lahir rendah pada tahun 2013 mencapai 921 (61,3 %) dari 2798 persalinan dan pada tahun 2014 angka kejadian berat bayi lahir rendah  mencapai 329 (21,9 %) dari 1502 persalinan. Sedangkan pada tahun 2015 dari bulan Januari sampai dengan Juli tahun 2015, angka kejadian berat bayi lahir rendah mencapai 72 (8,48 %) dari 849 persalinan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya berat bayi lahir rendah di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Populasinya adalah semua bayi yang mengalami berat bayi lahir rendah di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB dari bulan Januari sampai dengan Juli Tahun 2015 sebanyak 115 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Data yang dikumpulkan berbentuk data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat bantu form pengumpulan data. Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisa univariat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor karakteristik berdasarkan umur ibu diperolessampel terbanyak berumur 20-35 tahun sebanyak 51 orang (70,9 %), berdasarkan paritas terbanyak pada kategori primipara 27 orang (37,5 %), berdasarkan pekerjaan terbanyak berada pada ibu yang tidak bekerja sebanyak 39 orang (54,2 %), berdasarkan pendidikan terbanyak pada ibu yang berpendidikan dasar sebanyak 37 orang (51,4 %), berdasarkan faktor ibu paling banyak berada pada ibu yang mengalami ketuban pecah dini sebanyak  34 orang (47,2 %), dan berdasarkan faktor janin baling banyak berada pada oligohidramnion sebanyak 18 bayi (25 %).
Disarankan kepada instansi rumah sakit agar pihak rumah sakit beserta tenaga kesehatan untuk lebih aktif dalam melakukan penyuluhan tentang pentingnya keteraturan pemeriksaan selama hamil agar resiko terjadinya berat bayi lahir rendah dapat dicegah.

Kata Kunci      : Berat Bayi Lahir Rendah
Daftar Bacaan : 13 (2007 – 2014)



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Karunia, Taufik serta Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judulFaktor-faktor Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis tidak lepas dari bantuan segenap pihak, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1.      TGKH L. Gde M. Ali Wirasakti Amir Murni, Lc., MA selaku rektor Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
2.      H. Mawardi Hamriy, MPPM., selaku Kepala Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB.
3.      Wilya Isnaeni, SKM, MM, selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram.
4.      Kurniatun, SST.M.Kes., selaku Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram.
5.      Hj. Lale Syifaunnufus, S.Farm., selaku Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram.
6.      Ns. Sofian Hadi, S.Kep., selaku Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram.
7.      Abidaturrosyidah, SST selaku Ketua Program Studi DIII Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram.
8.      Een Eriana, SST., selaku Pembimbing I yang penuh kesabaran memberikan dorongan, bimbingan, pengarahan serta saran-saran yang bermanfaat bagi penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
9.      Ni Putu Karunia Ekayani, SST.M.Kes., selaku Pembimbing II yang penuh kesabaran memberikan dorongan, bimbingan, pengarahan serta saran-saran yang bermanfaat bagi penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
10.  Seluruh dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UNW Mataram yang memberikan bekal ilmu pengetahuan dan bimbingan kepada penulis
Demi perbaikan dan kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini, dengan kerendahan hati penulis sangat mengharapkan masukan, kritik ataupun saran dari semua pihak.
Semoga Allah SWT memberikan limpahan rahmat kepada kita semua dan Karya Tulis Ilmiah ini dapat berguna khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi  pihak lain yang memanfaatkannya


Mataram,      September 2015

Penulis




DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ iii
ABSTRAK .......................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR .................................................................................... .... v
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL................................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR  .......................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1
A.    Latar Belakang..................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................ 4
C.     Tujuan Penelitian................................................................................. 4
D.    Manfaat Penelitian............................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................... 7
A.    Asfiksia ............................................................................................... 7
1.      Definisi ......................................................................................... 7
2.      Klasifikasi...................................................................................... 7
3.      Penyebab ....................................................................................... 8
4.      Patofisiologi................................................................................. 19
5.      Tanda dan Gejala......................................................................... 20
6.      Diagnosis..................................................................................... 21
7.      Perubahan Patofisiologis dan Gambaran Klinik.......................... 22
8.      Manajemen .................................................................................. 23
BAB III  KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL .......... 30
A.      Kerangka Konsep........................................................................... 30
B.       Definisi Operasional....................................................................... 31
BAB IV METODE PENELITIAN ................................................................... 32
A.      Desain Penelitian............................................................................ 32
B.       Tempat  dan Waktu Penelitian ...................................................... 32
C.       Populasi dan Sampel....................................................................... 33
D.      Variabel Penelitian ......................................................................... 34
E.       Data Yang Dikumpulkan ............................................................... 34
F.        Cara Pengumpulan Data................................................................. 35
G.      Teknik Pengolahan Data................................................................. 35
H.      Analisis Data ................................................................................. 37
I.         Jadwal Penelitian ........................................................................... 38
BAB V HASIL PENELITIAN ......................................................................... 39 
A.    Gambaran Umum RSUD Provinsi NTB ........................................... 39
B.     Faktor Ibu dan Janin Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia ....... 41
C.     Faktor Ibu Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia ........................ 42
D.    Faktor Janin Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia ..................... 42
E.     Faktor Modifikasi Ibu dan Janin ...................................................... 43
BAB VI PEMBAHASAN ................................................................................. 45
A.    Faktor Ibu dan Janin Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia ....... 45
B.     Faktor Ibu Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia ........................ 46
C.     Faktor Janin Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia ..................... 48
D.    Faktor Modifikasi Ibu dan Janin....................................................... 49
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 52
A.    Kesimpulan ....................................................................................... 52
B.     Saran ................................................................................................. 52
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 3.1. Kerangka Konsep ....................................................................... .. 30



DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1. Definisi Operasional.............................................................................. 36

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015........................................................ 41

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Berdasarkan Faktor Ibu di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015....................... 42

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Berdasarkan Faktor Janin di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.................. 43

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Faktor Modifikasi Ibu dan Janin Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015....................... 43














DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Master Tabel
Lampiran 2. Lembar Konsultasi
Lampiran 3. Format Pengumpulan Data
Lampiran 4. Surat Penelitian



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Upaya pembangunan di bidang kesehatan yang sedang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan selama ini pada dasarnya untuk mempercepat tercapainya tingkat kesejahteraan. Salah satu bentuk upaya tersebut adalah peningkatan kesehatan ibu dan anak dengan program yang bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka kematian bayi (AKB). Tetapi saat ini, status kesehatan ibu dan bayi di Indonesia masih sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi yang masih tinggi (Rachmawati E, 2010).
Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi merupakan salah satu indikator dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. World Health Organization (WHO) memperkirakan di dunia setiap menit perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan, dengan kata lain 1.400 perempuan meninggal setiap harinya atau lebih kurang 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan (WHO, 2009).
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator dalam menilai kesejahteraan suatu bangsa. Angka kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi, angka kematian ibu di Indonesia pada tahun 2007 mencapai 228/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Kemudian pada tahun 2012 angka kematian ibu meningkat lagi mencapai 359/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi sebesar 32/1000 kelahiran hidup). Sesuai dengan target MDGs, angka kematian ibu dan bayi masih jauh di atas target yaitu angka kematian ibu tahun 2015 ditargetkan mencapai 102/100.000 kelahiran hidup dengan angka kematian bayi sebesar 23/1000 kelahiran hidup (SDKI, 2012)
Penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia adalah bayi berat lahir rendah (29%), asfiksia (27%), trauma lahir, tetanus neonatorum, infeksi lain dan kelainan kongenital (34%). Menurut WHO, setiap tahunnya, kira-kira 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi lahir mengalami asfiksia, hampir 1 juta bayi ini kemudian meninggal (Wiknjosastro, 2008).
Di Indonesia, kematian bayi antara 45%-50% yang disebabkan oleh asfiksia intrauterin dan persalinan prematur. Salah satu penyebab kematian bayi baru lahir terutama dipengaruhi oleh kondisi yang berkaitan erat dengan kondisi kehamilan ibu (Hassan H., 2010).
Angka kematian ibu (AKI) di Nusa Tenggara Barat yaitu 360/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi sebesar 32/1000 kelahiran hidup. Kematian Neonatal di Nusa Tenggara Barat tahun 2012 sejumlah 1.058 dengan rincian umur 0-7 hari sejumlah 924 dan umur 8-28 hari sebanyak 134 orang yang disebabkan oleh BBLR (45,06%), asfiksia (24,27%) dan penyebab lain (30,67%) meliputi: trauma lahir, tetanus neonatorum, infeksi lain dan kelainan kongenital (Dikes NTB, 2012).
Asfiksia merupakan kegagalan bayi bernapas spontan segera setelah lahir disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi lahir. Asfiksia sangat penting diperhatikan karena jika tidak ditangani dan diantisipasi dengan baik dapat menyebabkan cacat (Prawirohardjo, 2010).
Menurut survey pendahuluan yang telah dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB, angka kejadian asfiksia pada bayi baru lahir pada tahun 2013 mencapai 556 (19,9%) dari 2798 persalinan dan pada tahun 2014 angka kejadian asfiksia pada bayi baru lahir mencapai 278 (18,3%) dari 1502 persalinan. Sedangkan pada tahun 2015 dari bulan Januari sampai dengan Juli tahun 2015, angka kejadian asfiksia bayi baru lahir mencapai 218 (25,7%) dari 849 persalinan (Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB, 2015).
Faktor resiko kejadian Asfiksia sangatlah beragam dan banyak hal yang mempengaruhi dan berhubungan dengan kejadian Asfikia. Hasil penelitian oleh Ahmad (2010), menyebutkan bahwa terbukti terdapat hubungan bermakna antara persalinan lama dengan kejadian asfiksia bayi baru lahir. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Fahrudin (2011), menyebutkan bahwa faktor resiko kejadian asfiksia meliputi berat bayi lahir rendah, ketuban pecah dini, persalinan lama, tindakan sektio cesareae , umur ibu <20 tahun atau >35 tahun, riwayat obstetri jelek,  kelainan letak janin, dan status ANC buruk.
Dampak dari asfiksia yaitu bisa menyebabkan keadaan menjadi hipoksia dan iskemia pada bayi. Hal ini berakibat pada kerusakan di beberapa jaringan dan organ tubuh. Dari beberapa penelitian dilaporkan bahwa kerusakan organ ini sebagian besar terjadi pada ginjal, sistem saraf pusat, sistem kardiovaskuler dan paru-paru (Wiknjosastro, 2010).
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang : “Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015”.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar  belakang masalah  di atas, maka  dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Apa Saja Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015”.

