KARYA
TULIS ILMIAH
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA
ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RUANG
BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH PROVINSI NTB
TAHUN 2015
Di Susun Oleh
RENI IMROATUS SHOLEHAH
NIM
: 12.9.2.112
PRODI DIII KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NAHDATUL WATHAN MATARAM
TAHUN 2014/2015
LEMBAR PERSETUJUAN
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA
ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH PROVINSI NTB
TAHUN 2015
Karya
Tulis Ilmiah ini telah disetujui, diperiksa dan siap diujikan dihadapan
Tim
Penguji Fakultas Ilmu Kesehatan UNW Mataram
Pembimbing I
|
Pembimbing II
|
( Een Eriana, SST. )
|
( Ni Putu Karunia Ekayani, SST.M.Kes. )
|
Mengatahui,
Ketua Program Studi DIII Kebidanan
(Abidaturrosydah, SST. )
NIDN. 0824128401
LEMBAR PENGESAHAN
KARYA TULIS ILMIAH
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA
ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RUANG BERSALIN RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH PROVINSI NTB
TAHUN 2015
Telah Diuji dan
Dipertahankan pada
Tanggal : ………………………..
Oleh Tim Penguji
Ketua Penguji,
Een Eriana, SST.
Penguji I
Shohipatul Mawaddah, SST.
Penguji II
Ni Putu Karunia Ekayani,
SST.M.Kes.
Mengetahui,
Fakultas Ilmu
Kesehatan UNW Mataram
Dekan,
Hj. Wilya Isnaeni, SKM.MM.
NIDN. 0831126517
ABSTRAK
Program Studi Kebidanan (DIII)
Fakultas Ilmu Kesehatan UNW Mataram
Mataram, September 2015
Muliatun
Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Berat
Bayi Lahir Rendah di Ruang Bersalin Teratai
Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB
Tahun 2015
VII + 59
halaman + 7 tabel + 1 gambar + 3 lampiran
Berdasarkan
data yang diperoleh di Rumah Sakit
Umum Daerah Provinsi NTB, angka kejadian berat bayi lahir rendah pada tahun 2013 mencapai 921 (61,3 %) dari 2798 persalinan dan pada tahun 2014 angka kejadian berat
bayi lahir rendah mencapai 329 (21,9 %) dari 1502 persalinan.
Sedangkan pada tahun 2015 dari bulan Januari sampai dengan Juli tahun 2015,
angka kejadian berat bayi lahir rendah mencapai 72 (8,48 %) dari 849 persalinan. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya berat bayi lahir rendah di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Populasinya
adalah semua bayi yang mengalami berat bayi lahir rendah di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB dari
bulan Januari sampai dengan Juli Tahun 2015 sebanyak 115 orang. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah total
sampling. Data yang dikumpulkan berbentuk data sekunder. Pengumpulan data
dilakukan dengan menggunakan alat bantu form pengumpulan data. Analisa data
dilakukan dengan menggunakan analisa univariat.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa faktor karakteristik berdasarkan umur ibu diperolessampel
terbanyak berumur 20-35 tahun sebanyak 51 orang (70,9 %), berdasarkan paritas
terbanyak pada kategori primipara 27 orang (37,5 %), berdasarkan pekerjaan
terbanyak berada pada ibu yang tidak bekerja sebanyak 39 orang (54,2 %),
berdasarkan pendidikan terbanyak pada ibu yang berpendidikan dasar sebanyak 37
orang (51,4 %), berdasarkan faktor ibu paling banyak berada pada ibu yang
mengalami ketuban pecah dini sebanyak 34
orang (47,2 %), dan berdasarkan faktor janin baling banyak berada pada
oligohidramnion sebanyak 18 bayi (25 %).
Disarankan
kepada instansi rumah sakit agar pihak rumah sakit beserta tenaga kesehatan
untuk lebih aktif dalam melakukan penyuluhan tentang pentingnya keteraturan
pemeriksaan selama hamil agar resiko terjadinya berat bayi lahir rendah dapat
dicegah.
Kata Kunci : Berat Bayi Lahir Rendah
Daftar Bacaan
: 13 (2007 – 2014)
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Karunia, Taufik serta
Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan
judul “Faktor-faktor Penyebab
Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum
Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
Penulis menyadari sepenuhnya
bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis tidak lepas dari bantuan segenap
pihak, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan banyak
terima kasih kepada:
1. TGKH
L. Gde M. Ali Wirasakti Amir Murni, Lc., MA selaku rektor Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
2.
H. Mawardi
Hamriy, MPPM., selaku Kepala Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB.
3.
Wilya Isnaeni, SKM, MM, selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Nahdlatul Wathan Mataram.
4.
Kurniatun, SST.M.Kes., selaku Wakil Dekan I Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram.
5.
Hj. Lale Syifaunnufus, S.Farm., selaku Wakil Dekan II
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram.
6.
Ns. Sofian Hadi, S.Kep., selaku Wakil Dekan III
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram.
7.
Abidaturrosyidah, SST selaku Ketua Program Studi DIII
Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram.
8.
Een Eriana,
SST., selaku Pembimbing I yang
penuh kesabaran memberikan dorongan, bimbingan, pengarahan serta saran-saran
yang bermanfaat bagi penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
9.
Ni Putu
Karunia Ekayani, SST.M.Kes., selaku Pembimbing II yang penuh kesabaran memberikan dorongan, bimbingan,
pengarahan serta saran-saran yang bermanfaat bagi penulis dalam penyusunan
Karya Tulis Ilmiah ini.
10. Seluruh dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UNW
Mataram yang memberikan bekal ilmu pengetahuan dan bimbingan kepada penulis
Demi perbaikan dan
kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini, dengan kerendahan hati penulis sangat
mengharapkan masukan, kritik ataupun saran dari semua pihak.
Semoga Allah SWT memberikan
limpahan rahmat kepada kita semua dan Karya Tulis Ilmiah ini dapat berguna
khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi
pihak lain yang memanfaatkannya
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN
JUDUL ............................................................................................ i
HALAMAN
PERSETUJUAN ............................................................................ ii
HALAMAN
PENGESAHAN ............................................................................ iii
ABSTRAK
.......................................................................................................... iv
KATA
PENGANTAR .................................................................................... .... v
DAFTAR
ISI ...................................................................................................... vii
DAFTAR
TABEL................................................................................................ ix
DAFTAR
GAMBAR .......................................................................................... x
DAFTAR
LAMPIRAN ...................................................................................... xi
BAB
I PENDAHULUAN.................................................................................... 1
A.
Latar Belakang..................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................................ 4
C.
Tujuan Penelitian................................................................................. 4
D.
Manfaat Penelitian............................................................................... 5
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................... 7
A.
Asfiksia ............................................................................................... 7
1.
Definisi ......................................................................................... 7
2.
Klasifikasi...................................................................................... 7
3.
Penyebab ....................................................................................... 8
4.
Patofisiologi................................................................................. 19
5.
Tanda dan
Gejala......................................................................... 20
6.
Diagnosis..................................................................................... 21
7.
Perubahan
Patofisiologis dan Gambaran Klinik.......................... 22
8.
Manajemen .................................................................................. 23
BAB
III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI
OPERASIONAL .......... 30
A.
Kerangka Konsep........................................................................... 30
B.
Definisi Operasional....................................................................... 31
BAB
IV METODE PENELITIAN ................................................................... 32
A.
Desain Penelitian............................................................................ 32
B.
Tempat dan Waktu
Penelitian ...................................................... 32
C.
Populasi dan Sampel....................................................................... 33
D.
Variabel Penelitian ......................................................................... 34
E.
Data Yang Dikumpulkan ............................................................... 34
F.
Cara Pengumpulan Data................................................................. 35
G.
Teknik Pengolahan Data................................................................. 35
H.
Analisis Data ................................................................................. 37
I.
Jadwal
Penelitian ........................................................................... 38
BAB V HASIL PENELITIAN ......................................................................... 39
A. Gambaran Umum RSUD Provinsi NTB ........................................... 39
B. Faktor Ibu dan Janin Yang Menyebabkan
Terjadinya Asfiksia ....... 41
C. Faktor Ibu Yang Menyebabkan Terjadinya
Asfiksia ........................ 42
D. Faktor Janin Yang Menyebabkan Terjadinya
Asfiksia ..................... 42
E. Faktor Modifikasi Ibu dan Janin ...................................................... 43
BAB VI PEMBAHASAN ................................................................................. 45
A. Faktor Ibu dan Janin Yang Menyebabkan
Terjadinya Asfiksia ....... 45
B. Faktor Ibu Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia
........................ 46
C. Faktor Janin Yang Menyebabkan Terjadinya
Asfiksia ..................... 48
D. Faktor Modifikasi Ibu dan Janin....................................................... 49
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 52
A. Kesimpulan ....................................................................................... 52
B. Saran ................................................................................................. 52
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1. Kerangka Konsep ....................................................................... .. 30
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1. Definisi
Operasional.............................................................................. 36
Tabel 4.1. Distribusi
Frekuensi Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum
Daerah Provinsi NTB Tahun 2015........................................................ 41
Tabel 4.2. Distribusi
Frekuensi Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Berdasarkan Faktor
Ibu di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015....................... 42
Tabel 4.3. Distribusi
Frekuensi Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Berdasarkan Faktor
Janin di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.................. 43
Tabel 4.4. Distribusi
Frekuensi Faktor Modifikasi Ibu dan Janin Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru
Lahir di Rumah Sakit Umum
Daerah Provinsi NTB Tahun 2015....................... 43
DAFTAR
LAMPIRAN
Lampiran 1. Master
Tabel
Lampiran 2. Lembar
Konsultasi
Lampiran 3. Format Pengumpulan Data
Lampiran 4.
Surat Penelitian
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Upaya pembangunan di bidang kesehatan yang sedang
dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan selama ini pada dasarnya untuk
mempercepat tercapainya tingkat kesejahteraan. Salah satu bentuk upaya tersebut
adalah peningkatan kesehatan ibu dan anak dengan program yang bertujuan untuk
menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka kematian bayi (AKB). Tetapi saat
ini, status kesehatan ibu dan bayi di
Indonesia masih sangat rendah. Hal
ini dapat dilihat dari Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi yang masih
tinggi (Rachmawati E,
2010).
Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi merupakan salah satu
indikator dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. World Health Organization (WHO) memperkirakan di dunia setiap
menit perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan
persalinan, dengan kata lain 1.400 perempuan meninggal setiap harinya atau
lebih kurang 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan
persalinan (WHO, 2009).
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)
merupakan salah satu indikator dalam menilai kesejahteraan suatu bangsa. Angka
kematian ibu dan angka kematian bayi di Indonesia masih tinggi, angka kematian
ibu di Indonesia pada tahun 2007 mencapai 228/100.000 kelahiran hidup dan angka
kematian bayi sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Kemudian pada tahun 2012 angka
kematian ibu meningkat lagi mencapai 359/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi sebesar 32/1000
kelahiran hidup). Sesuai dengan target MDGs, angka kematian ibu dan bayi masih
jauh di atas target yaitu angka kematian ibu tahun 2015 ditargetkan mencapai
102/100.000 kelahiran hidup dengan angka kematian bayi sebesar 23/1000
kelahiran hidup (SDKI, 2012)
Penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia adalah bayi berat lahir rendah
(29%), asfiksia (27%), trauma lahir, tetanus neonatorum,
infeksi lain dan kelainan kongenital (34%). Menurut WHO, setiap tahunnya, kira-kira 3% (3,6
juta) dari 120 juta bayi lahir mengalami asfiksia, hampir 1 juta bayi ini
kemudian meninggal (Wiknjosastro, 2008).
Di Indonesia, kematian bayi antara 45%-50% yang disebabkan oleh asfiksia
intrauterin dan persalinan prematur. Salah satu penyebab kematian bayi baru
lahir terutama dipengaruhi oleh kondisi yang berkaitan erat dengan kondisi
kehamilan ibu (Hassan H., 2010).
Angka
kematian ibu (AKI) di Nusa Tenggara Barat yaitu 360/100.000 kelahiran
hidup dan angka kematian bayi sebesar 32/1000 kelahiran hidup. Kematian Neonatal di Nusa Tenggara Barat tahun 2012 sejumlah 1.058 dengan rincian umur 0-7
hari sejumlah 924 dan umur 8-28 hari sebanyak 134 orang yang disebabkan
oleh BBLR (45,06%), asfiksia
(24,27%) dan penyebab lain (30,67%)
meliputi: trauma lahir, tetanus neonatorum, infeksi lain dan kelainan kongenital (Dikes NTB, 2012).
Asfiksia merupakan kegagalan bayi bernapas spontan segera setelah lahir
disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan
faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi
lahir. Asfiksia sangat
penting diperhatikan karena jika tidak ditangani dan diantisipasi dengan baik
dapat menyebabkan cacat (Prawirohardjo, 2010).
Menurut survey pendahuluan yang telah dilakukan di
Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB, angka kejadian asfiksia pada bayi baru
lahir pada tahun 2013 mencapai 556 (19,9%) dari 2798
persalinan dan pada tahun 2014 angka
kejadian asfiksia pada bayi baru lahir mencapai 278 (18,3%) dari 1502 persalinan.
Sedangkan pada tahun 2015 dari bulan Januari sampai dengan Juli tahun 2015,
angka kejadian asfiksia bayi baru lahir mencapai 218 (25,7%) dari 849 persalinan (Rumah Sakit Umum
Daerah Provinsi NTB, 2015).
Faktor resiko kejadian Asfiksia sangatlah beragam dan banyak hal yang
mempengaruhi dan berhubungan dengan kejadian Asfikia. Hasil penelitian oleh
Ahmad (2010), menyebutkan
bahwa terbukti terdapat hubungan bermakna antara persalinan lama dengan kejadian asfiksia bayi baru lahir.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Fahrudin (2011), menyebutkan bahwa faktor resiko
kejadian asfiksia meliputi berat bayi lahir rendah, ketuban pecah dini,
persalinan lama, tindakan sektio cesareae ,
umur ibu <20 tahun atau >35 tahun, riwayat obstetri jelek, kelainan
letak janin, dan status ANC buruk.
Dampak dari asfiksia yaitu bisa menyebabkan
keadaan menjadi hipoksia dan iskemia pada bayi. Hal ini berakibat pada
kerusakan di beberapa jaringan dan organ tubuh. Dari beberapa penelitian
dilaporkan bahwa kerusakan organ ini sebagian besar terjadi pada ginjal, sistem
saraf pusat, sistem kardiovaskuler dan paru-paru (Wiknjosastro, 2010).
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang : “Faktor-faktor Penyebab
Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru
Lahir di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang masalah di atas,
maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Apa Saja Faktor-faktor
Penyebab Terjadinya Asfiksia
Pada Bayi Baru Lahir di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB
Tahun 2015”.
C. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir
di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
2.
Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi
faktor penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
b. Mengidentifikasi
faktor komplikasi ibu meliputi
: CPD, KPD, riwayat penyakit (HDK, Penyakit Jantung), preeklampsia ringan,
eklampsia, partus kasep, partus lama, preeklampsia berat, plasenta previa dan
kehamilan serotinus di Rumah Sakit
Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
c. Mengidentifikasi
faktor janin meliputi: suspek
bayi besar, gawat janin, gemeli, letak sungsang, lilitan tali pusat dan
oligohidramnion di Rumah Sakit Umum
Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi
Institusi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi wadah profesi
kesehatan, secara khusus kebidanan dalam memperkaya literatur dan sebagai bahan
kajian untuk program-program kegiatan yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas
khususnya asfiksia. Selanjutnya diharapkan dapat digunakan dalam
pengelolahan program pelayanan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang optimal.
2. Bagi
Intitusi Pendidikan
Dapat memberikan
informasi dan pengembangan keilmuan khususnya tindakan yang dilakukan untuk
mengevaluasi persalinan pada ibu
yang bersalin dengan asfiksia pada
bayi baru lahir.
3. Bagi
Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi penulis tentang tindakan yang dilakukan untuk mengevaluasi
persalinan ibu bersalin dengan afiksia
pada bayi baru lahir
4. Bagi
Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi
penelitian selanjutnya dan dapat diteruskan dengan menambahkan variabel penelitian yang belum
pernah diteliti.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Asfiksia
1.
Pengertian
Asfiksia
Asfiksia adalah
kegagalan bayi baru lahir untuk bernapas secara spontan dan teratur sehingga
menimbulkan gangguan lebih lanjut, yang mempengaruhi seluruh metabolisme
tubuhnya (Prawirohardjo, 2010).
Asfiksia adalah kegagalan untuk memulai
dan melanjutkan pernapasan secara spontan dan teratur saat bayi
baru lahir atau beberapa saat sesudah lahir (Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Asfiksia adalah kegagalan untuk memulai dan
melanjutkan pernapasan secara spontan dan teratur saat bayi baru lahir atau
beberapa saat sesudah saat lahir (Asuhan Persalinan Normal, 2010). Teori lain
menyebutkan bahwa asfiksia ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernapas secara spontan dan teratur
setelah lahir (Wiknjosastro, 2008).
2. Klasifikasi
a.
Asfiksia Berat
(nilai APGAR 0-3)
7
|
b.
Asfiksia Sedang
(nilai APGAR 4-6)
Di sini dapat
dicoba dengan melakukan rangsangan untuk menimbulkan reflek pernapasan, hal ini
dapat dikerjakan selama 30-60 detik setelah penilaian menurut APGAR 1 menit. Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi
asfiksia adalah kerusakan pada otak (Prawirohardjo, 2007).
3.
Penyebab Asfiksia
Perkembangan
paru-paru neonatus terjadi pada menit pertama kelahiran dan kemudian disusul
dengan pernapasan teratur, bila terjadi gangguan
pertukaran gas atau pengangkutan O2 dari ibu ke janin akan terjadi
asfiksia janin atau neonatus. Winkjosastro. H (2010), penyebab kegagalan pernapasan pada bayi:
a.
Faktor ibu
1)
Pre eklampsia atau eklampsia
Pre eklampsia atau eklampsia menurut para ahli
dapat di dikumpulkan sebagai berikut : pre eklampsi adalah sindrom spesifik-kehamilan,
yang terjadi setelah minggu ke-20 kehamilan, berupa berkurangnya perfusi organ
akibat vasospasme dan aktivasi endotel (Cunningham, 2011).
Pre eklampsi merupakan kumpulan gejala yang timbul
pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias;
hipertensi, proteinuri, dan edema. Dapat disimpulkan bahwa pre eklampsi
adalah suatu kondisi spesifik kehamilan, yang terjadi setelah minggu ke-20
kehamilan, berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan
aktivasi endotel, yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, edema,
dan proteinuria.
Preeklampsia bisa mengakibatkan aliran darah ibu
melalui plasenta menjadi berkurang, sehingga aliran oksigen dari ke janin
menjadi berkurang dan menimbulkan terjadinya gawat janin dan berlanjut sebagai
asfiksia pada bayi baru lahir.
2) Partus
lama atau partus macet
Partus lama
didefinisikan sebagai permulaan partus yang reguler, kontraksi uterus yang
ritmis dan menyebabkan dilatasi serviks akan tetapi partus terjadi dalam waktu
lebih dari 24 jam. Partus tidak maju atau macet adalah terjadi gangguan
atau hambatan dalam penurunan kepala bayi melewati pelvis meskipun kontraksi
uterusnya baik. Obstruksi biasanya disebabkan karena panggul sempit, bayi
besar, ataupun malpresentasi.
Partus lama
merupakan persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primipara dan
lebih dari 18 jam pada multipara. Bila persalinan berlangsung terlalu
lama, maka bisa menimbulkan terjadinya
komplikasi baik terhadap ibu dan bayi akan mengalami asfiksia.
Persalinan pada
primi lebih lama 5-6 jam dari pada multi. Bila persalinan berlangsung lama, dapat menimbulkan
komplikasi-komplikasi baik terhadap ibu maupun terhadap anak, dan dapat
meningkatkan angka kematian ibu dan anak. Partus lama merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya asfiksia dan dapat menimbulkan komplikasi
baik terhadap ibu maupun pada bayi serta dapat meningkatkan angka kematian ibu dan
bayi.
Menurut Harjono partus lama merupakan fase
terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga
timbul gejala-gejala seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu, serta asfiksi
dan kematian janin dalam kandungan (KJDK), dan insiden partus lama menurut
penelitian adalah 2,8 – 4,9%. (Mochtar, 2008)
Partus lama dapat
menyebabkan kejadian asfiksia pada bayi baru lahir, hal ini disebabkan karena semakin
lama janin berada di pintu panggul, maka janin akan mengalami hipoksia sehingga
terjadilah asfiksia.
3) Partus Kasep
Partus kasep
adalah suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama
sehingga timbul komplikasi pada ibu, anak, atau didapatkan adanya infeksi
intrauterina. (Sarwono, 2008).
4) Kehamilan Serotinus
Kehamilan postterm
adalah kehamilan yang berlangsung 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung
dari hari pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid
rata-rata 28 hari (Sarwono, 2010).
Kehamilan lewat
waktu (Serotinus) adalah kehamilan melewati waktu 294 hari atau 42 minggu.
Kehamilan lewat dari 42 minggu ini didasarkan pada hitungan usia kehamilan
(dengan rumus neagle), menurut Anggarani (2007 : 83). Rumus neagle ini adalah
untuk menghitung tanggal kelahiran bayi yaitu (tanggal +7, bulan -3, tahun +1)
atau (tanggal +7, bulan +9, tahun +0), (Trihendradi, 2010).
Kehamilan postterm
adalah kehamilan yang berlangsung melebihi 42 minggu (294 hari) atau melebihi
dua minggu dari perkiraan tanggal persalinan dihitung mulai Hari Pertama Haid
Terakhir (HPHT) menurut rumus Naegele (SPM Obsgin, 2010).
5) Plasenta Previa
Plasenta merupakan
bagian dari kehamilan yang penting, mempunyai bentuk bundar dengan ukuran 15 x
20 cm dengan tebal 2,5 sampai 3 cm dan beratnya 500 gram. Plasenta merupakan
organ yang sangat aktif dan memiliki mekanisme khusus untuk menunjang pertumbuhan
dan ketahanan hidup janin. Hal ini termasuk pertukaran gas yang efisien,
transport aktif zat-zat energi, toleransi imunologis terhadap imunitas ibu pada
alograft dan akuisisi janin. Melihat pe ntingnya peranan dari plasenta maka
bila terjadi kelainan pada plasenta akan menyebabkan kelainan pada janin
ataupun mengganggu proses persalinan. Salah satu kelainan pada plasenta adalah
kelainan implantasi atau disebut dengan plasenta previa (Manuaba, 2005).
Plasenta previa
adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada
segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan
lahir (ostium uteri internal) dan oleh karenanya bagian terendah sering kali
terkendala memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) atau menimbulkan kelainan janin
dalam rahim. Pada keadaan normal plasenta umumnya terletak di korpus uteri
bagian depan atau belakang agak ke arah fundus uteri (Prawirohardjo, 2008)
6) CPD
Disproporsi
Sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara kepala
janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina.
Disproporsi sefalopelvik disebabkan oleh panggul sempit, janin yang besar
ataupun kombinasi keduanya
CPD terjadi jika
kepala bayi atau ukuran tubuh bayi lebih besar dari pada luas panggul ibu,
sehingga dalam proses persalinan, bayi tidak mungkin dapat melewati panggul
ibu, jika telah diketahui adanya kondisi CPD, maka jalan paling aman untuk
melahirkan adalah melalui bedah sesar (Sulaiman, 2006).
7)
Ketuban Pecah Dini
Menurut Wiknjosastro (2008) ketuban
pecah dini ditandai dengan keluarnya cairan berupa air-air dari vagina setelah
kehamilan berusia 22 minggu dan dapat dinyatakan pecah dini jika terjadi
sebelum proses persalinan berlangsung. Dari sudut medis secara garis besar 50%
persalinan preterm terjadi spontan, 30% akibat ketuban pecah dini (KPD), dan
sisanya 20% dilahirkan atas indikasi ibu/ janin. Pecahnya kulit ketuban secara
spontan sebelum kehamilan cukup bulan banyak dihubungkan dengan amnionitis yang
menyebabkan terjadinya lokus minoris pada kulit ketuban. Amnionitis ini diduga
sebagai dampak asendens infeksi saluran kemih.
Ketuban pecah dini dapat disebabkan
oleh berbagai hal seperti; serviks inkompeten, peningkatan tekanan intrauterin misalnya
overdistensi uterus pd keadaan hidramnion, trauma, kelainan letak misalnya
letak lintang sehingga tidak ada bagian terendah yang me nutupi pintu atas
panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah (Kamisah: 2009).
8)
Hipertensi Dalam Kehamilan
Hipertensi gestasional (HDK) adalah
kenaikan tekanan darah diastolik 15 mmHg atau >90 mmHg dalam 2 pengukuran
berjarak 1 jam atau tekanan darah diastolik sampai 110 mmHg. Tekanan darah
diatolik merupakan indikator dalam penanganan hipertensi dalam kehamilan karena
tekanan darah diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak tergantung keadaan
emosional pasien (Saifuddin, 2006).
Hipertensi dalam kehamilan yaitu
hipertensi pada kehamilan yang timbul pada trimester akhir kehamilan, namun
tanpa disertai gejala dan tanda preeklamsia, bersifat sementara dan tekanan
darah kembali normal setelah melahirkan (postpartum). Hipertensi gestasional
berkaitan dengan timbulnya hipertensi kronik suatu saat di masa yang akan datang.
9)
Preeklampsia
Berat
Pre eklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang
ditandai dengan timbulnya hipertensi lebih atau sama dengan 160/110 mmHg
diserta proteinuria pada kehamilan 20 minggu atau lebih (Mochtar, 2008).
Pre Eklampsia
Berat adalah tekanan darah sistolik ≥
160 mmHg atau diastolik ≥ 110 mmHg.
Protein >2,0 gr dalam 24 jam muncul pertama kali selama kehamilan dan
menurun setelah persalinan, jumlah trombosit < 100.000 sel per mm3.
Peningkatan aktivitas enzim hati, gejala gangguan saraf, nyeri kepala menetap,
gangguan penglihatan, nyeri ulu hati yang menetap dan oliguria 400 mililiter
dalam 24 jam. (Varney, 2009 hal 645).
10) Preeklampsia
Ringan
Preeklamsi adalah
penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, proteinuria dan edema yang timbul
karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke 3 pada
kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa (Ilmu
kebidanan, 2008).
Preeklamsi adalah
kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang
terdiri dari hipertensi, proteinuria dan edema, ibu tersebut tidak menunjukan
tanda- tanda kelainan vascular atau hipertensi sebelumnya (Muchtar R, 2008)
Preeklamsi ringan
adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau
segera setelah persalinan (Ilmu Kebidanan Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiharjo, Fak UI Jakarta, 2008).
b.
Faktor Janin
1)
Gemelli
Gamelli adalah
suatu kehamilan dengan dua jenis atau lebih. Kejadian kehamilan ganda
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya, adalah faktor genetik dan
keturunan, umur dan parietas, ras atau suku bangsa dan obat pemicu ovulasi,
keadaan ini termasuk keadaan kategori resiko tinggi dalam kehamilan dan
persalinan.
2)
Oligohidramnion
Oligohidramnion adalah suatu
keadaan dimana air ketuban kurang dari normal yaitu kurang dari 500 mL. Marks
dan Divon (2010)
mendefinisikan oligohidramnion bila pada pemeriksaan USG ditemukan bahwa index
kantong amnion 5 cm atau kurang dan insiden oligohidramnion 12% dari 511
kehamilan pada usia kehamilan 41 minggu.
Oligohidramnion mengacu pada
defisiensi besar volume cairan amnion. Berkurangnya volume cairan amnion dapat
menimbulkan hipoksia janin sebagai akibat dari kompresi taki pusat karena
gerakan janin atau kontraksi rahim. Selain itu, lintasan mekonium janin ke
dalam volume cairan amnion yang tereduksi menghasilakan suatu suspensi tebal
dan penuh pertikel yang dapat menyebabkan ganguan pernapasan janin.
Oligohidramnion
perlu digolongkan sesuai dengan etiologinya. Oligohidramnion berhubungan dengan
keterbelakangan pertumbuhan dalam rahim dan pada 60 persen kasus. Bila
dihungakan dengan bukti ultrasonic keterbelakangan pertumbuhan asimetrik,
gangue janin sangat mungkin terjadi, kasus-kasus itu yang diakibatkan oleh
ruptura membaran janin yang spontan mungkin tidak berhubungan dengan gangguan
janin sebelumnya. Oligohidramnion mungkin terjadi sebagai akibat tekanan janin
in utero ; sekresi hormone penekan janin (katekolamin, vasopressin) dapat
menghambat resopsi cairan paru-paru lewat penelanan oleh janin. Akhirnya,
terdapat kasus yang berhubungan dengan berbagai Janis cacat janin, misalnya
sindroma Potter (agenesis ginjal), yang butuh pemeriksaan ultarsonik dan
genetic secara rinci.
3) Letak
Sungsang
Letak sungsang
adalah letak memanjang dengan bokong sebagai bagian yang terendah (presentase
bokong). Letak sungsang dibagi sebagai berikut :
a)
Letak sungsang murni yaitu bokong saja yang menjadi
bagian depan sedangkan kedua tungkai lurus keatas.
b)
Letak bokong kaki.
c)
Letak lutut.
d)
Letak kaki.
Frekuensi letak
sungsang murni lebih tinggi pada kehamilan muda dibanding kehamilan tua dan
multigravida lebih banyak dibandingkan dengan primigravida.
Menurut
Prawirohardjo (2008), pada persalinan letak sungsang dengan cara pervaginam
kelahiran kepala yang lebih lama dari 8 menit setelah umbilicus dilahirkan akan
membahayakan kehidupan janin. Selain itu, bila janin bernafas sebelum hidung
dan mulut lahir dapat membahayakan, karena mucus yang terhisap dapat menyumbat
jalan nafas (Prawirohardjo, 2008).
Letak sungsang
menyebabkan prognosis yang buruk pada ibu maupun bayi, pada ibu bisa berupa
robekan pada perinium lebih besar, ketuban lebih cepat pecah, dan partus lebih
lama, sehingga akan mudah terkena infeksi. Prognosis tidak begitu baik bagi
bayi karena adanya gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong lahir dan
juga setelah perut lahir, tali pusat yang terjepit antara kepala dan panggul,
bayi dimungkinkan bisa menderita asfiksia (Manuaba, 2009).
4) Suspek
Bayi Besar
Bayi baru lahir
yang berat badan lahir pada saat persalinan lebih dari 4000 gram. Bayi baru
lahir yang berukuran besar tersebut biasanya dilahirkan cukup bulan. Tetapi
bayi preterm dengan berat badan dan tinggi menurut umur kehamilan mempunyai
mortalitas yang secara bersama lebih tinggi dari pada bayi yang dilahirkan
cukup bulan dengan ukuran yang sama. Diabetes dan obesitas ibu merupakan faktor
predisposisi.
5) Gawat
Janin
Gawat janin
terjadi bila janin tidak menerima Oksigen cukup, sehingga mengalami hipoksia. (Abdul
Bari
Saifuddin dkk, 2010). Secara luas istilah gawat janin telah banyak
dipergunakan, tapi didefinisi istilah ini sangat miskin. Istilah ini biasanya
menandakan kekhawatiran obstetric tentang obstetric tentang keadaan janin, yang
kemudian berakhir dengan seksio secarea atau persalinan buatan lainnya.
Keadaan janin biasanya dinilai dengan
menghitung denyut jantung janin (DJJ). Dan memeriksa kemungkinan adanya
mekonium didalam cairan amniom. Sering dianggap DJJ yang abnormal, terutama
bila ditemukan mekonium, menandakan hipoksia dan asidosis. Akan tetapi, hal
tersebut sering kali tidak benarkan. Misalnya, takikardi janin dapat disebabkan
bukan hanyaoleh hipoksia dan asidosis, tapi juga oleh hipotemia, sekunder dari
infeksi intra uterin.
Keadaan tersebut
biasanya tidak berhubungan dengan hipoksia janin atau asidosis.sebaliknya, bila
DJJ normal, adanya mekonium dalam cairan amnion tidak berkaitan dengan
meningkatnya insidensi asidosis janin. Untuk kepentingan klinik perlu
ditetapkan criteria apa yang dimaksud dengan gawat janin. Disebut gawat janin
bila ditemukan bila denyut jantung janin diatas 160 / menit atau dibawah 100 /
menit, denyut jantung tidak teratur , atau keluarnya mekonium yang kental pada
awal persalinan.
6) Lilitan
Tali Pusat
Lilitan tali pusat
adalah tali pusat yang membentuk lilitan sekitar badan janin, bahu, tungkai
atas/ bawah dan leher. Lilitan tali pusat terjadi karena gerak janin yang
berlebihan, tali pusat yang panjang, janin kecil dan polihidramnion. Lilitan
tali pusat bisa terjadi dimana saja dari tubuh janin, tetapi yang sering
terjadi adalah di bagian leher (nuchal cord). Jumlah lilitan bisa sekali
(terjadi pada 21,3 % kehamilan) atau lebih dari sekali lilitan (terjadi pada
3,4 % kehamilan)
4.
Patofisiologi
Pernapasan adalah
tanda vital pertama yang berhenti ketika bayi baru lahir kekurangan oksigen.
Pada periode awal bayi akan mengalami napas cepat (rapid breathing) yang disebut dengan gasping primer. Tahap awal asfiksia ditandai dengan
periode pernapasan cepat, bunyi jantung, dan tekanan darah yang meningkat,
kemudian redistribusi aliran darah ke jantung, otak dan adrenal agar kebutuhan
O2, bertambahnya aktivitas simpats dan kemoreseptor, bersama-sama
dengan pelepasan vasopressin Arginin (Kosim, 2011).
Hipoksia juga merangsang kemoreseptor, melalui regulasi
vervus vagus akan menyebabkan bradikardia, jika hipoksia berlanjut akan terjadi
penurunan PH dan Asidosis Metabolik. Jika Asfiksia sangat berat akan terjadi
abgi autoregulasi aliran darah ke otak dan jantung sehingga menyebabkan
penurunan tekanan darah dan curah jantung. Selama asfiksia berat aliran darah ke otak lebih banyak ke batang
otak dari pada ke serebrum. Akibat pengiriman O2 yang berkurang ke
otak, maka akan terjadi focus injury
di daerah lairan cortex. Akibat redistribusi darah ke otak di jantung, ginjal
akan mengalami ischemia injury tubulus ginjal yang proksimal jika proses
berlanjut akan terjadi nekrosis epiteltubulus (Kosim, 2011).
5.
Tanda dan Gejala
a. Tidak
bernapas spontan atau megap-megap
b. Warna
kulit kebiruan
c. Kejang
d. Penurunan
kesadaran
e. Pernapasan
cuping hidung
f. Pernapasan
cepat
g. Nadi
cepat
h. Nilai
apgar <6 (Mochtar, 2008).
6.
Diagnosis Asfiksia
a.
Anamnesis
1) Gangguan
atau kesulitan waktu lahir (perdarahan antepartum, lilitan tali pusat,
sungsang, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
2) Lahir
tidak bernapas/ menangis
3) Air
ketuban bercampur mekonium (Mochtar, 2008).
b.
Pemeriksaan
Fisik
1)
Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap
2)
Denyut jantung kurang dari 100x/ menit
3)
Kulit sianosis atau pucat
4)
Tonus otot menurun
5)
Untuk diagnosis asfiksia tidak perlu menunggu skor Apgar.
Nilai Apgar adalah cara yang sangat bermanfaat
untuk mengevaluasi bayi adalah sistem
nilai apgar yang diterapkan pada satu menit dan 5 menit setelah lahir. Nilai
apgar menit pertama menentukan perlunya resusitasi segera. Kebanyakan bayi pada
saat lahir memiliki kondisi yang bagus, yang diperlihatkan dengan nilai apgar 7
sampai 10, dan tidak memerlukan bantuan selain mungkin penyedotan nasofaring
sederhana (Prawirohardjo, 2008).
Tabel 2.1.
Sistem Penilaian Apgar
Tanda
|
0
|
1
|
2
|
Frekuensi
denyut jantung
|
Tidak ada
|
Dibawah 100
|
Diatas
100
|
Usaha
bernapas
|
Tidak ada
|
Pelan, tidak teratur
|
Baik,
menangis
|
Tonus
otot
|
Fleksi
|
Ekstremitas sedikit fleksi
|
Gerak
aktif
|
Iritabilitas
|
Tidak ada respon
|
Meringis
|
Menangis
kuat
|
Warna
Kulit
|
Biru, pucat
|
Badan merah jambu, ekstremitas biru
|
Seluruhnya
merah jambu
|
Sumber: Prawirohardjo, 2008
7.
Perubahan Patofisiologis dan Gambaran Klinik
Pernapasan spontan bayi baru lahir bergantung
pada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri
selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi. Proses
ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernapasan
agar terjadi “Primary Gasping“ yang kemudian akan berlanjut dengan
pernafasan teratur (Jumes, 2008).
Sifat
asfiksia ini tidak mempunyai pengaruh buruk karena reaksi adaptasi bayi dapat
mengatasinya. Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen
selama kehamilan atau persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat.
Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan
menyebabkan kematian (Mochtar, 2008).
Asfiksia
yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnue disertai dengan penurunan frekuensi jantung,
selanjutnya bayi akan diikuti pernapasan teratur. Pada penderita asfiksia berat usaha bernapas ini tidak nampak dan bayi selanjutnya
berada pada periode kedua. Pada tingkat ini disamping bradikardi ditemukan pula
penurunan tekanan darah. Di samping adanya perubahan klinis akan terjadi pula
gangguan metabolisme dan perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi (Mochtar, 2008).
8.
Manajemen
a.
Resusitasi
1) Begitu bayi lahir tidak menangis, maka dilakukan langkah awal terdiri dari:
a)
Hangatkan
bayi di bawah pemancar panas
atau lampu
b)
Hangatkan
kepala bayi sedikit ekstensi
c)
Isap
lendir dari mulut kemudian hidung
d)
Keringkan
bayi sambil merangsang taktil dengan menggosok punggung atau menyentil ujung
jari dan mengganti kain yang basah dengan yang kering
e)
Reposisikan
kepala bayi
f)
Nilai
bayi: usaha napas, warna kulit dan
denyut jantung.
2) Bila bayi tidak bernapas
lakukan ventilasi tekanan positif (VTP) dengan memakai balon sungkup selama 30
detik dengan kecepatan 40-60 kali permenit.
3) Nilai bayi: usaha napas, warna kulit dan denyut jantung
4) Bila belum bernapas dan denyut jantung 60 kali permenit lanjutkan VTP dengan kompresi
dada secara terkoordinasi selama 30 detik.
5) Nilai Bayi: usaha napas, warna kulit dan
denyut jantung. Bila denyut jantung <60 x permenit, beri epineprin dan
lanjutkan VTP dan kompresi dada.
Bila denyut jantung >60x permenit kompresi dada
dihentikan, VTP dilanjutkan. Pemasangan pipi ET bisa di lakukan pada setiap tahapan Resusitasi
(JNPK-KR, 2007).
Penanganan
resusitasi juga lebih lengkap dapat dilakukan dengan:
a) Mencegah
kehilangan panas
b) Letakkan
bayi di bawah radiant warmer
c) Keringkan
tubuh dan kepala bayi dengan cepat
d) Sisihkan
kain yang basah/ ganti dengan kain yang kering
e) Ventilasi
/membuka jalan napas
f) Letakkan
bayi terlentang pada alas datar
g) Jika
cairan kebetulan tidak tercemar mekonium, isap mulut dan hidung dengan
menggunakan ekstraktor mukus hulb syringe, suction mekanik
h) Jika
cairan mekonium kental/ bayi depersi, bayi diletakkan di bawah radiant
warmer, isap mekonium dari hipofering, dan daerah trakea dengan menggunakan
endotracheal tube (JNPK-KR, 2007).
i)
Menilai Pernapasan
(1)
Jika pernapasan adekuat, penilaian dilakukan dengan menghitung
denyut jantung
(2)
Jika frekuensi denyut jantung >100x/menit, nilai
turgor kulit, jika kulit warna biru diberikan O2, bila warna kulit
warna merah/sianosis perifer, tidak perlu diberi O2 hanya
diobservasi saja.
(3)
Jika bayi apnue, berikan stimulasi taktil pada telapak
kaki atau tubuh belakang.
(4)
Jika tidak ada respon lakukan positive pressure
ventilation (ventilasi
tekanan positif) dengan O2 melalui ambubag dan masker/ ambubag dan
ETT.
(5)
Jika frekuensi denyut jantung >100x/menit, bayi
bernapas spontan VTP dihentikan,
O2 diberikan secara freeflow. O2 dihentikan bila
kulit warna merah secara menetap.
(6)
Jika frekuensi denyut jantung 60-100 x/menit, PTV
dilanjutkan jika tidak meningkat disertai kompresi jantung (Manuaba, 2007).
j)
Kompresi Jantung
(1)
Kompresi jantung harus diserta ventilasi, rasio
kompresi jantung dan ventilasi 3:3:1, kompresi jantung selama 1 ½ detik,
ventilasi ½ detik, dilakukan dengan 2 cara ibu jari dan dua jari.
(2)
Jika denyut jantung nol atau 80x/ menit. Kompresi jantung dan ventilasi
dilanjutkan sampai denyut jantung >100 x/menit bayi napas spontan.
(3)
Jika denyut jantung nol atau tetap 80x/ menit. Kompresi jantung dan ventilasi
dilanjutkan (Cunningham, 2005).
k) Pemberian
obat
(1) Beri
epinefrin 1:10.000, dosis 0,2-0,3 ml/kgBB i.y atau ETT jika denyut jantung
>100x/ menit, pemberian obat
dihentikan jika denyut jantung <80x/ menit,
pemberian epinefrin diulang 3-5 menit
(2) Jika
tidak hipovolemi, berikan bikarbonas
natrikus dosis 2 cmcg/ kg BB IV
selama 2 menit
(3) Jika
tidak dapat hipovolemi berikan volume expander (whole blood, albumin selain, NaCl Fisiologis, RL) dosis 10 ml/kg BB IV berikan selama 5-10 menit
(4) Jika
dengan pemberian epinefrin, volume expander ventilasi dan kompresi jantung
tidak memberikan respon frekuensi denyeut jantung tetap <100x/ menit, dan hipotensi menetap, bayi
diberikan dopamin
(Wiknjosastro, 2007).
b. Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
1) Pemasangan sungkup
Pasang dan pegang sungkup agar menutupi
mulut dan hidung bayi.
2) Ventilasi percobaan (2 kali)
a) Lakukan tiupan
udara dengan tekanan 30 cm air
b) Tiupan awal sangat penting untuk membuka
alveoli paru agar bayi bisa mulai bernapas dan sekaligus menguji apakah jalan napaas terbuka
atau bebas.
c)
Lihat apakah dada bayi mengembang
d) Bila tidak
mengembang, periksa posisi kepala, pastikan posisinya sudah benar.
e) Periksa pemasangan sungkup dan pastikan tidak
terjadi kebocoran.
f) Periksa ulang apakah jalan napas tersumbat cairan atau lendir (isap kembali) dan
bila dada mengembang, lakukan tahap berikutnya.
Ventilasi definitif (20 kali dalam
30 detik).
a) Lakukan tiupan dengan tekanan 20 cm air, 20 kali dalam 30 detik.
b) Pastikan udara masuk (dada mengembang)
dalam 30 detik tindakan.
Lakukan penilaian bayi
a) Bila bayi sudah bernapas normal, hentikan ventilasi dan pantau bayi. Bayi diberikan asuhan pasca resusitasi.
b) Bila bayi belum bernapas atau megap-megap, lanjutkan ventilasi dengan tekanan 20 cm air, 20 kali untuk 30 detik
berikutnya.
c) Evaluasi hasil ventilasi setiap 30 detik
d) Lakukan penilaian bayi apakah bernapas, tidak bernapas atau megap-megap.
1) Bila bayi sudah mulai bernapas normal, hentikan ventilasi dan
pantau bayi dengan seksama, berikan asuhan pasca resusitasi.
2) Tetapi bila bayi tidak bernapas atau megap-mega,teruskan ventilasi dengan
tekanan 20cm air, 20 kali untuk 30 detik
berikutnya dan nilai hasilnya setiap 30 detik (Cunningham, 2005).
e) Siapkan Rujukan bila bayi belum bernapas normal sesudah 2
menit di ventilasi:
2) Minta keluarga membantu persiapan rujukan
3) Teruskan resusitasi sementara persiapan
rujukan dilakukan.
f) Bila bayi tidak bisa di rujuk:
1) Lanjutkan ventilasi sampai 20 menit
2) Pertimbangkan untuk menghentikan tindakan
resusitasi jika setelah 2 menit upaya ventilasi tidak berhasil.
3) Bayi yang tidak bernapas normal selama 20
menit diresusitasi akan mengalami kerusakan pada otak sehingga bayi akan
menderita kecacatan atau meninggal (Wiknjosastro, 2008).
c.
Asuhan Pasca
Resusitasi
Asuhan pasca
resusitasi diberikan sesuai dengan keadaan bayi setelah menerima tindakan
resusitasi. Asuhan pasca resusitasi
dilakukan pada keadaan:
1)
Resusitasi
berhasil: bayi menangis dan bernapas normal sesudah langkah awal/ sesudah ventilasi. Perlu pemantauan dan dukungan
2)
Resusitasi
tidak atau kurang berhasil, bayi perlu rujukan yaitu sesudah ventilasi
2 menit belum bernapas atau bayi sudah bernapas tetapi masih megap-megap atau
pada pemantauan ternyata kondisinya makin memburuk
3)
Resusitasi
gagal setelah 20 menit di ventilasi, bayi gagal bernapas.
Pada kasus-kasus
kematian mendadak yang diteliti oleh ahli patologi forensik, setelah dilakukan
pemeriksaan yang sesuai sekitar 75% ditemukan sebagai kematian mendadak yang
wajar atau alamiah
(Prawirohardjo, 2007).
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
A.
Kerangka
Konsep
Faktor penyebab asfiksia
|
Asfiksia
Bayi Baru Lahir
|
Faktor Ibu
a.
CPD
b.
KPD
c.
Riwayat Penyakit (HDK, Riwayat Penyakit Jantung)
d.
PER
e.
Eklampsia
f.
Partus kasep
g.
Partus lama
h.
PEB
i.
Plasenta previa
j.
Kehamilan serotinus
|
Faktor Janin
a.
Suspek Bayi Besar
b.
Gawat Janin
c.
Gemeli
d.
Letak Sungsang
e.
Lilitan Tali Pusat
f.
Oligohidramnion
|
Modifikasi
faktor ibu dan janin
|
:
Tidak diteliti
|
:
Diteliti
|
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian .
30
|
B.
Definisi Operasional
Definisi operasional
adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang
diukur oleh variabel yang bersangkutan. (Notoatmodjo, 2010).
Tabel 3.1 Definisi
Operasional
No
|
Variabel
|
Definisi
Operasional
|
Alat
Ukur
|
Hasil
Ukur
|
Skala
|
1
|
Asfiksia
|
Asfiksia adalah kegagalan bayi baru lahir bernapas
secara spontan dan teratur
|
Rekam
Medik
|
||
2
|
Faktor penyebab terjadinya asfiksia
|
Faktor yang menyebabkan terjadinya asfiksia baik
dari faktor ibu, faktor janin
|
Rekam
Medik
|
a. Faktor
ibu dan janin
b. Faktor
ibu
c.
Faktor janin
|
Nominal
|
2
|
Faktor ibu
|
Faktor yang menyebabkan terjadinya asfiksia dari ibu
|
Rekam
Medik
|
a.
CPD
b. KPD
c. Riwayat Penyakit (HDK,
Riwayat Penyakit Jantung)
d. PER
e. Eklampsia
f. Partus kasep
g. Partus lama
h. PEB
i. Plasenta previa
j. Kehamilan serotinus
|
Nominal
|
3
|
Faktor janin
|
Faktor yang menyebabkan terjadinya asfiksia dari ibu
|
Rekam
Medik
|
a. Suspek Bayi Besar
b. Gawat Janin
c. Gemeli
d. Letak Sungsang
e. Lilitan Tali Pusat
f. Oligohidramnion
|
Nominal
|
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian
Disain penelitian ini bersifat Deskriptif. Dari
segi waktu penelitian ini bersifat crossectional
karena variabel faktor penyebab terjadinya
asfiksia sebagai variabel Independen
dan kejadian asfiksia sebagai variabel Dependen
dikumpulkan pada waktu sesaat dan bersamaan (Notoatmodjo, 2010) .
Dari jenis data yang dikumpulkan bersifat penelitian sekunder karena data faktor predisposisi
yang menyebabkan terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir dan
data kejadian asfiksia bayi baru
lahir diambil dari data yang sudah tersedia di
Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum
Daerah Provinsi NTB Tahun 2015 dan tercatat di Rekam Medik.
B.
Tempat dan Waktu Penelitian
1.
Lokasi Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah
Provinsi NTB, pemilihan lokasi
tersebut dengan alasan:
a.
Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB merupakan pelayanan rujukan dan non rujukan kasus
persalinan dan memiliki fasilitas pelayanan maternal dan neonatal.
b.
c. Belum pernah dilakukan penelitian yang serupa
|
32
|
2.
Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September
Tahun 2015.
C.
Populasi
dan Sampel
- Populasi
Populasi adalah sejumlah besar subyek yang mempunyai
karakteristik tertentu, karakteristik subyek ditentukan sesuai dengan ranah dan
tujuan penelitian (Sastroasmoro, 2008).
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu
bersalin yang bayinya mengalami
asfiksia di Ruang Bersalin Rumah
Sakit Umum Daerah Provinsi NTB dari bulan Januari sampai dengan Juli Tahun
2015 sebanyak 115 orang (Rumah Sakit
Umum Daerah Provinsi NTB, 2015).
- Sampel
Sampel adalah bagian yang diambil dari
keseluruhan obyek yang diteliti dan mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo,
2010).
Sampel dalam penelitian ini adalah semua
ibu bersalin yang bayinya mengalami
asfiksia di Ruang Bersalin Rumah
Sakit Umum Daerah Provinsi NTB dari bulan Januari sampai dengan Juli Tahun
2015 sebanyak 115 orang.
- Tehnik Sampling
Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah teknik total sampling
yaitu pengambilan sampel dengan
mengambil semua anggota populasi menjadi sampel sehingga besar sampel yang
digunakan dalam penelitian ini sebanyak 115 orang (Alimul,
2007)
D. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan
sebagai ciri, sifat atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan
penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu, misalnya umur, jenis
kelamin, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, dan sebagainya (Notoatmodjo,
2005). Pada penelitian ini variabel penelitiannya meliputi : karakteristik ibu
yang meliputi: (umur, pekerjaan
dan pendidikan), faktor ibu meliputi: (CPD, KPD, riwayat penyakit (HDK, penyakit
jantung), preeklampsia ringan,
partus kasep, partus lama, preeklampsia berat, plasenta previa dan kehamilan
serotinus) dan faktor janin meliputi:
(suspek bayi besar, gawat janin, gemeli, letak
sungsang, lilitan tali pusat dan oligohidramnion) di Rumah Sakit Umum
Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
E.
Data Yang Dikumpulkan
Data yang dikumpulkan dalam
penelitian ini berbentuk data sekunder yang meliputi :
1.
Data tentang faktor penyebab terjadinya asfiksia pada
bayi baru lahir di di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
2.
Data tentang faktor
ibu yang menyebabkan terjadinya asfiksia bayi baru lahir di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
3.
Data tentang faktor
janin yang menyebabkan terjadinya asfiksia bayi baru lahir di Ruang Bersalin Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
4.
Data tentang gambaran umum Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
F.
Cara Pengumpulan Data
1.
Data tentang faktor
penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir dikumpulkan dengan mengutip dari register dengan
alat bantu Form Pengumpulan Data.
2.
Data tentang faktor
komplikasi ibu yang menyebabkan
terjadinya asfiksia bayi baru lahir dikumpulkan dengan mengutip dari register dengan alat bantu Form Pengumpulan Data.
3.
Data tentang faktor janin yang menyebabkan terjadinya asfiksia bayi baru lahir dikumpulkan dengan mengutip dari register dengan alat bantu Form Pengumpulan Data.
4. Data tentang Gambaran umum lokasi penelitian dikumpulkan
melalui buku profil Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB.
G.
Tekhnik Pengolahan Data
Pengolahan data yang dipakai dengan cara : (Budiarto, 2008)
1.
Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa
kembali kebenaran data yang diperoleh atau di kumpulkan yang meliputi faktor
yang menyebabkan terjadinya asfiksia
pada bayi baru lahir.
2.
Coding
Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik
(angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori :
Kategori :
a.
Data tentang faktor penyebab terjadinya asfiksia diolah
dan dikelompokkan menurut :
1)
Faktor ibu dan janin :
diberi kode 1
2)
Faktor ibu :
diberi kode 2
3)
Faktor janin :
diberi kode 3
b.
Data tentang faktor ibu diolah dan dikelompokkan
menurut :
1) CPD :
diberi kode 1
2)
KPD :
diberi kode 2
3)
Riwayat Penyakit (HDK, Penyakit Jantung) : diberi kode 3
4)
PER :
diberi kode 4
5)
Eklampsia :
diberi kode 5
6)
Partus kasep :
diberi kode 6
7)
Partus lama :
diberi kode 7
8)
PEB :
diberi kode 8
9)
Plasenta previa :
diberi kode 9
10) Kehamilan
serotinus :
diberi kode 10
c.
Data tentang faktor janin diolah dan dikelompokkan
menurut :
1) Suspek
Bayi Besar :
diberi kode 1
2) Gawat
Janin :
diberi kode 2
3) Gemeli :
diberi kode 3
4) Letak
Sungsang :
diberi kode 4
5) Lilitan
Tali Pusat :
diberi kode 5
6) Oligohidramnion :
diberi kode 6
3.
Tabulasi
Tabulasi adalah kegiatan memasukkan data
yang telah di kumpulkan ke master tabel atau data base computer, kemudian
membuat distribusi frekuensi sederhana atau membuat tabel kontigensi.
H.
Analisa Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah analisa univariat yaitu analisa data yang digunakan untuk
menggambarkan atau mendeskripsikan data tentang karakteristik subyek
penelitian. Analisa yang digunakan dengan deskriptif menggunakan tabel
distribusi frekuensi dari variabel yang faktor penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir.
Analisa Univariat dapat di hitung
dengan rumus :
P =
Keterangan :
P = Persentase
F = Frekuensi
n = Jumlah Sampel
I.
Jadwal Penelitian
Tabel 4.1 Jadwal Penelitian
No
|
Uraian Kegiatan
|
Mei
2015
|
Juni
2015
|
Juli
2015
|
Agustus
2015
|
September
|
|||||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1
|
Persiapan judul dan studi pustaka
|
||||||||||||||||||||
2
|
Pengambilan data
|
||||||||||||||||||||
3
|
Penyusunan proposal
|
||||||||||||||||||||
4
|
Ujian proposal
|
||||||||||||||||||||
5
|
Revisi proposal
|
||||||||||||||||||||
6
|
Penelitian
|
||||||||||||||||||||
7
|
Penyusunan KTI
|
||||||||||||||||||||
8
|
Ujian KTI
|
||||||||||||||||||||
BAB V
HASIL
PENELITIAN
A.
Gambaran
Umum RSUD Provinsi NTB
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 13/Menkes/SK/2005 tanggal 5 Januari 2005 tentang Peningkatan
Kelas Rumah Sakit Umum Daerah Mataram milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara
Barat, meningkatkan kelas Rumah Sakit Umum Daerah Mataram dari kelas B Non
Pendidikan menjadi kelas B Pendidikan sejak tanggal 5 Januari 2005.
1. Luas
dan Letak
Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB terdiri dari tiga lantai
yang mempunyai luas bangunan 18.198 m2, berlokasi di jalan Pejanggik No. 6
Mataram
2.
Ketenagaan
Untuk melaksanakan program-program yang telah disusun
disesuaikan dengan tugas dan fungsi, RSU Provinsi NTB mempunyai 967 orang
tenaga yang terdiri dari:
a.
Tenaga Medis seluruhnya 88 orang, terdiri dari :
1) Dokter
spesialis : 41 orang
2) Dokter
umum : 43 orang
3) Dokter
gigi : 4 orang
39
|
b.
Tenaga Paramedis seluruhnya 372 orang, terdiri dari :
1) Paramedis
perawatan : 312
orang
2) Paramedis
non perawatan : 60 orang
c.
Tenaga Non Medis seluruhnya 107 orang, terdiri dari :
1) Apoteker
: 6 orang
2) THL
:
101 orang
d.
Tenaga seluruhnya 967 orang, terdiri dari :
1) Tenaga
PNS :
631 orang
2) Tenaga
kontrak :
235 orang
3) THL
:
101 orang
3.
Ruang Bersalin (VK Teratai)
Ruang VK terletak pada lantai dasar RSUP NTB. Ruang ini
memiliki pegawai dengan status PNS berjumlah 28 orang yang rinciannya seperti
sebagai berikut:
a. Tenaga
Spesialis Obgyn : 7 orang
b. Dokter
Umum : 5 orang
c. D1
/ DIII / DIV Kebidanan : 1 / 11 / 4 orang
Jumlah tempat tidur berjumlah 16 buah tempat tidur dengan
rincian sebagai berikut: Ruang isolasi
sebanyak : 2 TT, Ruang USG : 2 TT, Monitoring/Konseling : 2 TT, Ruang
Persalinan Fisiologis : 3 TT, Ruang Persalinan Patologis : 4 TT, Ruang Tindakan : 1 TT, Ruang VIP : 1 TT dan Ruang Jaga Dokter : 1 TT.
4.
Fasilitas Pendukung
a. Unit
pelayanan tranfusi darah
b. Ruang
operasi mayor dan minor
c. Ruang
operasi kandungan
d. Ruang
P2KS
e. Ruang
kepala SMF
f.
Ruang sekretariat
B.
Faktor Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi
Baru Lahir
Faktor penyebab terjadinya Asfiksia pada Bayi
Baru Lahir dikelompokkan menjadi 3 kategori : faktor ibu dan janin, faktor ibu
dan faktor janin. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 sebagai berikut:
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Sampel Berdasarkan Faktor
Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
No
|
Faktor Penyebab
Terjadinya Asfiksia
|
n
|
%
|
1
|
Faktor Ibu dan Janin
|
15
|
13,0
|
2
|
Faktor Ibu
|
87
|
75,7
|
3
|
Faktor Janin
|
13
|
11,3
|
Jumlah
|
115
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan
bayi asfiksia, sebagian besar ibu yang mengalami asfiksia disebabkan oleh
faktor ibu sebanyak 87 sampel (75,7%) dan sebagian kecil disebabkan oleh faktor
janin sebanyak 13 sampel (11,3%).
C.
Faktor Ibu Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia
Pada Bayi Baru Lahir
Pada penelitian ini faktor ibu yang
menyebabkan terjadinya Asfiksia pada Bayi Baru Lahir dapat dilihat pada Tabel
4.2 sebagai berikut :
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Penyebab Terjadinya
Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Berdasarkan Faktor Ibu di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
No
|
Faktor Ibu
|
n
|
%
|
1
|
CPD
|
1
|
1,1
|
2
|
KPD
|
8
|
9,2
|
3
|
Riwayat Penyakit (HDK, Riwayat Penyakit Jantung)
|
2
|
2,4
|
4
|
PER
|
2
|
2,4
|
5
|
Eklampsia
|
3
|
3,4
|
6
|
Partus Kasep
|
5
|
5,7
|
7
|
Partus Lama (Kala 2 lama, Kala
2 Laten, Fase Aktif Macet)
|
52
|
59,8
|
8
|
PEB
|
8
|
9,2
|
9
|
Plasenta Previa
|
3
|
3,4
|
10
|
Serotinus
|
3
|
3,4
|
Jumlah
|
87
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 4.2 di atas dapat dilihat bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan
bayi asfiksia, hanya 87 sampel yang disebabkan oleh faktor ibu, dimana sebagian
besar disebabkan oleh partus lama sebanyak 52 sampel (59,8%) dan sebagian kecil
disebabkan oleh CPD sebanyak 1 sampel (1,1%).
D.
Faktor Janin Yang Menyebabkan Terjadinya
Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir
Pada penelitian ini faktor janin yang
menyebabkan terjadinya Asfiksia pada Bayi Baru Lahir dapat dilihat pada Tabel
4.3 sebagai berikut :
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Penyebab Terjadinya
Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir Berdasarkan Faktor Janin di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
No
|
Faktor Janin
|
n
|
%
|
1
|
Suspek Bayi Besar
|
2
|
15,4
|
2
|
Gawat Janin
|
1
|
7,7
|
3
|
Gemeli
|
1
|
7,7
|
4
|
Letak Sungsang
|
7
|
53,8
|
5
|
Lilitan Tali Pusat
|
1
|
7,7
|
6
|
Oligohidramnion
|
1
|
7,7
|
Jumlah
|
13
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 4.3 dapat dilihat bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan bayi
asfiksia, hanya 13 sampel yang disebabkan oleh faktor janin, dimana sebagian
besar terjadi karena letak sungsang sebanyak 7 sampel (53,8%) dan sebagian
kecil terjadi karena gawat janin, gemeli, lilitan tali pusat dan
oligohidramnion masing-masing sebanyak 1 sampel (7,7%).
E.
Faktor Modifikasi
Ibu dan Janin
Pada penelitian ini faktor modifikasi ibu dan
janin yang menyebabkan terjadinya Asfiksia pada Bayi Baru Lahir dapat dilihat
pada Tabel 4.4 sebagai berikut :
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Faktor Modifikasi Ibu dan
Janin Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB Tahun 2015.
No
|
Faktor Ibu dan
Janin
|
n
|
%
|
1
|
Kala 2 Lama + Letak Sungsang
|
9
|
60,0
|
2
|
Kala 2 Lama + Gemeli
|
2
|
13,3
|
3
|
Partus Kasep + Letak Lintang
|
1
|
6,7
|
4
|
Kala 2 Lama + Gawat Janin
|
1
|
6,7
|
5
|
Gawat Janin + Preeklampsia
Berat
|
1
|
6,7
|
6
|
Kala 2 Lama + Suspek Bayi Besar
|
1
|
6,7
|
Jumlah
|
15
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 4.4 dapat dilihat bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan bayi
asfiksia, hanya 15 sampel yang disebabkan oleh faktor ibu dan janin, dimana
sebagian besar disebabkan oleh Kala 2 Lama + Letak Sungsang sebanyak 9 sampel
(60,0%) dan sebagian kecil disebabkan oleh partus kasep + letak lintang, kala 2
lama + gawat janin, gawat janin + preeklampsia berat dan kala 2 lama + suspek
bayi besar masing-masing sebanyak 1 sampel (6,7%).
BAB VI
PEMBAHASAN
A. Faktor
Penyebab Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir
Hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUD
Provinsi NTB menunjukkan bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan
bayi asfiksia, sebagian besar ibu yang mengalami asfiksia disebabkan oleh
faktor ibu sebanyak 87 sampel (75,7%) dan sebagian kecil disebabkan oleh faktor
janin sebanyak 13 sampel (11,3%).
Hal
ini menunjukkan bahwa faktor ibu lebih dominan menyebabkan terjadinya asfiksia
pada bayi baru lahir jika dibandingkan dengan faktor janin. Hal ini dapat
dilihat dari hasil penelitian yang ditemukan bahwa dari 115 ibu bersalin yang
bayinya mengalami asfiksia sebagian besar terjadi karena adanya partus lama
sebesar 59,8%, ketuban pecah dini dan preeklampsia berat masing-masing sebesar 9,2%,
eklampsia, plasenta previa dan kehamilan serotinus masing-masing sebesar 3,4%,
riwayat penyakit (HDK, Penyakit Jantung) dan preeklampsia ringan masing-masng
sebesar 2,4% dan CPD sebesar 1,1%.
45
|
Timbulnya
his merupakan indikasi mulainya persalinan, apabila his yang timbul sifatnya
lemah, pendek dan jarang maka akan mempengaruhi turunnya kepala dan mortalitas
pembukaan serviks atau yang ssering disebut dengan inkoordinasi kontraksi otot
rahim, dimana keadaan inkoordinasi kontraksi otot rahim dapat menyebabkan
sulitnya kekuatan otot rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan pada akhirnya
ibu akan mengalami partus lama karena tidak adnaya kemajuan dalam persalinan
(Wiknjosastro, 2005).
Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ratnati (2013)
tentang “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru
Lahir di RSUD Kota Malang” dari hasil penelitiannya tersebut ditemukan bahwa
sebagian besar bayi yang mengalami asfiksia disebabkan oleh faktor ibu sebesar
78,2% dan asfiksia yang disebabkan oleh faktor janin sebesar 21,8%. Dalam penelitiannya
dikatakan bahwa faktor ibu merupakan faktor yang paling dominan menyebabkan
terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir.
B. Faktor
Ibu Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia
Hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUD
Provinsi NTB menunjukkan bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan
bayi asfiksia, 87 sampel yang disebabkan oleh faktor ibu, dimana sebagian besar
disebabkan oleh partus lama sebanyak 52 sampel (59,8%) dan sebagian kecil
disebabkan oleh CPD sebanyak 1 sampel (1,1%)
Berdasarkan
hasil penelitian tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa partus lama merupakan
persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primipara dan lebih dari 18
jam pada multipara. Bila persalinan berlangsung terlalu lama, maka bisa menimbulkan terjadinya komplikasi baik
terhadap ibu dan bayi akan mengalami asfiksia.
Partus tidak maju atau macet merupakan gangguan atau hambatan
dalam penurunan kepala bayi melewati pelvis meskipun kontraksi uterusnya baik.
Obstruksi biasanya disebabkan karena panggul sempit, bayi besar, ataupun
malpresentasi. Namun jika dilihat dari hasil penelitian di atas, maka dapat
dijelaskan bahwa banyaknya bayi yang mengalami asfiksia disebabkan oleh partus
lama terjadi karena adanya semakin lama janin berada di pintu panggul, maka
janin akan mengalami hipoksia sehingga terjadilah asfiksia.
Hal
ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa persalinan pada primi lebih lama
5-6 jam dari pada multi. Bila persalinan berlangsung
lama, dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi baik terhadap ibu maupun terhadap
anak, dan dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak. Menurut Harjono
partus lama merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan
berlangsung terlalu lama sehingga timbul gejala-gejala seperti dehidrasi,
infeksi, kelelahan ibu, serta asfiksi dan kematian janin dalam kandungan
(KJDK), dan insiden partus lama menurut penelitian adalah 2,8 – 4,9%. (Mochtar,
2008)
Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Maul Sa`adah (2014)
tentang “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru
Lahir di RSUD Kota Malang” dari hasil penelitiannya tersebut diketahui bahwa
sebagian besar bayi yang mengalami asfiksia disebabkan oleh partus lama sebesar
74,1% dan sebagian kecil disebabkan oleh CPD sebesar 12,4%. Dalam penelitiannya
juga dikatakan bahwa partus lama merupakan fase terakhir dari suatu partus yang
macet dan berlangsung terlalu lama sehingga bisa menimbulkan terjadinya
asfiksia.
C. Faktor
Janin Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia
Hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUD
Provinsi NTB menunjukkan bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan
bayi asfiksia, hanya 13 sampel yang disebabkan oleh faktor janin, dimana
sebagian besar terjadi karena letak sungsang sebanyak 7 sampel (53,8%) dan
sebagian kecil terjadi karena gawat janin, gemeli, lilitan tali pusat dan
oligohidramnion masing-masing sebanyak 1 sampel (7,7%).
Berdasarkan
hasil penelitian tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa faktor janin merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya asfiksia pada bayi baru
lahir. Dilihat dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa terjadinya
asfiksia pada bayi baru lahir yang disebabkan oleh faktor janin terjadi karena
adanya kelainan pada letak sungsang. Bayi sungsang terjadi karena pada awal
kehamilan, karena berat janin relatif lebih rendah dibandingkan dengan rahim.
Akibatnya, janin masih bisa bebas bergerak. Menginjak usia 28-34 minggu
kehamilan, berat janin makin membesar, sehingga tidak bebas lagi bergerak. Pada
usia tersebut, umumnya janin sudah menetap pada satu posisi. Kalau posisinya
salah, maka disebut sungsang.
Hal
ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa letak sungsang menyebabkan
prognosis yang buruk pada ibu maupun bayi, pada ibu bisa berupa robekan pada
perinium lebih besar, ketuban lebih cepat pecah, dan partus lebih lama,
sehingga akan mudah terkena infeksi. Prognosis tidak begitu baik bagi bayi
karena adanya gangguan peredaran darah plasenta setelah bokong lahir dan juga
setelah perut lahir, tali pusat yang terjepit antara kepala dan panggul, bayi
dimungkinkan bisa menderita asfiksia (Manuaba, 2009).
Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitiannya Rina (2013) tentang :
“Faktor-faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD
Cianjur” dari hasil penelitiannya tersebut diketahui bahwa sebagian besar bayi
yang mengalami asfiksia disebabkan oleh kelainan letak sungsang sebesar 65,1%
dan sebagian kecil disebabkan oleh gemeli sebesar 3,2%. Dalam penelitiannya
dikatakan bahwa bayi baru lahir dengan letak sungsang merupakan salah satu
faktor resiko terjadinya hipoksia dan asfiksia. Resiko terjadinya asfiksia pada
bayi dengan letak sungsang sebesar 11,04 kali lebih besar dibandingkan dengan
presentasi kepala.
D.
Faktor
Modifikasi Ibu dan Janin
Hasil penelitian yang telah dilakukan di RSUD
Provinsi NTB menunjukkan bahwa dari 115 ibu bersalin yang melahirkan
bayi asfiksia, hanya 15 sampel yang disebabkan oleh faktor ibu dan janin,
dimana sebagian besar disebabkan oleh Kala 2 Lama + Letak Sungsang sebanyak 9
sampel (60,0%) dan sebagian kecil disebabkan oleh partus kasep + letak lintang,
kala 2 lama + gawat janin, gawat janin + preeklampsia berat dan kala 2 lama +
suspek bayi besar masing-masing sebanyak 1 sampel (6,7%).
Hal
ini menunjukkan bahwa faktor modifikasi ibu dan janin, kala 2 lama + letak
sungsang merupakan faktor yang paling dominan menyebabkan terjadinya asfiksia
pada bayi baru lahir. Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang
dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Faktor-faktor
letak sungsang menunjukkan bentuk panggulnya adalah sedemikian rupa sehingga
lebih cocok untuk presentasi bokong daripada presentasi kepala.. Implantasi
plasenta di fundus atau di tonus uteri cenderung untuk mempermudah terjadinya letak
sungsang (Prawirohardjo, 2008, p.606).
Persalinan
letak sungsang mempunyai syarat yang harus dipenuhi yaitu pembukaan benar-benar
lengkap, kulit ketuban sudah pecah, his adekuat dan tafsiran berat badan janin
< 3600 gram. Terdapat situasi-situasi tertentu yang membuat persalinan tidak
dapat dihindarkan yaitu ibu memilih persalinan pervaginam, direncanakan bedah
sesar tetapi terjadi proses persalinan yang sedemikian cepat, persalinan
terjadi di fasilitas yang tidak memungkinkan dilakukan bedah sesar, letak
sungsang yang tidak terdiagnosis hingga kala II lama dan kelahiran janin kedua
pada kehamilan kembar. Persalinan pervaginam tidak dilakukan apabila didapatkan
kontra indikasi persalinan pervaginam bagi ibu dan janin, presentasi kaki,
hiperekstensi kepala janin dan berat bayi > 3600 gram, tidak adanya informed
consent, dan tidak adanya petugas yang berpengalaman dalam melakukan
pertolongan persalinan (Prawirohardjo, 2008, p.593).
Kehamilan
pada bayi dengan letak sungsang, dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan
ibu, kepala berada pada fundus uteri, sedangkan letak sungsang merupakan bagian
terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis. Pada pesalinan letak
sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir.
Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme karena susunan
tulang dasar kepala yang rapat dan padat, sehingga hanya mempunyai waktu 8
menit, setelah badan bayi lahir. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak
mempunyai mekanisme sehingga dapat menimbulkan kematian bayi yang besar
(Manuaba, 2008).
Hal
ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Isma (2010) tentang : “Faktor-faktor Yang Menyebabkan
Terjadinya Asfiksia Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Kota Malang” dari hasil
penelitiannya diketahui bahwa sebagian besar ibu yang bayinya yang mengalami
asfiksia disebabkan faktor ibu dan janin seperti kala 2 lama + letak sungsang
sebesar 78,2% dan sebagian kecil disebabkan karena suspek bayi besar sebesar
4,5%.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan
diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Dari 115 ibu bersalin yang bayinya mengalami
asfiksia disebabkan oleh faktor ibu sebanyak 87 sampel (75,6%)
2.
Dari 87 faktor ibu yang bayinya mengalami asfiksia,
sebagian besar disebabkan oleh partus lama sebanyak 52 sampel (59,8%).
3. Dari 13 faktor janin yang mengalami asfiksia,
sebagian besar disebabkan oleh letak sungsang sebanyak 7 responden (53,8%).
B. Saran
1.
Bagi Instansi Rumah Sakit
Disarankan kepada instansi rumah sakit untuk lebih aktif
dalam melakukan penyuluhan tentang pentingnya keteraturan pemeriksaan selama
hamil agar resiko terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir dapat dicegah dan
mengantisipasi kelahiran serta memberikan penanganan yang tepat kepada ibu yang
bayinya mengalami asfiksia.
2.
Bagi Institusi Pendidikan
52
|
3.
Bagi Masyarakat
Disarankan kepada masyarakat khususnya ibu hamil agar dapat
melakukan pemeriksaan antenatal care secara teratur sehingga resiko terjadinya
asfiksia pada bayi baru dapat di deteksi secara dini dan dapat ditangani dengan
baik.
DAFTAR PUSTAKA
Dikes NTB, 2012. Angka
Kematian Neonatal. Mataram : Dikes NTB.
Fibriana.
2010. Angka Kematian Maternal di
Indonesia. Diperoleh tanggal 06 November 2012.
Kosim, 2011.
Dampak Jangka Panjang Bayi Asfiksia. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
.
Manuaba. 2008. Buku ajar patologi obstetri untuk mahasiswa
kebidanan, Jakarta: EGC.
Mochtar, Rustam. 2008.
Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
Notoatmojo, Soekidjo. 2010.
Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010.
Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Prawirohardjo, Sarwono. 2010.
Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP.
Rahmawati
E, 2010. Asi
Dan Menyusui. Jakarta : Kapita
Selekta.
Riwidikdo, Handoko. 2007. Statistik
Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi
NTB, 2014. Angka Kejadian Asfiksia. Mataram : NTB.
Saifuddin. 2010. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal, Edisi 1, Jakarta: Penerbit Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Winkjosastro, Hanifa (ed). 2010. Ilmu Kandungan. Jakarta: YBPSP.
| MASTER TABEL | ||||||
| FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR | ||||||
| DI RSUD PROVINSI NTB | ||||||
| TAHUN 2015 | ||||||
| No | No. RM | Umur | Pendidikan | Pekerjaan | Diagnosa | Kategori |
| 1 | 552652 | 36 | SMA | IRT | Partus Kasep | Faktor Ibu |
| 2 | 552790 | 35 | SD | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 3 | 552943 | 30 | TS | IRT | Partus Kasep | Faktor Ibu |
| 4 | 116719 | 30 | SD | IRT | Kala 2 Lama + Letak Sungsang | Faktor Ibu dan Janin |
| 5 | 552982 | 30 | SD | IRT | Kala 2 Lama + Gawat Janin | Faktor Ibu dan Janin |
| 6 | 553154 | 17 | TS | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 7 | 553168 | 27 | SD | IRT | Kala 2 Lama, Letak Sungsang | Faktor Ibu dan Janin |
| 8 | 553167 | 33 | SMP | IRT | Letak sungsang, kala 2 lama | Faktor Ibu dan Janin |
| 9 | 553225 | 19 | SMP | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 10 | 553233 | 22 | SMA | IRT | Gawat janin + Preeklampsia Berat | Faktor Ibu dan Janin |
| 11 | 553350 | 22 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 12 | 553479 | 26 | SLTA | IRT | Gemeli | Faktor Janin |
| 13 | 553826 | 24 | SMP | IRT | Suspek bayi besar | Faktor Janin |
| 14 | 554044 | 22 | SMA | IRT | Partus Kasep + Letak Lintang | Faktor Ibu dan Janin |
| 15 | 554289 | 39 | TS | IRT | fase aktif macet (partus lama) | Faktor Ibu |
| 16 | 554332 | 34 | TS | IRT | Preeklampsia Berat | Faktor Ibu |
| 17 | 554432 | 29 | SD | IRT | Partus kasep | Faktor Ibu |
| 18 | 554535 | 19 | SD | IRT | Eklampsia | Faktor Ibu |
| 19 | 554580 | 24 | SMP | IRT | Partus kasep | Faktor Ibu |
| 20 | 554760 | 30 | SMP | IRT | Letak Sungsang | Faktor Janin |
| 21 | 55464 | 24 | TS | IRT | Letak Sungsang | Faktor Janin |
| 22 | 444798 | 19 | SD | IRT | Kala 2 Lama, Letak Sungsang | Faktor Ibu dan Janin |
| 23 | 554804 | 29 | SMP | IRT | Oligohidramnion | Faktor Ibu |
| 24 | 117772 | 24 | SMA | IRT | Ketuban Pecah Dini | Faktor Ibu |
| 25 | 555738 | 26 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 26 | 555742 | 33 | S1 | Guru | Letak Sungsang | Faktor Janin |
| 27 | 555092 | 24 | SMA | IRT | Plasenta Previa | Faktor Ibu |
| 28 | 555179 | 29 | SMA | IRT | Cephalopelvic Disproportion (CPD) | Faktor Ibu |
| 29 | 555191 | 30 | S1 | PNS | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 30 | 555271 | 39 | TS | IRT | Preeklampsia Berat | Faktor Ibu |
| 31 | 555275 | 31 | SMA | IRT | Ketuban Pecah Dini | Faktor Ibu |
| 32 | 555325 | 21 | TS | IRT | Kala 2 lama | Faktor Ibu |
| 33 | 555337 | 19 | SD | IRT | Kala 2 lama | Faktor Ibu |
| 34 | 555469 | 30 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 35 | 555465 | 18 | SMP | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 36 | 555517 | 20 | SMP | IRT | Plasenta Previa | Faktor Ibu |
| 37 | 555629 | 24 | TS | IRT | Kala 2 Lama + Kasep | Faktor Ibu |
| 38 | 4555523 | 31 | SD | IRT | Ketuban Pecah Dini | Faktor Ibu |
| 39 | 555623 | 32 | SMP | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 40 | 555684 | 19 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 41 | 555796 | 22 | SMA | IRT | Sungsang | Faktor Janin |
| 42 | 117776 | 30 | S1 | Wiraswasta | Preeklampsia Berat | Faktor Ibu |
| 43 | 556167 | 29 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 44 | 556163 | 20 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 45 | 556217 | 22 | S1 | Wiraswasta | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 46 | 556368 | 19 | TS | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 47 | 556369 | 39 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 48 | 556386 | 20 | SD | IRT | Letak Sungsang | Faktor Janin |
| 49 | 556394 | 22 | TS | IRT | Kala 2 lama | Faktor Ibu |
| 50 | 556487 | 21 | SD | IRT | Kala 2 lama | Faktor Ibu |
| 51 | 556489 | 29 | SMP | Guru | Kala 2 lama | Faktor Ibu |
| 52 | 556562 | 20 | SMP | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 53 | 536736 | 28 | SMA | IRT | Ketuban Pecah Dini | Faktor Ibu |
| 54 | 117779 | 21 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 55 | 556792 | 20 | SLTA | Wiraswasta | Letak Sungsang | Faktor Janin |
| 56 | 117750 | 18 | SMP | IRT | Preeklampsia Berat | Faktor Ibu |
| 57 | 556932 | 19 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 58 | 556896 | 20 | TS | IRT | Kala 2 lama | Faktor Ibu |
| 59 | 556992 | 22 | TS | IRT | Kala 2 Lama + Gemeli | Faktor Ibu dan Janin |
| 60 | 556996 | 21 | SMA | IRT | Kala 2 Lama+ Gemeli | Faktor Ibu dan Janin |
| 61 | 555698 | 35 | S1 | Wiraswasta | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 62 | 557062 | 22 | SMA | IRT | Serotinus | Faktor Ibu |
| 63 | 557067 | 29 | SMA | IRT | Ketuban Pecah Dini | Faktor Ibu |
| 64 | 557059 | 30 | S1 | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 65 | 556233 | 19 | TS | IRT | Oligohidramnion | Faktor Ibu |
| 66 | 557233 | 20 | SMA | Wiraswasta | Preeklampsia Berat | Faktor Ibu |
| 67 | 557234 | 21 | SD | IRT | Ketuban Pecah Dini | Faktor Ibu |
| 68 | 557286 | 39 | SMA | IRT | Kala 2 lama | Faktor Ibu |
| 69 | 557482 | 20 | SD | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 70 | 557813 | 35 | TS | IRT | F. Aktif Macet (partus lama) | Faktor Ibu |
| 71 | 558044 | 30 | SD | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 72 | 558299 | 19 | SMP | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 73 | 118666 | 20 | SMP | IRT | Partus Lama | Faktor Ibu |
| 74 | 558346 | 18 | SMA | IRT | F. Aktif Macet (partus lama) | Faktor Ibu |
| 75 | 558540 | 20 | SMA | IRT | Preeklampsia Berat | Faktor Ibu |
| 76 | 558579 | 33 | SLTA | IRT | Letak Sungsang, Kala 2 Lama | Faktor Ibu dan Janin |
| 77 | 558457 | 20 | SMP | IRT | Gawat Janin | Faktor Janin |
| 78 | 558691 | 20 | SMA | IRT | Letak Sungsang, Kala 2 Lama | Faktor Ibu dan Janin |
| 79 | 558672 | 41 | TS | IRT | Ketuban Pecah Dini | Faktor Ibu |
| 80 | 115668 | 38 | TS | IRT | Plasenta Previa | Faktor Ibu |
| 81 | 118669 | 31 | SD | IRT | R. Penyakit Jantung | Faktor Ibu |
| 82 | 558758 | 35 | SD | IRT | Letak Sungsang | Faktor Janin |
| 83 | 558787 | 31 | SMP | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 84 | 558801 | 35 | SMP | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 85 | 558670 | 30 | SD | IRT | Preeklampsia Berat | Faktor Ibu |
| 86 | 557959 | 21 | SMP | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 87 | 558982 | 31 | SMP | IRT | Serotinus | Faktor Ibu |
| 88 | 559085 | 34 | SMA | IRT | Lilitan Tali Pusat | Faktor Janin |
| 89 | 559145 | 22 | SMA | IRT | Ketuban Pecah Dini | Faktor Ibu |
| 90 | 559183 | 29 | SLTA | Wiraswasta | Hipertensi Dalam Kehamilan | Faktor Ibu |
| 91 | 559231 | 18 | SMP | IRT | Eklampsia | Faktor Ibu |
| 92 | 559310 | 35 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 93 | 559661 | 37 | TS | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 94 | 559672 | 22 | TS | IRT | Kala 2 Lama, Letak Sungsang | Faktor Ibu dan Janin |
| 95 | 559688 | 25 | SMA | IRT | Suspek Bayi Besar | Faktor Janin |
| 96 | 559632 | 20 | SMA | Wiraswasta | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 97 | 559800 | 19 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 98 | 559852 | 33 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 99 | 559896 | 27 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 100 | 559891 | 20 | TS | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 101 | 559904 | 20 | SMA | Wiraswasta | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 102 | 559922 | 29 | SD | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 103 | 559936 | 35 | SD | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 104 | 560033 | 32 | SMP | IRT | Preeklampsia Ringan | Faktor Ibu |
| 105 | 560036 | 19 | SMP | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 106 | 560067 | 34 | SD | IRT | Partus Lama | Faktor Ibu |
| 107 | 560131 | 23 | SMP | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 108 | 560246 | 19 | SMA | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
| 109 | 560275 | 35 | SMA | IRT | Eklampsia | Faktor Ibu |
| 110 | 560309 | 33 | SLTA | Wiraswasta | Preeklampsia Ringan | Faktor Ibu |
| 111 | 560372 | 29 | SMP | IRT | Suspek bayi besar, kala 2 lama | Faktor Ibu dan Janin |
| 112 | 560431 | 21 | TS | IRT | Kala 2 Lama, Letak Sungsang | Faktor Ibu dan Janin |
| 113 | 560629 | 23 | SMA | Wiraswasta | Kala 2 Lama, Letak Sungsang | Faktor Ibu dan Janin |
| 114 | 560672 | 29 | SD | IRT | Preeklampsia Berat | Faktor Ibu |
| 115 | 560756 | 27 | SD | IRT | Kala 2 Lama | Faktor Ibu |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar