Judul KTI
Untuk mengendalikan kualitas penduduk yang demikian
besar BKKBN menargetkan untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk nasional
menjadi sekitar 1,1 % per tahun. Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, salah
satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan pemakaian kontrasepsi, disamping
itu juga dengan meningkatkan pelayanan keluarga berencana (KB) dan kesehatan
reproduksi yang terjangkau, bermutu
serta efektif menuju terbentuknya keluarga kecil bahagia dan sejahtera (BKKBN 2009)
Keterangan :
Gambar 3.1. Kerangka Konsep
Sebelah Timur : Berbatasan
dengan Kecamatan Mataram Wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan
Dengan
demikian dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, teori dan
penelitian orang lain terdapat kesamaan bahwa semakin cukup atau produktif usia
seseorang maka semakin baik atau meningkat pengetahuan yang dimiliki tentang
faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan alat kontrasepsi IUD.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Indonesia merupakan salah
satu negara berkembang dengan berbagai jenis masalah. Masalah utama yang
dihadapi di Indonesia adalah di bidang kependudukan yang masih tingginya
pertumbuhan penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah mempersulit usaha
peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan
penduduk semakin besar usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan
rakyat. Oleh karena itu Pemerintah terus berupaya untuk menekan laju
pertumbuhan dengan program keluarga berencana.
Program KB ini dirintis
sejak tahun 1951 dan terus berkembang, sehingga pada tahun 1970 terbentuk Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini salah satu
tujuannya adalah penjarangan kehamilan mengunakan metode kontrasepsi dan
menciptakan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi seluruh masyarakat melalui
usaha-usaha perencanaan dan pengendalian penduduk.
1
|
Paradigma baru Program KB
Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (NKKBS) menjadi "Keluarga berkualitas 2015" untuk
mewujudkan keluarga yang berkualitas adalah keluarga sejahtera, sehat, maju,
mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung
jawab, Harmonis, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sarwono, 2003 ).
Gerakan KB Nasional selama
ini telah berhasil mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam membangun
keluarga kecil yang makin mandiri. Keberhasilan ini mutlak harus diperhatikan
bahkan terus ditingkatkan karena pencapaian tersebut belum merata. Sementara
ini kegiatan keluarga berencana masih kurangnya dalam pengunaan Metode
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Bila dilihat dari cara pemakaian alat
kontasepsi dapat dikatakan bahwa 51,21 % akseptor KB memilih Suntikan sebagai
alat kontrasepsi, 40,02 % memilih Pil, 4,93 % memilih Implant 2,72 % memilih
IUD dan lainnya 1,11 %. Pada umumnya masyarakat memilih metode non MKJP (Metode
Kontrasepsi Jangka Panjang). Sehingga metode KB MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka
Panjang) seperti Intra Uterine Devices (IUD). Implant, Medis Operatif Pria
(MOP) dan Medis Operatif Wanita (MOW) kurang diminati. (www. bkkbn. go. id,
2011).
Di Indonesia berdasarkan
hasil pelayanan KB baru komulatif menurut metode kontrasepsi tahun 2007 jumlah
peserta KB baru sebesar 5.704.111 peserta.(BKKBN, 2008). Dari hasil data
pencapaian akseptor KB aktif Kota Mataram tahun 2011 adalah 47.663 orang
(90,01%) dari 65.773 pasangan usia subur (PUS), yang memakai alat kontrasepsi
hormonal sebesar 65,11% yang terdiri dari Suntikan 4.562 orang (50,36%), pil
739 orang (8,15%), implant 598 orang (6,60%), sedangkan yang menggunakan alat
kontrasepsi efektif sebesar 4,47% yaitu IUD sebanyak 2.450 orang (27,05%), kondom
345 orang (3,80%) dan MOP/MOW 161 orang (1,77%). (BKKBN Kota Mataram, 2011)
Data akseptor IUD tahun
2011 dari seluruh Puskesmas Kota Mataram yaitu dari Puskesmas Karang Taliwang
sebanyak 72 orang, Puskesmas Tanjung Karang 65 orang, Puskesmas Pagesangan
sebanyak 45 orang, Puskesmas Mataram sebanyak 40 orang, Puskesmas Tanjung
Karang sebanyak 26 orang, Puskesmas Ampenan sebanyak 21 orang, Puskesmas Karang
Pule sebanyak 19 orang, dan Puskesmas Selaparang hanya 1 orang (BKKBN Kota
Mataram 2011).
Berdasarkan data dari Poskesdes Kekalik Jaya jumlah Pasangan Usia Subur
(PUS) tahun 2011 adalah 337, sedangkan yang
menjadi peserta KB aktrif adalah Berdasarkan survey pendahuluan di kelurahan Kekalik Jaya bahwa pengguna alat kontrasepsi Metode kontrasepsi jangka
panjang khususnya IUD hanya 4 orang. Pada umumnya PUS (Pasangan Usia Subur)
yang telah menjadi akseptor KB lebih banyak menggunakan suntik dan pil. Namun
pada akhir-akhir ini akseptor lebih dianjurkan untuk menggunakan program Metode
Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), yaitu alat kontrasepsi spiral (IUD), susuk
(implant) dan kontap (vasektomi dan tubektomi). Metode ini lebih ditekankan
karena MKJP dianggap lebih efektif dan lebih mantap dibandingkan dengan alat
kontrasepsi pil, kondom maupun suntikan (www.bkkbn.go.id,2011).
Berdasarkan uraian di atas
maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai "Faktor-faktor
penyebab rendahnya cakupan akseptor kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya".
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
diatas peneliti merumuskan masalah sebagai berikut "Apakah faktor-faktor
penyebab rendahnya cakupan kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang?"
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum
Untuk mengetahui
faktor-faktor penyebab rendahnya cakupan akseptor kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung karang Tahun 2011.
1.3.2
Tujuan Khusus
a.
Mengidentifikasi
karakteristik meliputi umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas akseptor KB non
IUD di Kelurahan
Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung
Karang Tahun 2011.
b.
Mengidentifikasi faktor
sosial budaya sebagai penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD di Kelurahan
Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011
c.
Mengidentifikasi faktor
psikologis sebagai penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD di Kelurahan
Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011
d.
Mengidentifikasi faktor
pengetahuan sebagai penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD di Kelurahan
Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1
Bagi Puskesmas Tanjung
Karang
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan masukan guna peningkatan pelayanan kontasepsi IUD
demi terciptanya metode kontrasepsi efektif dan berjangka panjang.
1.4.2
Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan manfaat khususnya dalam memperbanyak referensi tentang alat
kontrasepsi IUD dan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya.
1.4.3
Bagi akseptor IUD
(Responden)
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan motivasi bagi masyarakat setempat untuk mengerti
dan memahami tentang fungsi, manfaat, serta efektifitas kontrasepsi IUD
sehingga masyarakat semakin mengenal dan pemakaian kontrasepsi IUD semakin
bertambah
1.4.4
Bagi Peneliti
Penelitian ini sangat
berguna untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan dalam penelitian
serta sebagai bahan untuk menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama kuliah.
1.4.5
Bagi Peneliti Lain
Agar dapat dijadikan
masukan dalam penelitian serupa dan dapat lebih memperdalam penelitian yang
sudah ada.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Keluarga
Berencana (KB)
Keluarga Berencana Artinya
mengatur jumlah anak sesuai kehendak anda dan menentukan sendiri kapan anda
ingin hamil atau salah satu usaha masalah kependudukan sekaligus merupakan
bagian yang terpadu dalam program Pembangunan Nasional dan bertujuan untuk
turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual, sosbud penduduk
Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi
Nasional (BKKBN,2011).
2.2 Kontrasepsi
Kontrasepsi merupakan
bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi untuk pengaturan kehamilan, dan
merupakan hak setiap individu sebagai mahluk sosial.(Prawiroharjo,2006)
Kontrasepsi adalah upaya
mencegah kehamilan yang bersifat sementara ataupun menetap dan dapat dilakukan
tanpa menggunakan alat, secara mekanis, menggunakan obat/alat atau dengan
operasi.
Kontrasepsi adalah upaya
untuk mencegah teriadinya kehamilan (Winkjaksastro, 2010)
7
|
2.3 Intra
Uterin Devices (IUD)
2.3.1 Pengertian
IUD
Adalah kontrasepsi yang
terbuat dari plastik halus berbentuk spiral (Lippes Loop) atau berbentuk lain
(Cu T 380A atau ML Cu 250) yang dipasang didalam rahim dengan memakai alat
khusus oleh dokter atau bidan/paramedis lain yang sudah dilatih (Buku Petugas
Fasilitas Pelayanan KB Depkes RI, 2005).
IUD merupakan alat
kontrasepsi yang terbuat dari plastik halus, lembut dan lentur yang diletakkan
dalam rongga rahim.
IUD (Intra Uterine Device)
adalah rangka plastik kecil yang dipasang kedalam rahim lewat vagina (www.
BKKBN.Go.id, 2011).
2.3.2 Macam-macam
IUD
Jenis-jenis IUD di
kategorikan menjadi 2 yaitu:
a.
Un Medicated IUD
Lippes Loop
Diperkenalkan pada awal
1960an dan dianggap sebagai IUD standar, terbuat dari polyethylene (suatu plastik inert secara biologik) ditambah Barium Sulfat. Ada empat macam IUD
Lippes Loop yaitu Lippes Loop A, B, C, D.
b.
Medicated IUD
1)
Cooper IUD
Yang paling
dikenal sampai saat ini adalah CuT-380 A
2)
IUD yang Mengandung Hormon
Progestasert - T=
Alza T. Panjang 36 mm, lebar 32 mm, dengan 2 lembar benang ekor warna hitam.
Mengandung 38 mg Progesterone, dan
Barium Sulfat melepaskan 65 mcg Progesterone
per hari. Tabung inserternya berbentuk lengkung. Daya kerja 18 bulan.
2.3.3 Daya
Guna
Daya guna IUD biasa (non
medicated IUD) seperti Lippes Loop (ukuran D) dan cincin anti karat mempunyai
angka kegagalan tinggi. Yaitu 2 sampai 6 untuk 100 wanita. Sebaliknya IUD
tembaga ( Tcu 380 dan MLCu 375) yang mempunyai luas permakaian tembaga yang
besar adalah IUD yang sangat efektif karena kegagalan tahun pertamanya hanya
atau kurang dari 1. Angka kehamilan tahun pertama dan kumulatif dalam 8 tahun
adalah 0,6 dan 2,3 untuk Copper T 380A. IUD dengan luas permukaan tembaga yang
lebih kecil ( Tcu 200, Tcu 220, dan Tcu7) dan progestase ( IUD yang melepaskan
progesterone) mempunyai angka kegagalan pertama 1 sampai 3 per 100 wanita
(Hartanto. 2003)
2.3.4 Daya
Tahan
Daya tahan IUD sekitar 3,5
sampai 8 tahun. Untuk jenis IUD yang mengandung hormon (progestasen- T)
mempinyai daya tahan selama 18 bulan. Untuk IUD jenis Lippes Loop mempunyai
daya kerja untuk selama- lamanya sampai menopause selama tidak menimbulkan
masalah atau leluhan pemakaianya (Hartanto, 2003)
2.3.5 Cara
Kerja IUD
IUD adalah suatu alat yang
terbuat dari plastik yang biasa mengandung tembaga hormon steroid. IUD akan
berada dalam uterus, bekerja terutama mencegah terjadinya pembuahan
(fertilisasi) dengan memblok bersatunya ovum dengan sperma, mengurangi jumlah
sperma yang mencapai tuba falopi dan menginaktifkan sperma.
Mekanisme cara kerja yang
pasti dari IUD belum diketahui. Ada beberapa mekanisme cara kerja IUD yang
telah diajukan yaitu:
a.
Timbulnya reaksi radang
lokal yang non spesifik didalam cavum uteri sehingga implantasi sel telur yang
telah dibuahi terganggu. Disamping itu, dengan munculnya leokosit, makrofag, foreign body giant cells, sel mononuclear dan sel
plasma yang dapat mengakibatkan lysis
dari spermatozoa atau ovum dan blastocyst.
b.
Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang
menyebabkan terhambatnya implantasi.
c.
Gangguan atau terlepasnya blastocyst telah berimplantasi didalam endrometrium.
d.
Pergerakan ovum yang
bertambah cepat di dalam tuba fallopii.
e.
Immobilisasi
spermatozoa scat melewati cavum uteri.
f.
Dari penelitian-penelitian
terakhir, disangka bahwa IUD juga mencegah spermatozoa membuahi sel telur.
g.
Untuk IUD yang mengandung
Cu:
1)
Antogonisme kationic yang
spesifik terhadap Zn yang terhadap dalam enzim carbonic anhydrase yaitu salah satu enzim dalam traktus genetalia
wanita dimana Cu menghambat reaksi carbonic
anhydrase sehingga tidak memungkinkan terjadinya implantasi dan mungkin
juga menghambat aktifitas alkali
phosphatase.
2)
Menganggu pengambilan esterogen endogenouse oleh mokosa
uterus.
3)
Menganggu jumlah DNA
(Deoksiribo Nukleat Acid) dalam endometrium.
4)
Menganggu metabolisme
endogen.
h.
Untuk IUD yang mengandung
hormon progesterone.
1)
Gangguan proses pematangan
proliferatif-sekretoir sehingga
timbul penekanan terhadap endometrium
dan terganggunya proses implantasi.
2)
Lendir servik yang menjadi
lebih kental atau tebal karena pengaruh progestin.(Hartanto, 2003)
Melihat uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
mekanisme kerja IUD tidak mencegah ovulasi dan tidak mengganggu corpus luteum.
2.3.6 Efektifitas
a.
Efektifitas dari IUD
dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuation
rate) yaitu beberapa lama IUD tetap tinggal inutero tanpa :
1) Ekspulsi spontan.
2) Terjadinya kehamilan.
3) Pengangkatan/pengeluaran karena
alasan- alasan medis atau pribadi.
b.
Efektifitas dari bermacam-
macam IUD tergantung pada :
1)
IUD nya yaitu ukuran,
bentuk, mengandung Cu atau Progesterone.
2)
Akseptor yaitu umur,
paritas, frekuensi senggama.
c.
Dari faktor- faktor yang
berhubungan dengan akseptor yaitu umur dan paritas, diketahui :
1)
Makin tua usia, makin
rendah angka kehamilan, ekspulsi dan pengangkatan/ pengeluaran IUD.
2)
Makin muda usia, terutama
pada nulligravid, makin tinggi angka ekspulsi dan pengangkatan/ pengeluaran
IUD.
d.
Dari uraian diatas, maka use- beffectiveness dari IUD tergantung
pada variabel administratif, pasien dan medis, termasuk kemudahan insersi, pengalaman
pemasang, kemungkinan ekspulsi dari pihak akseptor, kemampuan akseptor untuk
mengetahui terjadinya ekspulsi dan kemudahan akseptor untuk mendapatkan
pertolongan medis.(Hartanto, 2003)
2.3.7 Keuntungan
Keuntungan- keuntungan IUD adalah sebagai berikut :
a.
Sangat efektif 0,6- 0,8
kehamilan / 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 - 170
kehamilan).
b.
Efektif dengan potensi
jangka panjang (sampai 8 tahun atau lebih) untuk CopperT 380 A.
c.
IUD dapat efektif segera
setelah pemasangan.
d.
Tidak dapat efek samping
hormonal dengan Cu IUD.
e.
Dapat dipasang segera
setelah melahirkan atau sesudah abortus.
f.
Cocok untuk ibu- ibu yang
sedang menyusui.
g.
Dapat digunakan sampai
masa menopouse.
h.
Tidak ada interaksi dengan
obat- obat.
i.
Membantu mencegah
kehamilan ektopik
(Saifudin,
BA 2003)
2.3.8 Kerugian
IUD bukanlah alat
kontarsepsi yang sempurna, sehingga masih terdapat beberapa kerugian, antara
lain :
a.
Pemeriksaan dalam dan
penyaringan infeksi saluran genetalia diperlukan sebelum pemasangan IUD.
b.
Dapat meningkatkan resiko
penyakit radang panggul (RPP)
c.
Memerlukan prosedur
pencegahan infeksi sewaktu memasang dan mencabutnya.
d.
Bertambah darah haid dan
rasa sakit selama beberapa bulan pertama pemakaian IUD.
e.
Klien tidak dapat mencabut
sendiri IUDnya.
f.
Tidak dapat melindungi klien
terhadap PMS (Penyakit Menular Seksual), AIDS/HIV.
g.
IUD dapat keluar rahim
melalui kanalis hingga keluar vagina.
h.
Bertambahnya resiko
mendapat penyakit radang panggul pada pemakaian IUD.
(Saifudin, 2003)
2.3.9 Kontra
Indikasi
Kontra indikasi IUD terbagi menjadi 2 yaitu :
a.
Kontra-indikasi
absolut :
1)
Infeksi pelvis akut,
termasuk persangkaan Gonorrhoe atau Chlamyda.
2)
Kehamilan atau persangkaan
kehamilan.
b.
Kontra-indikasi
relatif kuat :
1) Partner seksual yang banyak.
2) Kesukaran memperoleh pertolongan gawat
darurat bila terjadi komplikasi.
3) Pernah mengalami infeksi pelvis atau
infeksi pelvis yang rekuren, post-partum endometritis atau abortus febrilis
dalam tiga bulan terakhir.
4) Kelainan darah yang tidak diketahui
sebabnya.
5) Riwayat kehamilan ektopik atau
keadaan-keadaan yang menyebabkan predisposisi untuk terjadinya kehamilan
ektopik.
6) Pernah mengalami infeksi pelvis satu
kali dan masih memungkinkan kehamilan selanjutnya.
7) Gangguan respon tubuh terhadap infeksi
(AIDS, Diabetes Melitus, pengobatan dengan kortikosteroid dan lain-lain).
8) Kelainan pembekuaan darah (Hartono,
2003)
c.
Keadaan-keadaan
lain yang dapat menyebabkan kontra indikasi untuk insersi IUD :
Penyakit katup jantung
(Kemungkinan terjadi sub-akut bakterial endokarditis), keganasan endometrium
atau serviks, stenosis servik yang sehat, uterus yang kecil sekali,
endometriosis, myoma uteri, polip endometrium, kelainan kongenital uterus,
dismenore yang hebat, darah haid yang banyak, haid yang ireguler, atau
perdarahan bercak atau (spotting), alergi terhadap Cu atau penyakit Wilson
yaitu penyakit gangguan Cu yang turun menurun,anemia, ketidakmampuan untuk
mengetahui tanda-tanda bahaya IUD, ketidakmampuan untuk memeriksa sendiri ekor
IUD, riwayat Gonorhea, Clamydia, Syphilis, atau Herpes, Actinomycosis
genetalia, riwayat reaksi vaso-vagal yang berat atau pingsan, Inkompatibilitas
golongan darah misalnya Rh negatif, pernah mengalami problem ekspulsi IUD,
leukore atau infeksi vagina, riwayat infeksi pelvis, riwayat operasi pelvis,
keinginan untuk mendapatkan anak dikemudian hari atau pertimbangan kesuburan
dimasa yang akan datang.
Pendapat lain mengatakan
terdapat beberapa kontra indikasi IUD antara lain :
a.
Indikasi-kontra mutlak
pemakaian IUD ialah kehamilan, penyakit radang panggul aktif atau rekuren,
karsinoma servik, karsinoma korporis uteri.
b.
Indikasi-kontra relatif
lain ialah tumor ovarium, kelainan utrerus mioma, kanalis servikalis, dan
sebagainya), Gonorhea, servisitis, kelainan haid, dismenore, stenosis kanalis
servikalis (Winkjosastro, 2002)
2.3.10 Waktu
Pemasangan IUD
Waktu pemasangan IUD dapat
dipasang bersamaan dengan menstruasi, segera setelah bersih menstruasi, pada
masa akhir puerperium, tiga bulan pasca persalinan, bersamaan dengan seksio
sesarea, bersamaan dengan abortus dan kuretage, hari kedua-ketiga pasca
persalinan (Manuaba, 2009)
2.3.11 Periksa
Ulang IUD
Pemeriksaan ulang sesudah
IUD atau AKDR dipasang, dilakukan 1
minggu sesudahnya, pemeriksaan kedua 3 bulan kemudian, dan selanjutnya
tiap 6 bulan.(prawiroharjo ,2009)
2.3.12 Efek
Samping
Kemungkinan terjadinya
kehamilan, ekspulsi, dan beberapa efek samping hendaknya dijelaskan kepada
pasien.
Ekspulsi biasanya terjadi
pada 3-6 bulan pertama, yang dapat sebagian atau seluruh IUD. Ekspulsi dapat
diketahui oleh pasien pada waktu memperhatikan darah haidnya. Pasien dapat pula
diberi petunjuk cara meraba filamen sendiri sebelum senggama dan sesudah haid
selesai. Beberapa efek samping yang ringan ialah sebagai berikut:
a.
Nyeri pada waktu
pemasangan. Kalau nyeri sekali, dapat dilakukan anestesia paraservikal.
b.
Kejang rahim, terutama
pada bulan-bulan pertama. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan spasmolitikum
atau pemakaian IUD lebih kecil ukurannya.
c.
Nyeri pelvik. Pemberian
spasmolitikum dapat mengurangi keluhan ini.
d.
Perdarahan diluar haid
(spotting).
e.
Darah haid lebih banyak
(menoragia).
f.
Sekret vagina lebih
banyak.
Disamping itu pula terjadi
efek samping yang lebih serius, walaupun jarang dan biasanya segera dikenal,
yaitu sebagai berikut :
a.
Perforasi uterus
Dalam keadaan ini IUD
harus dikeluarkan melalui laparoskopi, atau laparotomi. Hal ini lebih-lebih
harus dilakukan kalau terjadi perforasi pada IUD tembaga, karena dapat
menimbulkan perlekatan-perlekatan dengan usus.
b. Infeksi pelvik
Infeksi yang ringan
umumnya dapat diobati dengan antibiotika. Jika infeksinya berat, hendaknya
dibuat biakan dan uji kepekaan dari daerah endoservuks. IUD itu harus
dikeluarkan, dan antibiotika yang sesuai diberikan.
c.
Endometritis
Gejala dini endometritis
dengan IUD ini ialah keputihan yang berbau, disparenia, metroragia, dan
menoragia. Lebih lanjut dapat menjadi parametritis, pembentukan abses pelvik,
dan peritonitis. Pemeriksaan bakteriologik dari endoserviks dan uterus harus
dilakukan, dan IUD dikeluarkan (Wiknjosastro, 2002)
2.3.13 Pencabutan
IUD
IUD (Intra Uterine
Devices) dapat dibuka sebelum waktunya bila dijumpai :
a.
Ingin
hamil kembali.
b.
Leokorea,
sulit diobati dan peserta menjadi kurus.
c.
Terjadi
Infeksi.
d.
Terjadi
Perdarahan.
e.
Terjadi
kehamilan mengandung bahan aktif dengan IUD.
f.
(Hartono,2003)
2.3.14 Faktor-faktor
yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi IUD
a.
Pendidikan
Pendidikan berarti
bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju
kearah suatu cita-cita tertentu. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang,
maka makin mudah dalam memperoleh menerima informasi, sehingga kemampuan ibu dalam
berpikir lebih rasional.(Varney, 2006). Sedangkan Menurut beberapa ahli salah
satunya adalah Dictionory of Education
Pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan
bentuk-bentuk tingkah laku lainnya didalam masyarakat dimana ia hidup, proses
sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan
terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh,
mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum
(Ihsan Fuad, 2005).
b.
Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil
tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek
tertentu (Notoatmodjo, 2010). Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mat
dan telinga. Pengetahuan merupakan pedoman dalam membentuk tindakan seseorang.
(Maulana, 2009). Pengetahuan sebenarnya merupakan sebuah informasi juga yang
merupakan hasil dari pengolahan data, memandang bahwa suatu informasi dikatakan
pengetahuan jika dapat digunakan dalam pengambilan keputusan sebagaimana dikemukakan.
(Vercellis, 2009)
c.
Pekerjaan
Pekerjaan disini selain
dikaitkan dengan berat ringannya beban kerja bagi akseptor maka pekerjaan
terkait pula dengan ekonomi. Ekonomi adalah sebuah kegiatan yang biasa
menghasilkan uang. Ekonomi juga cakupan urusan keuangan rumah tangga. (Depdiknas,
2002).
Tingkat ekonomi
mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena untuk
mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus menyediakan
dana yang diperlukan.
Pekerjaan adalah aktifitas
yang dilakukan sehari-hari dimana seluruh bidang pekerjaan umumnya diperlukan
adanya hubungan social dan hubungan dengan orang baik, setiap orang harus dapat
bergaul dengan orang lain, setiap orang harus bergaul dengan teman sejawat
maupun berhubungan dengan atasan. Pekerjaan dapat mnggambarkan tingkat
kehidupan seseorang karena dapat mempengaruhi sebagian aspek kehidupan
seseorang termasuk pemeliharaan kesehatan. (Notoatmojo, 2010)
d.
Umur
Umur adalah lama waktu
hidup sejak dilahirkan. (Depdiknakes, 2002). Usia yang dimaksud disini adalah
usia akseptor KB. Usia mempengaruhi akseptor dalam penggunaan alat kontrasepsi.
Dari faktor-faktor usia dapat ditentukan fase-fase. Usia kurang 20 tahun; fase
menunda kehamilan, usia antara 20-30 tahun; fase menjarangkan kehamilan. Usia
antara 30 tahun lebih; fase mengakhiri kehamilan. (Hartanto, 2002).
e.
Paritas
Paritas dapat dibedakan
menjadi primipara, multipara dan grandemultipara. (Prawiroharjo, 2009). Paritas
adalah jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu baik yang hidup maupun
mati. Jumlah anak yang banyak pada keluarga yang social ekonominya menengah
kebawah akan menyebabkan kekurangan perhatian yang seutuhnya pada anak.
(Notoatmojo, 2003). Paritas adalah jumlah anak yang di lahirkan seorang wanita
selama hidupnya.hal ini sangat mempengaruhi kesehatannya. Paritas 2-3 merupakan
paritas yang paling aman di tinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan
paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai resiko angka kematian maiernal lebih
tinggi (winkjosastro,2006).
f.
Sosial budaya
Istilah sosial budaya
menunjukan kepada dua segi kehidupan bersama manusia, yaitu kemasyarakatan dan
kebudayaan. Masyarakat setempat belum terbiasa dalam penggunaan IUD,efek
negatif pandangan bahwa IUD dapat mempengaruhi kenyamanan dalam hubungan sex,
dilarang suami, dilarang keluarga, pandangan dari agama tertentu
yang melarang atau mengharamkan penggunaan IUD.
(Anonim, 2010)
g.
Psikologis
Psikologi berarti ilmu jiwa. Namun pengertian jiwa tidak pernah
ada kesepakatan dari sejak dahulu.(Nursalam 2009).Jenis kontrasepsi IUD ini
diklaim paling aman. Meski demikian kondisi ini tidak berlaku umum bagi tiap
ibu. Ada beberapa resiko seperti perdarahan, rasa nyeri di perut dan
sebagainya. Namun selama dokter/ bidan memastikan tidak ada yang salah dengan
pemasangan alat ini, maka efek yang muncul bisa jadi adalah efek psikologis.
Masalah psikologis biasanya keluhan yang muncul adalah rasa sakit, rasa tidak
nyaman, suami meras ada yang menjanggal/”menusuk” saat berhubungan intim dan
sebagainya. Ketakutan akan keluarnya material IUD dari rahim atau jalan lahir,
Perasaan risih dan malu karena harus membuka pakaian dalam dan memperlihatkan
alat kemaluan pada orang Iain/pemeriksa. Prosedur medis termasuk pemeriksaan felvik
diperlukan dalam pemasangan IUD dan seringkali menimbulkan perasaan takut
selama pemasangan.
(Nursalam, 2011)
h.
Klasifikasi
Pengetahuan
1)
Baik : 76 -
100% jika 17-20 jawaban benar
2)
Cukup : 50 - 75%
jika 16-11 jawaban benar
3)
Kurang : < 50%
jika 0-10 jawaban benar
(Arikunto, 2006)
BAB
III
KERANGKA KONSEP
3.1 Kerangka
Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
Pengetahuan Ibu
|
Faktor Eksternal :
1.
Sosial
budaya
2.
Psikologis
|
Rendahnya cakupan akseptor
kontrasepsi IUD
|
Faktor Internal :
1.
Umur
2.
Paritas
3.
Pendidikan
4.
Pekerjaan
|
: Variabel yang diteliti
Sumber dimodifikasi dari teori Notoadmodjo,
2010.
24
|
3.2 Definisi
Operasional
No
|
Variabel
|
Definisi Operasional
|
Alat Ukur
|
Cara Ukur
|
Hasik Ukur
|
Skala Data
|
1.
|
Umur
|
Lama
waktu hidup sejak dilahirkan
|
Kuisioner
|
Wawancara
|
a. <20 tahun
b. 20-35 tahun
c. >35 tahun
|
Ordinal
|
2.
|
Paritas
|
Jumlah anak yang dilahirkan oleh wanita sampai dengan saat penelitian ini
|
Kuisioner
|
Wawancara
|
a.
Primipara:1
b.
Multipara 2-4
c.
Grande > 4
|
Ordinal
|
3.
|
Pendidikan
|
Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
sekelompok orang melalui pengajaran dan pelatihan
|
Kuisioner
|
Wawancara
|
a.
Dasar : SD
b.
Menengah : SMP-SLTA
c.
Tinggi : Perguruan tinggi
|
Ordinal
|
4.
|
Pekerjaan
|
Kegiatan yang biasa dilakukan yang menghasilkan uang
yang dikaitkan dengan berat ringannya pekerjaan
|
Kuisioner
|
Wawancara
|
a.
Bekerja
b.
Tidak bekerja
|
Nominal
|
5.
|
Pengetahuan
|
Hasil
tahu dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek
tertentu
|
Kuesioner
|
Wawancara
|
a.
Baik : 76 % -100%
b. Cukup : 50%-70%
c.
Kurang : < 50%
|
Ordinal
|
6.
|
Sosial budaya
|
Pandangan terhadap
penggunaan kontrasepsi IUD yang dipengaruhi oleh kehidupan sosial masyarakat
sekitar
|
Kuesioner
|
Wawancara
|
a.
Positif : Jika 49-100%
b.
Negatif : Jika <49 %
|
Nominal
|
7.
|
Psikologis
|
Pandangan yang dikemukakan oleh responden tentang
pemasangan IUD
|
Kuesioner
|
Wawancara
|
a.
Positif : Jika 47-100%
b.
Negatif :
Jika < 47%
|
Nominal
|
BAB IV
METODE
PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. menurut penelitian
deskriptif adalah penelitian yang berusaha menggali dan
mendeskripsikan/menjelaskan gejala-gejala, peristiwa kejadian yang terjadi pada
saat sekarang (Arikunto, 2002). Dengan pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan Cross sectional yaitu
variabel pada objek penelitian diukur/dikumpulkan secara simultan/dalam waktu
yang bersamaan. (Notoatmojo, 2010)
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian
4.2.1
Tempat Penelitian
Tempat
penelitian adalah daerah atau lokasi di mana penelitian tersebut dilaksanakan
dan lokasi penelitian ini adalah di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang,
Kecamatan Sekarbela Kota Mataram dengan alasan :
a. Cakupan akseptor untuk IUD yaitu 4 akseptor sampai Desember 2011
b. Belum ada penelitian sejenis di tempat
tersebut.
c. Tempat yang strategis
27
|
4.2.2
Waktu
Penelitian
telah dilaksanakan pada tanggal 1-30 Agustus 2012 di Kelurahan Kekalik Jaya yang merupakan wilayah kerja
Puskesmas Tanjung Karang.
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1
Populasi
Populasi
adalah keseluruhan objek penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2010).
Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada di wilayah penelitian, maka penelitianya
merupakan penelitian populasi.
Populasi
dalam penelitian ini adalah pasangan usia subur yang menjadi akseptor KB selain
IUD di Kelurahan Kekalik Jaya
sebanyak 337
jiwa.
4.3.2
Sampel
Sampel
adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi (Notoadmodjo,2010)
4.3.3
Besar Sampel
Besar
sampel adalah banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel berdasarkan
pertimbangan tenaga, waktu, biaya yang dimiliki. Untuk besar sampel dapat
ditentukan dengan rumus sebagai berikut (Notoatmodjo, 2010)
Keterangan :
N =
Besar populasi
n = Besar sampel
d = Tingkat kepercayaan/ ketepatan yang
diinginkan (0,01)
Besar
sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :
n =
n =
n =
n =
n
= 100
Berdasarkan
perhitungan tersebut diatas, maka jumlah sampel
dalam penelitian ini sebanyak 100 orang.
4.3.4
Tehnik Pengambilan
Sampel
Teknik sampling adalah teknik
yang digunakan untuk mengambil sampel dalam populasi (Arikunto, 2006). Teknik
sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Random Sampling. Random
Sampling yaitu pengambilan sampel secara random atau acak. Random sampling yang
digunakan adalah Systematic Random Sampling yaitu pengambilan sampel secara
acak sistematis, caranya adalah membagi jumlah atau anggota populasi dengan
perkiraan jumlah yang diinginkan, hasilnya adalah interval sampel. Sampel
diambil dengan membuat daftar elemen atau anggota populasi secara acak antara 1
sampai dengan banyaknya anggota populasi. Kemudian membagi dengan jumlah sampel
yang diinginkan , hasilnya sebagai interval adalah X, maka yang terkena sampel
adalah setiap kelipatan dari X tersebut.
Keterangan :
I = Intervalnya
N = Jumlah populasi
n = Sampel yang diinginkan
I =
I = 3,37 dibulatkan menjadi 3
Bilangan 1 s.d 3 dirandom, bila keluar angka 3 maka
3 adalah sampel pertama, sampel kedua, ketiga, keempat dan seterusnya adalah
bilangan kelipatan 3. Jadi 6, 9, 12 dan seterusnya sampai didapat 100 sampel.(
Notoatmodjo, 2010 hal 121 )
4.3.5
Kriteria Sampling
4.3.5.1
Kriteria Inklusi
Kriteria
Inklusi adalah sampel yang dapat diambil atau dimasukan atau layak untuk
diteliti dengan kriteria inklusi. (Notoatmodjo, 2010) yaitu :
1. Pasangan usia
subur yang ada di wilayah kekalik Jaya
2. Ibu-ibu yang
sudah menikah.
3. Pasangan usia
subur yang bersedia menjadi responden dalam penelitian
4.3.5.2
Kriteria Ekslusi
Kriteria
Ekslusi adalah sampel yang tidak untuk diteliti. (Notoatmodjo, 2010) dengan
kriteria :
1. Ibu yang menggunakan IUD
2. Pasangan usia
subur yang bersedia menjadi responden tetapi tidak hadir pada saat penelitian.
4.4 Teknik dan Jenis Pengumpulan Data
4.4.1
Teknik Pengumpulan
Data
Untuk mengumpulkan
data mengenai gambaran rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD maka digunakan
teknik kuesioner terstruktur dengan menggunakan kuesioner yang berisi
pertanyaan
berupa karakteristik responden, faktor
sosial budaya, psikologis dan pengetahuan responden tentang kontrasepsi IUD.
Untuk mengumpulkan data gambaran umum tempat penelitian digunakan teknik
dokumentasi yaitu dengan mengambil data yang ada pada profil kelurahan Kekalik Jaya.
4.4.2
Jenis data Yang
Dikumpulkan
4.4.2.1
Data Primer yaitu data yang bersumber langsung
dari responden, didapatkan dengan wawancara dan membawa kuesioner ke responden
yang meliputi :
a. Data karakteristik responden yang
meliputi: umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas.
b. Data tentang faktor sosial budaya sebagai
penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD.
c. Data tentang faktor psikologis sebagai
penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD
d. Data tentang faktor pengetahuan sebagai
penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD.
4.4.2.2
Data Sekunder yaitu data yang berupa
dokumen-dokumen seperti data mengenai keadaan demografi suatu daerah. Dalam
penelitian ini yang termasuk data sekunder adalah tentang Data gambaran umum lokasi penelitian
dan jumlah akseptor KB non IUD yang didapatkan dari register KB Poskesdes
Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung karang Tahun 2011.
4.5 Cara pengolahan Data dan Analisa Data
4.5.1
Teknik Pengolahan
Data
Teknik
pengolahan data dilakukan secara manual dan melalui komputerisasi. Dalam
pengolahan ini mencakup :
a. Editing
Setelah
semua data terkumpul, Peneliti melakukan pengecekan ulang. Hal tersebut
dilakukan untuk memeriksa kelengkapan dari hasil jawaban responden pada setiap
lembar jawaban kuesioner.
b. Coding
Merubah
bentuk data berbentuk menjadi angka atau bilangan-bilangan pada masing-masing
variabel, diberi kode atau skor selanjutnya dimasukan dalam lembar kerja, tabel
kerja untuk memudahkan entri data dikomputer.
Data karakteristik responden :
1)
Umur
Umur
diolah dengan cara mengelompokkannya dalam 3 kategori yaitu:
(a)
< 20 tahun : kode 1
(b)
20-35 tahun : kode 2
(c)
> 35 tahun : kode 3
2)
Pendidikan
Pendidikan
diolah dengan cara mengelompokkannya dalam kategori :
(a)
Dasar (SD-SMP) : kode 1
(b)
Menengah (SLTA) : kode 2
(c)
Tinggi(Perguruan Tinggi) :
kode 3
3)
Pekerjaan
Pekerjaan
diolah dengan cara mengelompokkannya dalam 2 kategori yaitu,:
(a)
Bekerja : kode 1
(b)
Tidak bekerja : kode 2
4)
Paritas
Paritas
diolah dengan cara mengelompokkannya dalam kategori :
(a)
Primipara : kode 1
(b)
Multipara :
kode 2
(c)
Grande multipara :
kode 3
c. Skoring
Merubah bentuk
data berbentuk menjadi angka atau bilangan-bilangan pada masing-masing
variabel, diberi skor selanjutnya dimasukan dalam lembar kerja, tabel kerja
untuk memudahkan entri data dikomputer.
1)
Faktor Sosial Budaya
Sosial
budaya diolah dengan cara mengelompokkannya dalam 2 kategori yaitu :
(a)
Positif : Jika 49-100%
(b)
Negatif :
Jika <49%
2)
Psikologis
Psikologis
diolah dengan cara mengelompokkannya dalam 2 kategori yaitu :
(a)
Positif : Jika 47-100%
(b)
Negatif : Jika <47%
Pada
skoring sosial budaya dan psikologis digunakan skala Guttman, skala ini
merupakan skala yang bersifat tegas dan konsistensi dengan memberikan jawaban
yang tegas seperti jawaban dari pertanyaan ya, dan tidak, positif dan negatif,
setuju dan tidak setuju, benar dan salah. untuk kuesioner sosial budaya dan
psikologis untuk jawaban “ya” diberi skor 1 dan untuk jawaban “tidak” diberi
skor 0.
3)
Pengetahuan:
Untuk
kuesioner pengetahuan jawaban benar diberi skor 1 dan jawaban salah diberi skor
0.
Selanjutnya dikategorikan :
Baik : 76 - 100%
jika 17-20 jawaban benar
Cukup : 50 - 75%
jika 16-11 jawaban benar
Kurang : < 50%
jika 0-10 jawaban benar
(Arikunto, 2006)
4)
Entry
Memasukkan
data dengan cara memindahkan data dari kuesioner ke dalam master tabel (tabel
umum). Master tabel adalah suatu tabel yang berisi seluruh data atau variabel
hasil penelitian (Notoatmodjo, 2010).
5)
Tabulasi Data
Tabulasi
data dilakukan secara manual dan dengan bantuan komputer. Dalam tahap ini, data
dari master tabel akan dipindahkan kedalam tabel distribusi frekuensi.
4.5.2
Analisis Data
Setelah
data terkumpul dari hasil instrumen yang digunakan, data tersebut dianalisa,
analisa yang digunakan analisa univariat, kemudian data disajikan dalam bentuk
narasi dan tabel.
4.6 Waktu penelitian
No
|
Kegiatan
|
Waktu Penelitian
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Desember 2011
(Minggu Ke-)
|
Januari 2012
(Minggu Ke-)
|
Februari 2012
(Minggu Ke-)
|
Maret 2012
(MingguKe-)
|
April 2012
(Minggu Ke-)
|
Mei 2012
(MingguKe-)
|
Juni 2012
(MingguKe-)
|
Juli 2012
(MingguKe-)
|
Agustus 2012
(MingguKe-)
|
September 2012
(MingguKe-)
|
||||||||||||||||||||||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
1.
|
Pengajuan Judul
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