C.      Tujuan Penelitian
1.         Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
2.         Tujuan Khusus
a.       Mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
b.      Mengidentifikasi faktor komplikasi ibu meliputi : CPD, KPD, riwayat penyakit (HDK, Penyakit Jantung), preeklampsia ringan, eklampsia, partus kasep, partus lama, preeklampsia berat, plasenta previa dan kehamilan serotinus di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
c.       Mengidentifikasi faktor janin meliputi: suspek bayi besar, gawat janin, gemeli, letak sungsang, lilitan tali pusat dan oligohidramnion di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.

D.      Manfaat Penelitian
1.      Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi wadah profesi kesehatan, secara khusus kebidanan dalam memperkaya literatur dan sebagai bahan kajian untuk program-program kegiatan yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas khususnya asfiksia. Selanjutnya diharapkan dapat digunakan dalam pengelolahan program pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
2.      Bagi Intitusi Pendidikan
Dapat memberikan informasi dan pengembangan keilmuan khususnya tindakan yang dilakukan untuk mengevaluasi persalinan pada ibu yang bersalin dengan asfiksia pada bayi baru lahir.


3.      Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi penulis tentang tindakan yang dilakukan untuk mengevaluasi persalinan ibu bersalin dengan afiksia pada bayi baru lahir
4.      Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi penelitian selanjutnya dan dapat diteruskan dengan menambahkan variabel penelitian yang belum pernah diteliti.          




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Asfiksia
1.      Pengertian Asfiksia
Asfiksia adalah kegagalan bayi baru lahir untuk bernapas secara spontan dan teratur sehingga menimbulkan gangguan lebih lanjut, yang mempengaruhi seluruh metabolisme tubuhnya (Prawirohardjo, 2010).
 Asfiksia adalah kegagalan untuk memulai dan melanjutkan pernapasan secara spontan dan teratur saat bayi baru lahir atau beberapa saat sesudah lahir (Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Asfiksia adalah kegagalan untuk memulai dan melanjutkan pernapasan secara spontan dan teratur saat bayi baru lahir atau beberapa saat sesudah saat lahir (Asuhan Persalinan Normal, 2010). Teori lain menyebutkan bahwa asfiksia ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernapas secara spontan dan teratur setelah lahir (Wiknjosastro, 2008).

2.      Klasifikasi
a.       Asfiksia Berat (nilai APGAR 0-3)
7
Resusitasi aktif dalam keadaan ini harus segera dilakukan, langkah utama ialah memperbaiki ventilasi paru-paru dengan memberikan O2 secara tekanan langsung  dan berulang-ulang. Bila setelah beberapa waktu pernapasan spontan tidak timbul dan frekuensi jantung menurun (<100/menit) maka pemberian obat-obatan lain serta masase jantung sebaiknya segera dilakukan. Masase jantung dikerjakan dengan melakukan penekanan di atas tulang dada secara teratur 80-100x/menit.
b.      Asfiksia Sedang (nilai APGAR 4-6)
Di sini dapat dicoba dengan melakukan rangsangan untuk menimbulkan reflek pernapasan, hal ini dapat dikerjakan selama 30-60 detik setelah penilaian menurut APGAR 1 menit. Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi asfiksia adalah kerusakan pada otak (Prawirohardjo, 2007).

3.      Penyebab Asfiksia
Perkembangan paru-paru neonatus terjadi pada menit pertama kelahiran dan kemudian disusul dengan pernapasan teratur, bila terjadi gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 dari ibu ke janin akan terjadi asfiksia janin atau neonatus. Winkjosastro. H (2010), penyebab kegagalan pernapasan pada bayi:
a.       Faktor ibu
1)      Pre eklampsia  atau eklampsia 
Pre eklampsia atau eklampsia menurut para ahli dapat di dikumpulkan sebagai berikut : pre eklampsi adalah sindrom spesifik-kehamilan, yang terjadi setelah minggu ke-20 kehamilan, berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel (Cunningham, 2011).
Pre eklampsi merupakan kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias; hipertensi, proteinuri, dan edema. Dapat disimpulkan bahwa pre eklampsi adalah suatu kondisi spesifik kehamilan, yang terjadi setelah minggu ke-20 kehamilan, berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel, yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, edema, dan proteinuria.
Preeklampsia bisa mengakibatkan aliran darah ibu melalui plasenta menjadi berkurang, sehingga aliran oksigen dari ke janin menjadi berkurang dan menimbulkan terjadinya gawat janin dan berlanjut sebagai asfiksia pada bayi baru lahir.
2)      Partus  lama atau partus macet
Partus lama didefinisikan sebagai permulaan partus yang reguler, kontraksi uterus yang ritmis dan menyebabkan dilatasi serviks akan tetapi partus terjadi dalam waktu lebih dari 24 jam. Partus tidak maju atau macet  adalah terjadi gangguan atau hambatan dalam penurunan kepala bayi melewati pelvis meskipun kontraksi uterusnya baik. Obstruksi biasanya disebabkan karena panggul sempit, bayi besar, ataupun malpresentasi.
Partus lama merupakan persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primipara dan lebih dari 18 jam pada multipara. Bila persalinan berlangsung terlalu lama,  maka bisa menimbulkan terjadinya komplikasi baik terhadap ibu dan bayi akan mengalami asfiksia.
Persalinan pada primi lebih lama 5-6 jam dari pada multi. Bila persalinan berlangsung lama, dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi baik terhadap ibu maupun terhadap anak, dan dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak. Partus lama merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya asfiksia dan dapat menimbulkan komplikasi baik terhadap ibu maupun pada bayi serta dapat meningkatkan angka kematian ibu dan bayi.
 Menurut Harjono partus lama merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga timbul gejala-gejala seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu, serta asfiksi dan kematian janin dalam kandungan (KJDK), dan insiden partus lama menurut penelitian adalah 2,8 – 4,9%. (Mochtar, 2008)
Partus lama dapat menyebabkan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir, hal ini disebabkan karena semakin lama janin berada di pintu panggul, maka janin akan mengalami hipoksia sehingga terjadilah asfiksia.
3)      Partus Kasep
Partus kasep adalah suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi pada ibu, anak, atau didapatkan adanya infeksi intrauterina. (Sarwono, 2008).
4)      Kehamilan Serotinus
Kehamilan postterm adalah kehamilan yang berlangsung 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari (Sarwono, 2010).
Kehamilan lewat waktu (Serotinus) adalah kehamilan melewati waktu 294 hari atau 42 minggu. Kehamilan lewat dari 42 minggu ini didasarkan pada hitungan usia kehamilan (dengan rumus neagle), menurut Anggarani (2007 : 83). Rumus neagle ini adalah untuk menghitung tanggal kelahiran bayi yaitu (tanggal +7, bulan -3, tahun +1) atau (tanggal +7, bulan +9, tahun +0), (Trihendradi, 2010).
Kehamilan postterm adalah kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu (294 hari) atau melebihi dua minggu dari perkiraan tanggal persalinan dihitung mulai Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) menurut rumus Naegele (SPM Obsgin, 2010).
5)      Plasenta Previa
Plasenta merupakan bagian dari kehamilan yang penting, mempunyai bentuk bundar dengan ukuran 15 x 20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500 gram. Plasenta merupakan organ yang sangat aktif dan memiliki mekanisme khusus untuk menunjang pertumbuhan dan ketahanan hidup janin. Hal ini termasuk pertukaran gas yang efisien, transport aktif zat-zat energi, toleransi imunologis terhadap imunitas ibu pada alograft dan akuisisi janin. Melihat pe ntingnya peranan dari plasenta maka bila terjadi kelainan pada plasenta akan menyebabkan kelainan pada janin ataupun mengganggu proses persalinan. Salah satu kelainan pada plasenta adalah kelainan implantasi atau disebut dengan plasenta previa (Manuaba, 2005).
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal) dan oleh karenanya bagian terendah sering kali terkendala memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) atau menimbulkan kelainan janin dalam rahim. Pada keadaan normal plasenta umumnya terletak di korpus uteri bagian depan atau belakang agak ke arah fundus uteri (Prawirohardjo, 2008)
6)      CPD
Disproporsi Sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina. Disproporsi sefalopelvik disebabkan oleh panggul sempit, janin yang besar ataupun kombinasi keduanya
CPD terjadi jika kepala bayi atau ukuran tubuh bayi lebih besar dari pada luas panggul ibu, sehingga dalam proses persalinan, bayi tidak mungkin dapat melewati panggul ibu, jika telah diketahui adanya kondisi CPD, maka jalan paling aman untuk melahirkan adalah melalui bedah sesar (Sulaiman, 2006).
7)      Ketuban Pecah Dini
Menurut Wiknjosastro (2008) ketuban pecah dini ditandai dengan keluarnya cairan berupa air-air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu dan dapat dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Dari sudut medis secara garis besar 50% persalinan preterm terjadi spontan, 30% akibat ketuban pecah dini (KPD), dan sisanya 20% dilahirkan atas indikasi ibu/ janin. Pecahnya kulit ketuban secara spontan sebelum kehamilan cukup bulan banyak dihubungkan dengan amnionitis yang menyebabkan terjadinya lokus minoris pada kulit ketuban. Amnionitis ini diduga sebagai dampak asendens infeksi saluran kemih.
Ketuban pecah dini dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti; serviks inkompeten, peningkatan tekanan intrauterin misalnya overdistensi uterus pd keadaan hidramnion, trauma, kelainan letak misalnya letak lintang sehingga tidak ada bagian terendah yang me nutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan  terhadap membran bagian bawah (Kamisah: 2009).


8)      Hipertensi Dalam Kehamilan
Hipertensi gestasional (HDK) adalah kenaikan tekanan darah diastolik 15 mmHg atau >90 mmHg dalam 2 pengukuran berjarak 1 jam atau tekanan darah diastolik sampai 110 mmHg. Tekanan darah diatolik merupakan indikator dalam penanganan hipertensi dalam kehamilan karena tekanan darah diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak tergantung keadaan emosional pasien (Saifuddin, 2006).
Hipertensi dalam kehamilan yaitu hipertensi pada kehamilan yang timbul pada trimester akhir kehamilan, namun tanpa disertai gejala dan tanda preeklamsia, bersifat sementara dan tekanan darah kembali normal setelah melahirkan (postpartum). Hipertensi gestasional berkaitan dengan timbulnya hipertensi kronik suatu saat di masa yang akan datang.
9)      Preeklampsia Berat
Pre eklampsia  berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi lebih atau sama dengan 160/110 mmHg diserta proteinuria pada kehamilan 20 minggu atau lebih (Mochtar, 2008).
Pre Eklampsia Berat adalah tekanan darah sistolik  ≥ 160 mmHg atau diastolik  ≥ 110 mmHg. Protein >2,0 gr dalam 24 jam muncul pertama kali selama kehamilan dan menurun setelah persalinan, jumlah trombosit < 100.000 sel per mm3. Peningkatan aktivitas enzim hati, gejala gangguan saraf, nyeri kepala menetap, gangguan penglihatan, nyeri ulu hati yang menetap dan oliguria 400 mililiter dalam 24 jam. (Varney, 2009 hal 645).
10)  Preeklampsia Ringan
Preeklamsi adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, proteinuria dan edema yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke 3 pada kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa (Ilmu kebidanan, 2008).
Preeklamsi adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari hipertensi, proteinuria dan edema, ibu tersebut tidak menunjukan tanda- tanda kelainan vascular atau hipertensi sebelumnya (Muchtar R, 2008)
Preeklamsi ringan adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan  edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan (Ilmu Kebidanan Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo, Fak UI Jakarta, 2008).
b.      Faktor Janin
1)      Gemelli
Gamelli adalah suatu kehamilan dengan dua jenis atau lebih. Kejadian kehamilan ganda dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya, adalah faktor genetik dan keturunan, umur dan parietas, ras atau suku bangsa dan obat pemicu ovulasi, keadaan ini termasuk keadaan kategori resiko tinggi dalam kehamilan dan persalinan.
2)      Oligohidramnion
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari normal yaitu kurang dari 500 mL. Marks dan Divon (2010) mendefinisikan oligohidramnion bila pada pemeriksaan USG ditemukan bahwa index kantong amnion 5 cm atau kurang dan insiden oligohidramnion 12% dari 511 kehamilan pada usia kehamilan 41 minggu.
Oligohidramnion mengacu pada defisiensi besar volume cairan amnion. Berkurangnya volume cairan amnion dapat menimbulkan hipoksia janin sebagai akibat dari kompresi taki pusat karena gerakan janin atau kontraksi rahim. Selain itu, lintasan mekonium janin ke dalam volume cairan amnion yang tereduksi menghasilakan suatu suspensi tebal dan penuh pertikel yang dapat menyebabkan ganguan pernapasan janin.
Oligohidramnion perlu digolongkan sesuai dengan etiologinya. Oligohidramnion berhubungan dengan keterbelakangan pertumbuhan dalam rahim dan pada 60 persen kasus. Bila dihungakan dengan bukti ultrasonic keterbelakangan pertumbuhan asimetrik, gangue janin sangat mungkin terjadi, kasus-kasus itu yang diakibatkan oleh ruptura membaran janin yang spontan mungkin tidak berhubungan dengan gangguan janin sebelumnya. Oligohidramnion mungkin terjadi sebagai akibat tekanan janin in utero ; sekresi hormone penekan janin (katekolamin, vasopressin) dapat menghambat resopsi cairan paru-paru lewat penelanan oleh janin. Akhirnya, terdapat kasus yang berhubungan dengan berbagai Janis cacat janin, misalnya sindroma Potter (agenesis ginjal), yang butuh pemeriksaan ultarsonik dan genetic secara rinci.
3)      Letak Sungsang
Letak sungsang adalah letak memanjang dengan bokong sebagai bagian yang terendah (presentase bokong). Letak sungsang dibagi sebagai berikut :
a)      Letak sungsang murni yaitu bokong saja yang menjadi bagian depan sedangkan kedua tungkai lurus keatas.
b)      Letak bokong kaki.
c)      Letak lutut.
d)     Letak kaki.
Frekuensi letak sungsang murni lebih tinggi pada kehamilan muda dibanding kehamilan tua dan multigravida lebih banyak dibandingkan dengan primigravida.
Menurut Prawirohardjo (2008), pada persalinan letak sungsang dengan cara pervaginam kelahiran kepala yang lebih lama dari 8 menit setelah umbilicus dilahirkan akan membahayakan kehidupan janin. Selain itu, bila janin bernafas sebelum hidung dan mulut lahir dapat membahayakan, karena mucus yang terhisap dapat menyumbat jalan nafas (Prawirohardjo, 2008).
Letak sungsang menyebabkan prognosis yang buruk pada ibu maupun bayi, pada ibu bisa berupa robekan pada perinium lebih besar, ketuban lebih cepat pecah, dan partus lebih lama, sehingga akan mudah terkena infeksi. Prognosis tidak begitu baik bagi bayi karena adanya gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong lahir dan juga setelah perut lahir, tali pusat yang terjepit antara kepala dan panggul, bayi dimungkinkan bisa menderita asfiksia (Manuaba, 2009).
4)      Suspek Bayi Besar
Bayi baru lahir yang berat badan lahir pada saat persalinan lebih dari 4000 gram. Bayi baru lahir yang berukuran besar tersebut biasanya dilahirkan cukup bulan. Tetapi bayi preterm dengan berat badan dan tinggi menurut umur kehamilan mempunyai mortalitas yang secara bersama lebih tinggi dari pada bayi yang dilahirkan cukup bulan dengan ukuran yang sama. Diabetes dan obesitas ibu merupakan faktor predisposisi.
5)      Gawat Janin
Gawat janin terjadi bila janin tidak menerima Oksigen cukup, sehingga mengalami hipoksia. (Abdul Bari Saifuddin dkk, 2010). Secara luas istilah gawat janin telah banyak dipergunakan, tapi didefinisi istilah ini sangat miskin. Istilah ini biasanya menandakan kekhawatiran obstetric tentang obstetric tentang keadaan janin, yang kemudian berakhir dengan seksio secarea atau persalinan buatan lainnya.
  Keadaan janin biasanya dinilai dengan menghitung denyut jantung janin (DJJ). Dan memeriksa kemungkinan adanya mekonium didalam cairan amniom. Sering dianggap DJJ yang abnormal, terutama bila ditemukan mekonium, menandakan hipoksia dan asidosis. Akan tetapi, hal tersebut sering kali tidak benarkan. Misalnya, takikardi janin dapat disebabkan bukan hanyaoleh hipoksia dan asidosis, tapi juga oleh hipotemia, sekunder dari infeksi intra uterin.
Keadaan tersebut biasanya tidak berhubungan dengan hipoksia janin atau asidosis.sebaliknya, bila DJJ normal, adanya mekonium dalam cairan amnion tidak berkaitan dengan meningkatnya insidensi asidosis janin. Untuk kepentingan klinik perlu ditetapkan criteria apa yang dimaksud dengan gawat janin. Disebut gawat janin bila ditemukan bila denyut jantung janin diatas 160 / menit atau dibawah 100 / menit, denyut jantung tidak teratur , atau keluarnya mekonium yang kental pada awal persalinan.
6)      Lilitan Tali Pusat
Lilitan tali pusat adalah tali pusat yang membentuk lilitan sekitar badan janin, bahu, tungkai atas/ bawah dan leher. Lilitan tali pusat terjadi karena gerak janin yang berlebihan, tali pusat yang panjang, janin kecil dan polihidramnion. Lilitan tali pusat bisa terjadi dimana saja dari tubuh janin, tetapi yang sering terjadi adalah di bagian leher (nuchal cord). Jumlah lilitan bisa sekali (terjadi pada 21,3 % kehamilan) atau lebih dari sekali lilitan (terjadi pada 3,4 % kehamilan)
4.      Patofisiologi
Pernapasan adalah tanda vital pertama yang berhenti ketika bayi baru lahir kekurangan oksigen. Pada periode awal bayi akan mengalami napas cepat (rapid breathing) yang disebut dengan gasping primer.  Tahap awal asfiksia ditandai dengan periode pernapasan cepat, bunyi jantung, dan tekanan darah yang meningkat, kemudian redistribusi aliran darah ke jantung, otak dan adrenal agar kebutuhan O2, bertambahnya aktivitas simpats dan kemoreseptor, bersama-sama dengan pelepasan vasopressin Arginin (Kosim, 2011).
Hipoksia juga merangsang kemoreseptor, melalui regulasi vervus vagus akan menyebabkan bradikardia, jika hipoksia berlanjut akan terjadi penurunan PH dan Asidosis Metabolik. Jika Asfiksia sangat berat akan terjadi abgi autoregulasi aliran darah ke otak dan jantung sehingga menyebabkan penurunan tekanan darah dan curah jantung.  Selama asfiksia berat aliran darah ke otak lebih banyak ke batang otak dari pada ke serebrum. Akibat pengiriman O2 yang berkurang ke otak, maka akan terjadi focus injury di daerah lairan cortex. Akibat redistribusi darah ke otak di jantung, ginjal akan mengalami ischemia injury tubulus ginjal yang proksimal jika proses berlanjut akan terjadi nekrosis epiteltubulus (Kosim, 2011).
5.      Tanda dan Gejala
a.       Tidak bernapas spontan atau megap-megap
b.      Warna kulit kebiruan
c.       Kejang
d.      Penurunan kesadaran
e.       Pernapasan cuping hidung
f.       Pernapasan cepat
g.      Nadi cepat
h.      Nilai apgar <6 (Mochtar, 2008).
6.      Diagnosis Asfiksia 
a.       Anamnesis
1)      Gangguan atau kesulitan waktu lahir (perdarahan antepartum, lilitan tali pusat, sungsang, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
2)      Lahir tidak bernapas/ menangis
3)      Air ketuban bercampur mekonium (Mochtar, 2008).
b.      Pemeriksaan Fisik
1)      Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap
2)      Denyut jantung kurang dari 100x/ menit
3)      Kulit sianosis atau pucat
4)      Tonus otot menurun
5)      Untuk diagnosis asfiksia tidak perlu menunggu skor Apgar.
Nilai Apgar adalah cara yang sangat bermanfaat untuk mengevaluasi bayi adalah sistem nilai apgar yang diterapkan pada satu menit dan 5 menit setelah lahir. Nilai apgar menit pertama menentukan perlunya resusitasi segera. Kebanyakan bayi pada saat lahir memiliki kondisi yang bagus, yang diperlihatkan dengan nilai apgar 7 sampai 10, dan tidak memerlukan bantuan selain mungkin penyedotan nasofaring sederhana (Prawirohardjo, 2008).
Tabel 2.1. Sistem Penilaian Apgar
Tanda
0
1
2
Frekuensi denyut jantung
Tidak ada
Dibawah 100
Diatas 100
Usaha bernapas
Tidak ada
Pelan, tidak teratur
Baik, menangis
Tonus otot
Fleksi
Ekstremitas sedikit fleksi
Gerak aktif
Iritabilitas
Tidak ada respon
Meringis
Menangis kuat
Warna Kulit
Biru, pucat
Badan merah jambu, ekstremitas biru
Seluruhnya merah jambu
Sumber: Prawirohardjo, 2008
7.      Perubahan Patofisiologis dan Gambaran Klinik
Pernapasan spontan bayi baru lahir bergantung pada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi. Proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernapasan  agar terjadi Primary Gasping“ yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan teratur (Jumes, 2008).
Sifat asfiksia ini tidak mempunyai pengaruh buruk karena reaksi adaptasi bayi dapat mengatasinya. Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen selama kehamilan atau persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian (Mochtar, 2008).
Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnue disertai dengan penurunan frekuensi jantung, selanjutnya bayi akan diikuti pernapasan teratur. Pada penderita asfiksia berat usaha bernapas ini tidak nampak dan bayi selanjutnya berada pada periode kedua. Pada tingkat ini disamping bradikardi ditemukan pula penurunan tekanan darah. Di samping adanya perubahan klinis akan terjadi pula gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi (Mochtar, 2008).
8.      Manajemen
a.       Resusitasi
1)      Begitu bayi lahir tidak menangis, maka dilakukan langkah awal terdiri dari:
a)      Hangatkan bayi di bawah pemancar panas atau lampu
b)      Hangatkan kepala bayi sedikit ekstensi
c)      Isap lendir dari mulut kemudian hidung
d)     Keringkan bayi sambil merangsang taktil dengan menggosok punggung atau menyentil ujung jari dan mengganti kain yang basah dengan yang kering
e)      Reposisikan kepala bayi
f)       Nilai bayi: usaha napas, warna kulit dan denyut jantung.
2)      Bila bayi tidak bernapas lakukan ventilasi tekanan positif (VTP) dengan memakai balon sungkup selama 30 detik dengan kecepatan 40-60 kali permenit.
3)      Nilai bayi: usaha napas, warna kulit dan denyut jantung
4)      Bila belum bernapas dan denyut jantung 60 kali permenit lanjutkan VTP dengan kompresi dada secara terkoordinasi selama 30 detik.
5)      Nilai Bayi: usaha napas, warna kulit dan denyut jantung. Bila denyut jantung <60 x permenit, beri epineprin dan lanjutkan VTP dan kompresi dada.
Bila denyut jantung >60x permenit kompresi dada dihentikan, VTP dilanjutkan. Pemasangan pipi ET bisa di lakukan pada setiap tahapan Resusitasi (JNPK-KR, 2007).
Penanganan resusitasi juga lebih lengkap dapat dilakukan dengan:
a)      Mencegah kehilangan panas
b)      Letakkan bayi di bawah radiant warmer
c)      Keringkan tubuh dan kepala bayi dengan cepat
d)     Sisihkan kain yang basah/ ganti dengan kain yang kering
e)      Ventilasi /membuka jalan napas
f)       Letakkan bayi terlentang pada alas datar
g)      Jika cairan kebetulan tidak tercemar mekonium, isap mulut dan hidung dengan menggunakan ekstraktor mukus hulb syringe, suction mekanik
h)      Jika cairan mekonium kental/ bayi depersi, bayi diletakkan di bawah radiant warmer, isap mekonium dari hipofering, dan daerah trakea dengan menggunakan endotracheal tube (JNPK-KR, 2007).
i)        Menilai Pernapasan
(1)     Jika pernapasan adekuat, penilaian dilakukan dengan menghitung denyut jantung
(2)     Jika frekuensi denyut jantung >100x/menit, nilai turgor kulit, jika kulit warna biru diberikan O2, bila warna kulit warna merah/sianosis perifer, tidak perlu diberi O2 hanya diobservasi saja.
(3)     Jika bayi apnue, berikan stimulasi taktil pada telapak kaki atau tubuh belakang.
(4)     Jika tidak ada respon lakukan positive pressure ventilation (ventilasi tekanan positif) dengan O2 melalui ambubag dan masker/ ambubag dan ETT.
(5)     Jika frekuensi denyut jantung >100x/menit, bayi bernapas spontan VTP dihentikan, O2 diberikan secara freeflow. O2 dihentikan bila kulit warna merah secara menetap.
(6)     Jika frekuensi denyut jantung 60-100 x/menit, PTV dilanjutkan jika tidak meningkat disertai kompresi jantung (Manuaba, 2007).
j)    Kompresi Jantung
(1)      Kompresi jantung harus diserta ventilasi, rasio kompresi jantung dan ventilasi 3:3:1, kompresi jantung selama 1 ½ detik, ventilasi ½ detik, dilakukan dengan 2 cara ibu jari dan dua jari.
(2)      Jika denyut jantung nol atau 80x/ menit. Kompresi jantung dan ventilasi dilanjutkan sampai denyut jantung >100 x/menit bayi napas spontan.
(3)      Jika denyut jantung nol atau tetap 80x/ menit. Kompresi jantung dan ventilasi dilanjutkan (Cunningham, 2005).
k)  Pemberian obat
(1)      Beri epinefrin 1:10.000, dosis 0,2-0,3 ml/kgBB i.y atau ETT jika denyut jantung >100x/ menit, pemberian obat dihentikan jika denyut jantung <80x/ menit, pemberian epinefrin diulang 3-5 menit
(2)      Jika tidak hipovolemi, berikan bikarbonas natrikus dosis 2 cmcg/ kg BB IV selama 2 menit
(3)      Jika tidak dapat hipovolemi berikan volume expander (whole blood, albumin selain, NaCl Fisiologis, RL) dosis 10 ml/kg BB IV berikan selama 5-10 menit
(4)      Jika dengan pemberian epinefrin, volume expander ventilasi dan kompresi jantung tidak memberikan respon frekuensi denyeut jantung tetap <100x/ menit, dan hipotensi menetap, bayi diberikan dopamin (Wiknjosastro, 2007).
b.      Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
1)      Pemasangan sungkup
Pasang dan pegang sungkup agar menutupi mulut dan hidung bayi.
2)      Ventilasi percobaan (2 kali)
a)      Lakukan tiupan udara dengan tekanan 30 cm air
b)      Tiupan awal sangat penting untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa mulai bernapas dan sekaligus menguji apakah jalan napaas terbuka atau bebas.
c)      Lihat apakah dada bayi mengembang
d)     Bila tidak mengembang, periksa posisi kepala, pastikan posisinya sudah benar.
e)      Periksa pemasangan sungkup dan pastikan tidak terjadi kebocoran.
f)       Periksa ulang apakah jalan napas tersumbat cairan atau lendir (isap kembali) dan bila dada  mengembang, lakukan tahap berikutnya.
Ventilasi definitif (20 kali dalam 30 detik).
a)      Lakukan tiupan dengan tekanan 20 cm air, 20 kali dalam 30 detik.
b)      Pastikan udara masuk (dada mengembang) dalam 30 detik tindakan.
Lakukan penilaian bayi
a)      Bila bayi sudah bernapas normal, hentikan ventilasi dan pantau bayi. Bayi diberikan asuhan pasca resusitasi.
b)      Bila bayi belum bernapas atau megap-megap, lanjutkan ventilasi dengan tekanan 20 cm air, 20 kali untuk 30 detik berikutnya.
c)      Evaluasi hasil ventilasi setiap 30 detik
d)     Lakukan penilaian bayi apakah bernapas, tidak bernapas atau megap-megap.
1)      Bila bayi sudah mulai bernapas normal, hentikan ventilasi dan pantau bayi dengan seksama, berikan asuhan pasca resusitasi.
2)      Tetapi bila bayi tidak bernapas atau megap-mega,teruskan ventilasi dengan tekanan 20cm air, 20 kali untuk 30 detik berikutnya dan nilai hasilnya setiap 30 detik (Cunningham, 2005).
e)      Siapkan Rujukan bila bayi belum bernapas normal sesudah 2 menit di ventilasi:
2)      Minta keluarga membantu persiapan rujukan
3)      Teruskan resusitasi sementara persiapan rujukan dilakukan.
f)       Bila bayi tidak bisa di rujuk:
1)     Lanjutkan ventilasi sampai 20 menit
2)     Pertimbangkan untuk menghentikan tindakan resusitasi jika setelah 2 menit upaya ventilasi tidak berhasil.
3)     Bayi yang tidak bernapas normal selama 20 menit diresusitasi akan mengalami kerusakan pada otak sehingga bayi akan menderita kecacatan atau meninggal (Wiknjosastro, 2008).
c.       Asuhan Pasca Resusitasi
Asuhan pasca resusitasi diberikan sesuai dengan keadaan bayi setelah menerima tindakan resusitasi. Asuhan pasca resusitasi dilakukan pada keadaan:
1)      Resusitasi berhasil: bayi menangis dan bernapas normal sesudah langkah awal/ sesudah ventilasi. Perlu pemantauan dan dukungan
2)      Resusitasi tidak atau kurang berhasil, bayi perlu rujukan yaitu sesudah ventilasi 2 menit belum bernapas atau bayi sudah bernapas tetapi masih megap-megap atau pada pemantauan ternyata kondisinya makin memburuk
3)      Resusitasi gagal setelah 20 menit di ventilasi, bayi gagal bernapas.
Pada kasus-kasus kematian mendadak yang diteliti oleh ahli patologi forensik, setelah dilakukan pemeriksaan yang sesuai sekitar 75% ditemukan sebagai kematian mendadak yang wajar atau alamiah (Prawirohardjo, 2007).


BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A.    Kerangka Konsep
Faktor penyebab asfiksia
Kerangka konsep adalah abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal khusus (Notoatmojo, 2010).
Asfiksia
Bayi Baru Lahir
Faktor Ibu
a.       CPD
b.      KPD
c.       Riwayat Penyakit (HDK, Riwayat Penyakit Jantung)
d.      PER
e.       Eklampsia
f.       Partus kasep
g.       Partus lama
h.      PEB
i.        Plasenta previa
j.        Kehamilan serotinus


Faktor Janin
a.       Suspek Bayi Besar
b.       Gawat Janin
c.        Gemeli
d.       Letak Sungsang
e.        Lilitan Tali Pusat
f.        Oligohidramnion
 








                                                                         

Modifikasi faktor ibu dan janin

 


  
: Tidak diteliti

: Diteliti
 




Gambar  2.1    Kerangka Konsep Penelitian .

30
Sumber: Modifikasi Teori Mochtar (2008) dan Winkjosastro. H (2006)
B.       Definisi Operasional
Definisi operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan. (Notoatmodjo, 2010).
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi
Operasional
Alat
Ukur
Hasil
Ukur
Skala
1
Asfiksia
Asfiksia adalah kegagalan bayi baru lahir bernapas secara spontan dan teratur

Rekam
Medik


2
Faktor penyebab terjadinya asfiksia
Faktor yang menyebabkan terjadinya asfiksia baik dari faktor ibu, faktor janin

Rekam
Medik
a.  Faktor ibu dan janin
b.  Faktor ibu
c.   Faktor janin

Nominal
2
Faktor ibu
Faktor yang menyebabkan terjadinya asfiksia dari ibu
Rekam
Medik
a.  CPD
b.  KPD
c.   Riwayat Penyakit (HDK, Riwayat Penyakit Jantung)
d.  PER
e.   Eklampsia
f.   Partus kasep
g.   Partus lama
h.  PEB
i.    Plasenta previa
j.    Kehamilan serotinus


Nominal
3
Faktor janin
Faktor yang menyebabkan terjadinya asfiksia dari ibu
Rekam
Medik
a.  Suspek Bayi Besar
b.  Gawat Janin
c.   Gemeli
d.  Letak Sungsang
e.   Lilitan Tali Pusat
f.   Oligohidramnion
Nominal




BAB IV
METODOLOGI  PENELITIAN

A.      Jenis Penelitian
Disain penelitian ini bersifat Deskriptif. Dari segi waktu penelitian ini bersifat crossectional karena variabel faktor penyebab terjadinya asfiksia sebagai variabel Independen dan kejadian asfiksia sebagai variabel Dependen dikumpulkan pada waktu sesaat dan bersamaan (Notoatmodjo, 2010) .
Dari jenis data yang dikumpulkan bersifat penelitian sekunder karena data faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir dan data kejadian asfiksia bayi baru lahir diambil dari data yang sudah tersedia di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015 dan tercatat di Rekam Medik.

B.     Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Lokasi Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB, pemilihan lokasi tersebut dengan alasan:
a.       Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB merupakan pelayanan rujukan dan non rujukan kasus persalinan dan memiliki fasilitas pelayanan maternal dan neonatal.
b.     
c.  Belum pernah dilakukan penelitian yang serupa
32
Tersedianya kasus asfiksia pada bayi baru lahir sebanyak 218 kasus (25,67%) dari 849 persalinan dari bulan Januari sampai dengan Juli Tahun 2015.
2.      Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September Tahun 2015.


C.    Populasi  dan Sampel
  1. Populasi
Populasi adalah sejumlah besar subyek yang mempunyai karakteristik tertentu, karakteristik subyek ditentukan sesuai dengan ranah dan tujuan penelitian (Sastroasmoro, 2008).
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin yang bayinya mengalami asfiksia di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB dari bulan Januari sampai dengan Juli Tahun 2015 sebanyak 115 orang (Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB, 2015).
  1. Sampel
Sampel adalah bagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010).
Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin yang bayinya mengalami asfiksia di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB dari bulan Januari sampai dengan Juli Tahun 2015 sebanyak 115 orang.
  1. Tehnik Sampling
Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teknik total sampling yaitu pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sampel sehingga besar sampel yang digunakan dalam penelitian  ini  sebanyak 115 orang  (Alimul, 2007)

D.    Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu, misalnya umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2005). Pada penelitian ini variabel penelitiannya meliputi : karakteristik ibu yang meliputi: (umur, pekerjaan dan pendidikan),  faktor ibu meliputi: (CPD, KPD, riwayat penyakit (HDK, penyakit jantung), preeklampsia ringan, partus kasep, partus lama, preeklampsia berat, plasenta previa dan kehamilan serotinus) dan faktor janin meliputi: (suspek bayi besar, gawat janin, gemeli, letak sungsang, lilitan tali pusat dan oligohidramnion) di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB  Tahun 2015.

E.     Data Yang Dikumpulkan
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berbentuk data sekunder yang meliputi :
1.      Data tentang faktor penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir di di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
2.      Data tentang faktor ibu yang menyebabkan terjadinya asfiksia bayi baru lahir di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
3.      Data tentang faktor janin yang menyebabkan terjadinya asfiksia bayi baru lahir di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
4.      Data tentang gambaran umum Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.

F.     Cara Pengumpulan Data
1.      Data tentang faktor penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir dikumpulkan dengan mengutip dari register dengan alat bantu Form Pengumpulan Data.
2.      Data tentang faktor komplikasi ibu yang menyebabkan terjadinya asfiksia bayi baru lahir dikumpulkan dengan mengutip dari register dengan alat bantu Form Pengumpulan Data.
3.      Data tentang faktor janin yang menyebabkan terjadinya asfiksia bayi baru lahir dikumpulkan dengan mengutip dari register dengan alat bantu Form Pengumpulan Data.
4.      Data tentang Gambaran umum lokasi penelitian dikumpulkan melalui buku profil Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB.
G.    Tekhnik Pengolahan Data
Pengolahan data yang dipakai  dengan cara : (Budiarto, 2008)
1.        Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau di kumpulkan yang meliputi faktor yang menyebabkan terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir.
2.        Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori :
Kategori :
a.       Data tentang faktor penyebab terjadinya asfiksia diolah dan dikelompokkan menurut :
1)      Faktor ibu dan janin                           : diberi kode 1
2)      Faktor ibu                                           : diberi kode 2
3)      Faktor janin                                        : diberi kode 3
b.      Data tentang faktor ibu diolah dan dikelompokkan menurut :
1)      CPD                                                                     : diberi kode 1
2)      KPD                                                                    : diberi kode 2      
3)      Riwayat Penyakit (HDK, Penyakit Jantung)      : diberi kode 3
4)      PER                                                                     : diberi kode 4
5)      Eklampsia                                                            : diberi kode 5
6)      Partus kasep                                                         : diberi kode 6
7)      Partus lama                                                          : diberi kode 7
8)      PEB                                                                     : diberi kode 8
9)      Plasenta previa                                                     : diberi kode 9
10)  Kehamilan serotinus                                            : diberi kode 10
c.       Data tentang faktor janin diolah dan dikelompokkan menurut :
1)      Suspek Bayi Besar                                               : diberi kode 1      
2)      Gawat Janin                                                         : diberi kode 2      
3)      Gemeli                                                                 : diberi kode 3
4)      Letak Sungsang                                                   : diberi kode 4
5)      Lilitan Tali Pusat                                                 : diberi kode 5
6)      Oligohidramnion                                                 : diberi kode 6
3.        Tabulasi
Tabulasi adalah kegiatan memasukkan data yang telah di kumpulkan ke master tabel atau data base computer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau membuat tabel kontigensi.


H.    Analisa Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat yaitu analisa data yang digunakan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan data tentang karakteristik subyek penelitian. Analisa yang digunakan dengan deskriptif menggunakan tabel distribusi frekuensi dari variabel yang faktor penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir.
Analisa Univariat dapat di hitung dengan rumus :
P =  
Keterangan :
P = Persentase
F = Frekuensi
n = Jumlah Sampel






I.       Jadwal Penelitian
Tabel 4.1 Jadwal Penelitian
No
Uraian Kegiatan
Mei
2015
Juni
2015
Juli
2015
Agustus
2015
September
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Persiapan judul dan studi pustaka




















2
Pengambilan data




















3
Penyusunan proposal




















4
Ujian proposal




















5
Revisi proposal




















6
Penelitian




















7
Penyusunan KTI




















8
Ujian KTI


























BAB V
HASIL PENELITIAN

A.    Gambaran Umum RSUD Provinsi NTB
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 13/Menkes/SK/2005 tanggal 5 Januari 2005 tentang Peningkatan Kelas Rumah Sakit Umum Daerah Mataram milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, meningkatkan kelas Rumah Sakit Umum Daerah Mataram dari kelas B Non Pendidikan menjadi kelas B Pendidikan sejak tanggal 5 Januari 2005.
1.      Luas dan Letak
Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB terdiri dari tiga lantai yang mempunyai luas bangunan 18.198 m2, berlokasi di jalan Pejanggik No. 6 Mataram
2.      Ketenagaan
Untuk melaksanakan program-program yang telah disusun disesuaikan dengan tugas dan fungsi, RSU Provinsi NTB mempunyai 967 orang tenaga yang terdiri dari:
a.       Tenaga Medis seluruhnya 88 orang, terdiri dari : 
1)      Dokter spesialis                       : 41 orang
2)      Dokter umum                          : 43 orang
3)      Dokter gigi                              :  4 orang

39
 
b.      Tenaga Paramedis seluruhnya 372 orang, terdiri dari :
1)      Paramedis perawatan                          : 312 orang
2)      Paramedis non perawatan                   :   60 orang
c.       Tenaga Non Medis seluruhnya 107 orang, terdiri dari :
1)      Apoteker                                             :     6 orang
2)      THL                                                    : 101 orang
d.      Tenaga seluruhnya 967 orang, terdiri dari :
1)      Tenaga PNS                                        : 631 orang
2)      Tenaga kontrak                                   : 235 orang
3)      THL                                                    : 101 orang
3.      Ruang Bersalin (VK Teratai)
Ruang VK terletak pada lantai dasar RSUP NTB. Ruang ini memiliki pegawai dengan status PNS berjumlah 28 orang yang rinciannya seperti sebagai berikut:
a.       Tenaga Spesialis Obgyn                :   7 orang
b.      Dokter Umum                               :   5 orang
c.       D1 / DIII / DIV Kebidanan          :   1 / 11 / 4 orang
Jumlah tempat tidur berjumlah 16 buah tempat tidur dengan rincian sebagai berikut:  Ruang isolasi sebanyak : 2 TT, Ruang USG : 2 TT, Monitoring/Konseling : 2 TT, Ruang Persalinan Fisiologis : 3 TT, Ruang Persalinan Patologis    : 4 TT, Ruang Tindakan : 1 TT, Ruang VIP  : 1 TT dan Ruang Jaga Dokter : 1 TT.

4.      Fasilitas Pendukung
a.       Unit pelayanan tranfusi darah
b.      Ruang operasi mayor dan minor
c.       Ruang operasi kandungan
d.      Ruang P2KS
e.       Ruang kepala SMF
f.       Ruang sekretariat

B.     Faktor Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir
Faktor penyebab terjadinya Asfiksia pada Bayi Baru Lahir dikelompokkan menjadi 3 kategori : faktor ibu dan janin, faktor ibu dan faktor janin. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 sebagai berikut:
Tabel 4.1  Distribusi Frekuensi Sampel Berdasarkan Faktor Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.

No
Faktor Penyebab Terjadinya Asfiksia
n
%
1
Faktor Ibu dan Janin
15
13,0
2
Faktor Ibu
87
75,7
3
Faktor Janin
13
11,3
Jumlah
115
100

Berdasarkan tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan bayi asfiksia, sebagian besar ibu yang mengalami asfiksia disebabkan oleh faktor ibu sebanyak 87 sampel (75,7%) dan sebagian kecil disebabkan oleh faktor janin sebanyak 13 sampel (11,3%).  




C.    Faktor Ibu Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir
Pada penelitian ini faktor ibu yang menyebabkan terjadinya Asfiksia pada Bayi Baru Lahir dapat dilihat pada Tabel 4.2 sebagai berikut :
Tabel 4.2  Distribusi Frekuensi Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Berdasarkan Faktor Ibu di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.

No
Faktor Ibu
n
%
1
CPD
1
1,1
2
KPD
8
9,2
3
Riwayat Penyakit (HDK, Riwayat Penyakit Jantung)
2
2,4
4
PER 
2
2,4
5
Eklampsia
3
3,4
6
Partus Kasep
5
5,7
7
Partus Lama (Kala 2 lama, Kala 2 Laten, Fase Aktif Macet)
52
59,8
8
PEB
8
9,2
9
Plasenta Previa
3
3,4
10
Serotinus
3
3,4
Jumlah
87
100


Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan bayi asfiksia, hanya 87 sampel yang disebabkan oleh faktor ibu, dimana sebagian besar disebabkan oleh partus lama sebanyak 52 sampel (59,8%) dan sebagian kecil disebabkan oleh CPD sebanyak 1 sampel (1,1%).

D.    Faktor Janin Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir
Pada penelitian ini faktor janin yang menyebabkan terjadinya Asfiksia pada Bayi Baru Lahir dapat dilihat pada Tabel 4.3 sebagai berikut :

Tabel 4.3  Distribusi Frekuensi Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Berdasarkan Faktor Janin di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.

No
Faktor Janin
n
%
1
Suspek Bayi Besar
2
15,4
2
Gawat Janin
1
7,7
3
Gemeli
1
7,7
4
Letak Sungsang
7
53,8
5
Lilitan Tali Pusat
1
7,7
6
Oligohidramnion
1
7,7
Jumlah
13
100

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan bayi asfiksia, hanya 13 sampel yang disebabkan oleh faktor janin, dimana sebagian besar terjadi karena letak sungsang sebanyak 7 sampel (53,8%) dan sebagian kecil terjadi karena gawat janin, gemeli, lilitan tali pusat dan oligohidramnion masing-masing sebanyak 1 sampel (7,7%).

E.     Faktor Modifikasi Ibu dan Janin
Pada penelitian ini faktor modifikasi ibu dan janin yang menyebabkan terjadinya Asfiksia pada Bayi Baru Lahir dapat dilihat pada Tabel 4.4 sebagai berikut :
Tabel 4.4  Distribusi Frekuensi Faktor Modifikasi Ibu dan Janin Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.

No
Faktor Ibu dan Janin
n
%
1
Kala 2 Lama + Letak Sungsang
9
60,0
2
Kala 2 Lama + Gemeli
2
13,3
3
Partus Kasep + Letak Lintang
1
6,7
4
Kala 2 Lama + Gawat Janin
1
6,7
5
Gawat Janin + Preeklampsia Berat
1
6,7
6
Kala 2 Lama + Suspek Bayi Besar
1
6,7
Jumlah
15
100

Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan bayi asfiksia, hanya 15 sampel yang disebabkan oleh faktor ibu dan janin, dimana sebagian besar disebabkan oleh Kala 2 Lama + Letak Sungsang sebanyak 9 sampel (60,0%) dan sebagian kecil disebabkan oleh partus kasep + letak lintang, kala 2 lama + gawat janin, gawat janin + preeklampsia berat dan kala 2 lama + suspek bayi besar masing-masing sebanyak 1 sampel (6,7%).





BAB VI
PEMBAHASAN

A.    Faktor Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir
Hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUD Provinsi NTB menunjukkan bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan bayi asfiksia, sebagian besar ibu yang mengalami asfiksia disebabkan oleh faktor ibu sebanyak 87 sampel (75,7%) dan sebagian kecil disebabkan oleh faktor janin sebanyak 13 sampel (11,3%). 
Hal ini menunjukkan bahwa faktor ibu lebih dominan menyebabkan terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir jika dibandingkan dengan faktor janin. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang ditemukan bahwa dari 115 ibu bersalin yang bayinya mengalami asfiksia sebagian besar terjadi karena adanya partus lama sebesar 59,8%, ketuban pecah dini dan preeklampsia berat masing-masing sebesar 9,2%, eklampsia, plasenta previa dan kehamilan serotinus masing-masing sebesar 3,4%, riwayat penyakit (HDK, Penyakit Jantung) dan preeklampsia ringan masing-masng sebesar 2,4% dan CPD sebesar 1,1%.
45
Jika dilihat dari hasil penelitian diatas, maka partus lama merupakan faktor dari ibu yang menyebabkan terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir. Penyebab terjadinya partus lama pada ibu disebabkan karena kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh ibu selama kehamilan. Akan tetapi jika dilihat dari faktor resikonya, partus lama disebabkan karena adanya his, mal presentasi dan mal posisi, janin besar, panggul sempit, kelianan serviks dan vagina, disproporsi fetovelvikn dan ketuban pecah dini (Wiknjosastro, 2008).
Timbulnya his merupakan indikasi mulainya persalinan, apabila his yang timbul sifatnya lemah, pendek dan jarang maka akan mempengaruhi turunnya kepala dan mortalitas pembukaan serviks atau yang ssering disebut dengan inkoordinasi kontraksi otot rahim, dimana keadaan inkoordinasi kontraksi otot rahim dapat menyebabkan sulitnya kekuatan otot rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan pada akhirnya ibu akan mengalami partus lama karena tidak adnaya kemajuan dalam persalinan (Wiknjosastro, 2005).  
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ratnati (2013) tentang “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Kota Malang” dari hasil penelitiannya tersebut ditemukan bahwa sebagian besar bayi yang mengalami asfiksia disebabkan oleh faktor ibu sebesar 78,2% dan asfiksia yang disebabkan oleh faktor janin sebesar 21,8%. Dalam penelitiannya dikatakan bahwa faktor ibu merupakan faktor yang paling dominan menyebabkan terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir.

B.     Faktor Ibu Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia
Hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUD Provinsi NTB menunjukkan bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan bayi asfiksia, 87 sampel yang disebabkan oleh faktor ibu, dimana sebagian besar disebabkan oleh partus lama sebanyak 52 sampel (59,8%) dan sebagian kecil disebabkan oleh CPD sebanyak 1 sampel (1,1%)
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa partus lama merupakan persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primipara dan lebih dari 18 jam pada multipara. Bila persalinan berlangsung terlalu lama,  maka bisa menimbulkan terjadinya komplikasi baik terhadap ibu dan bayi akan mengalami asfiksia.  Partus tidak maju atau macet  merupakan gangguan atau hambatan dalam penurunan kepala bayi melewati pelvis meskipun kontraksi uterusnya baik. Obstruksi biasanya disebabkan karena panggul sempit, bayi besar, ataupun malpresentasi. Namun jika dilihat dari hasil penelitian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa banyaknya bayi yang mengalami asfiksia disebabkan oleh partus lama terjadi karena adanya semakin lama janin berada di pintu panggul, maka janin akan mengalami hipoksia sehingga terjadilah asfiksia.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa persalinan pada primi lebih lama 5-6 jam dari pada multi. Bila persalinan berlangsung lama, dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi baik terhadap ibu maupun terhadap anak, dan dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak. Menurut Harjono partus lama merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga timbul gejala-gejala seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu, serta asfiksi dan kematian janin dalam kandungan (KJDK), dan insiden partus lama menurut penelitian adalah 2,8 – 4,9%. (Mochtar, 2008)
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maul Sa`adah (2014) tentang “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Kota Malang” dari hasil penelitiannya tersebut diketahui bahwa sebagian besar bayi yang mengalami asfiksia disebabkan oleh partus lama sebesar 74,1% dan sebagian kecil disebabkan oleh CPD sebesar 12,4%. Dalam penelitiannya juga dikatakan bahwa partus lama merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga bisa menimbulkan terjadinya asfiksia.

C.    Faktor Janin Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia
Hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUD Provinsi NTB menunjukkan bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan bayi asfiksia, hanya 13 sampel yang disebabkan oleh faktor janin, dimana sebagian besar terjadi karena letak sungsang sebanyak 7 sampel (53,8%) dan sebagian kecil terjadi karena gawat janin, gemeli, lilitan tali pusat dan oligohidramnion masing-masing sebanyak 1 sampel (7,7%).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa faktor janin merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir. Dilihat dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir yang disebabkan oleh faktor janin terjadi karena adanya kelainan pada letak sungsang. Bayi sungsang terjadi karena pada awal kehamilan, karena berat janin relatif lebih rendah dibandingkan dengan rahim. Akibatnya, janin masih bisa bebas bergerak. Menginjak usia 28-34 minggu kehamilan, berat janin makin membesar, sehingga tidak bebas lagi bergerak. Pada usia tersebut, umumnya janin sudah menetap pada satu posisi. Kalau posisinya salah, maka disebut sungsang.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa letak sungsang menyebabkan prognosis yang buruk pada ibu maupun bayi, pada ibu bisa berupa robekan pada perinium lebih besar, ketuban lebih cepat pecah, dan partus lebih lama, sehingga akan mudah terkena infeksi. Prognosis tidak begitu baik bagi bayi karena adanya gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong lahir dan juga setelah perut lahir, tali pusat yang terjepit antara kepala dan panggul, bayi dimungkinkan bisa menderita asfiksia (Manuaba, 2009).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitiannya Rina (2013) tentang : “Faktor-faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Cianjur” dari hasil penelitiannya tersebut diketahui bahwa sebagian besar bayi yang mengalami asfiksia disebabkan oleh kelainan letak sungsang sebesar 65,1% dan sebagian kecil disebabkan oleh gemeli sebesar 3,2%. Dalam penelitiannya dikatakan bahwa bayi baru lahir dengan letak sungsang merupakan salah satu faktor resiko terjadinya hipoksia dan asfiksia. Resiko terjadinya asfiksia pada bayi dengan letak sungsang sebesar 11,04 kali lebih besar dibandingkan dengan presentasi kepala.

D.    Faktor Modifikasi Ibu dan Janin
Hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUD Provinsi NTB menunjukkan bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan bayi asfiksia, hanya 15 sampel yang disebabkan oleh faktor ibu dan janin, dimana sebagian besar disebabkan oleh Kala 2 Lama + Letak Sungsang sebanyak 9 sampel (60,0%) dan sebagian kecil disebabkan oleh partus kasep + letak lintang, kala 2 lama + gawat janin, gawat janin + preeklampsia berat dan kala 2 lama + suspek bayi besar masing-masing sebanyak 1 sampel (6,7%).
Hal ini menunjukkan bahwa faktor modifikasi ibu dan janin, kala 2 lama + letak sungsang merupakan faktor yang paling dominan menyebabkan terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir. Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Faktor-faktor letak sungsang menunjukkan bentuk panggulnya adalah sedemikian rupa sehingga lebih cocok untuk presentasi bokong daripada presentasi kepala.. Implantasi plasenta di fundus atau di tonus uteri cenderung untuk mempermudah terjadinya letak sungsang (Prawirohardjo, 2008, p.606).
Persalinan letak sungsang mempunyai syarat yang harus dipenuhi yaitu pembukaan benar-benar lengkap, kulit ketuban sudah pecah, his adekuat dan tafsiran berat badan janin < 3600 gram. Terdapat situasi-situasi tertentu yang membuat persalinan tidak dapat dihindarkan yaitu ibu memilih persalinan pervaginam, direncanakan bedah sesar tetapi terjadi proses persalinan yang sedemikian cepat, persalinan terjadi di fasilitas yang tidak memungkinkan dilakukan bedah sesar, letak sungsang yang tidak terdiagnosis hingga kala II lama dan kelahiran janin kedua pada kehamilan kembar. Persalinan pervaginam tidak dilakukan apabila didapatkan kontra indikasi persalinan pervaginam bagi ibu dan janin, presentasi kaki, hiperekstensi kepala janin dan berat bayi > 3600 gram, tidak adanya informed consent, dan tidak adanya petugas yang berpengalaman dalam melakukan pertolongan persalinan (Prawirohardjo, 2008, p.593).
Kehamilan pada bayi dengan letak sungsang, dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri, sedangkan letak sungsang merupakan bagian terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis. Pada pesalinan letak sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir. Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme karena susunan tulang dasar kepala yang rapat dan padat, sehingga hanya mempunyai waktu 8 menit, setelah badan bayi lahir. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme sehingga dapat menimbulkan kematian bayi yang besar (Manuaba, 2008).
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Isma (2010)  tentang : “Faktor-faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Kota Malang” dari hasil penelitiannya diketahui bahwa sebagian besar ibu yang bayinya yang mengalami asfiksia disebabkan faktor ibu dan janin seperti kala 2 lama + letak sungsang sebesar 78,2% dan sebagian kecil disebabkan karena suspek bayi besar sebesar 4,5%.






BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Dari 115 ibu bersalin yang bayinya mengalami asfiksia disebabkan oleh faktor ibu sebanyak 87 sampel (75,6%)
2.      Dari 87 faktor ibu yang bayinya mengalami asfiksia, sebagian besar disebabkan oleh partus lama sebanyak 52 sampel (59,8%).
3.      Dari 13 faktor janin yang mengalami asfiksia, sebagian besar disebabkan oleh letak sungsang sebanyak 7 responden (53,8%).

B.     Saran
1.      Bagi Instansi Rumah Sakit
Disarankan kepada instansi rumah sakit untuk lebih aktif dalam melakukan penyuluhan tentang pentingnya keteraturan pemeriksaan selama hamil agar resiko terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir dapat dicegah dan mengantisipasi kelahiran serta memberikan penanganan yang tepat kepada ibu yang bayinya mengalami asfiksia.
2.      Bagi Institusi Pendidikan
52
Disarankan bagi institusi pendidikan agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan referensi untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa DIII kebidanan UNW Mataram Mataram di bidang kesehatan.
3.      Bagi Masyarakat
Disarankan kepada masyarakat khususnya ibu hamil agar dapat melakukan pemeriksaan antenatal care secara teratur sehingga resiko terjadinya asfiksia pada bayi baru dapat di deteksi secara dini dan dapat ditangani dengan baik.





DAFTAR PUSTAKA

Dikes NTB, 2012. Angka Kematian Neonatal. Mataram : Dikes NTB.

Fibriana. 2010. Angka Kematian Maternal di Indonesia. Diperoleh tanggal 06 November 2012.

Kosim, 2011. Dampak Jangka Panjang Bayi Asfiksia. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
.
Manuaba. 2008. Buku ajar patologi obstetri untuk mahasiswa kebidanan, Jakarta: EGC.

Mochtar, Rustam. 2008. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.

Notoatmojo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP.

Rahmawati E, 2010. Asi Dan Menyusui. Jakarta : Kapita Selekta.

Riwidikdo, Handoko. 2007. Statistik Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.

Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB, 2014. Angka Kejadian Asfiksia. Mataram : NTB.

Saifuddin. 2010. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, Edisi 1, Jakarta: Penerbit Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Winkjosastro, Hanifa (ed). 2010. Ilmu Kandungan. Jakarta: YBPSP.

 
MASTER TABEL







FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR 
DI RSUD PROVINSI NTB 
TAHUN 2015







No No. RM Umur Pendidikan  Pekerjaan Diagnosa Kategori
1 552652 36 SMA IRT Partus Kasep Faktor Ibu
2 552790 35 SD IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
3 552943 30 TS IRT Partus Kasep Faktor Ibu
4 116719 30 SD IRT Kala 2 Lama + Letak Sungsang Faktor Ibu dan Janin
5 552982 30 SD IRT Kala  2 Lama + Gawat Janin Faktor Ibu dan Janin
6 553154 17 TS IRT Kala 2 Lama Faktor Ibu
7 553168 27 SD IRT Kala 2 Lama, Letak Sungsang Faktor Ibu dan Janin
8 553167 33 SMP IRT Letak sungsang, kala 2 lama Faktor Ibu dan Janin
9 553225 19 SMP IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
10 553233 22 SMA IRT Gawat janin + Preeklampsia Berat Faktor Ibu dan Janin
11 553350 22 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
12 553479 26 SLTA IRT Gemeli Faktor Janin 
13 553826 24 SMP IRT Suspek bayi besar Faktor Janin 
14 554044 22 SMA IRT Partus Kasep + Letak Lintang Faktor Ibu dan Janin
15 554289 39 TS IRT fase aktif macet (partus lama) Faktor Ibu
16 554332 34 TS IRT Preeklampsia Berat Faktor Ibu
17 554432 29 SD IRT Partus kasep Faktor Ibu
18 554535 19 SD IRT Eklampsia Faktor Ibu
19 554580 24 SMP IRT Partus kasep Faktor Ibu
20 554760 30 SMP IRT Letak Sungsang Faktor Janin 
21 55464 24 TS IRT Letak Sungsang Faktor Janin 
22 444798 19 SD IRT Kala 2 Lama, Letak Sungsang Faktor Ibu dan Janin
23 554804 29 SMP IRT Oligohidramnion Faktor Ibu
24 117772 24 SMA IRT Ketuban Pecah Dini Faktor Ibu
25 555738 26 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
26 555742 33 S1 Guru Letak Sungsang  Faktor Janin 
27 555092 24 SMA IRT Plasenta Previa Faktor Ibu
28 555179 29 SMA IRT Cephalopelvic Disproportion (CPD) Faktor Ibu
29 555191 30 S1 PNS Kala 2 Lama  Faktor Ibu
30 555271 39 TS IRT Preeklampsia Berat Faktor Ibu
31 555275 31 SMA IRT Ketuban Pecah Dini Faktor Ibu
32 555325 21 TS IRT Kala 2 lama  Faktor Ibu
33 555337 19 SD IRT Kala 2 lama  Faktor Ibu
34 555469 30 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
35 555465 18 SMP IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
36 555517 20 SMP IRT Plasenta Previa Faktor Ibu
37 555629 24 TS IRT Kala 2 Lama + Kasep Faktor Ibu
38 4555523 31 SD IRT Ketuban Pecah Dini Faktor Ibu
39 555623 32 SMP IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
40 555684 19 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
41 555796 22 SMA IRT Sungsang Faktor Janin 
42 117776 30 S1 Wiraswasta Preeklampsia Berat Faktor Ibu
43 556167 29 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
44 556163 20 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
45 556217 22 S1 Wiraswasta Kala 2 Lama  Faktor Ibu
46 556368 19 TS IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
47 556369 39 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
48 556386 20 SD IRT Letak Sungsang  Faktor Janin 
49 556394 22 TS IRT Kala 2 lama  Faktor Ibu
50 556487 21 SD IRT Kala 2 lama  Faktor Ibu
51 556489 29 SMP Guru Kala 2 lama  Faktor Ibu
52 556562 20 SMP IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
53 536736 28 SMA IRT Ketuban Pecah Dini Faktor Ibu
54 117779 21 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
55 556792 20 SLTA Wiraswasta Letak Sungsang  Faktor Janin 
56 117750 18 SMP IRT Preeklampsia Berat Faktor Ibu
57 556932 19 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
58 556896 20 TS IRT Kala 2 lama  Faktor Ibu
59 556992 22 TS IRT Kala 2 Lama  + Gemeli Faktor Ibu dan Janin
60 556996 21 SMA IRT Kala 2 Lama+ Gemeli Faktor Ibu dan Janin
61 555698 35 S1 Wiraswasta Kala 2 Lama  Faktor Ibu
62 557062 22 SMA IRT Serotinus Faktor Ibu
63 557067 29 SMA IRT Ketuban Pecah Dini Faktor Ibu
64 557059 30 S1 IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
65 556233 19 TS IRT Oligohidramnion Faktor Ibu
66 557233 20 SMA Wiraswasta Preeklampsia Berat Faktor Ibu
67 557234 21 SD IRT Ketuban Pecah Dini Faktor Ibu
68 557286 39 SMA IRT Kala 2 lama  Faktor Ibu
69 557482 20 SD IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
70 557813 35 TS IRT F. Aktif Macet (partus lama) Faktor Ibu
71 558044 30 SD IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
72 558299 19 SMP IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
73 118666 20 SMP IRT Partus Lama  Faktor Ibu
74 558346 18 SMA IRT F. Aktif Macet (partus lama) Faktor Ibu
75 558540 20 SMA IRT Preeklampsia Berat Faktor Ibu
76 558579 33 SLTA IRT Letak Sungsang, Kala 2 Lama Faktor Ibu dan Janin
77 558457 20 SMP IRT Gawat Janin Faktor Janin 
78 558691 20 SMA IRT Letak Sungsang, Kala 2 Lama Faktor Ibu dan Janin
79 558672 41 TS IRT Ketuban Pecah Dini Faktor Ibu
80 115668 38 TS IRT Plasenta Previa Faktor Ibu
81 118669 31 SD IRT R. Penyakit Jantung Faktor Ibu
82 558758 35 SD IRT Letak Sungsang Faktor Janin 
83 558787 31 SMP IRT Kala 2 Lama Faktor Ibu
84 558801 35 SMP IRT Kala 2 Lama Faktor Ibu
85 558670 30 SD IRT Preeklampsia Berat Faktor Ibu
86 557959 21 SMP IRT Kala 2 Lama Faktor Ibu
87 558982 31 SMP IRT Serotinus Faktor Ibu
88 559085 34 SMA IRT Lilitan Tali Pusat Faktor Janin 
89 559145 22 SMA IRT Ketuban Pecah Dini Faktor Ibu
90 559183 29 SLTA Wiraswasta Hipertensi Dalam Kehamilan Faktor Ibu
91 559231 18 SMP IRT Eklampsia Faktor Ibu
92 559310 35 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
93 559661 37 TS IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
94 559672 22 TS IRT Kala 2 Lama, Letak Sungsang Faktor Ibu dan Janin
95 559688 25 SMA IRT Suspek Bayi Besar Faktor Janin 
96 559632 20 SMA Wiraswasta Kala 2 Lama  Faktor Ibu
97 559800 19 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
98 559852 33 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
99 559896 27 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
100 559891 20 TS IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
101 559904 20 SMA Wiraswasta Kala 2 Lama  Faktor Ibu
102 559922 29 SD IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
103 559936 35 SD IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
104 560033 32 SMP IRT Preeklampsia Ringan  Faktor Ibu
105 560036 19 SMP IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
106 560067 34 SD IRT Partus Lama  Faktor Ibu
107 560131 23 SMP IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
108 560246 19 SMA IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu
109 560275 35 SMA IRT Eklampsia Faktor Ibu
110 560309 33 SLTA Wiraswasta Preeklampsia Ringan  Faktor Ibu
111 560372 29 SMP IRT  Suspek bayi besar, kala 2 lama Faktor Ibu dan Janin
112 560431 21 TS IRT Kala 2 Lama, Letak Sungsang Faktor Ibu dan Janin
113 560629 23 SMA Wiraswasta Kala 2 Lama, Letak Sungsang Faktor Ibu dan Janin
114 560672 29 SD IRT Preeklampsia Berat Faktor Ibu
115 560756 27 SD IRT Kala 2 Lama  Faktor Ibu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar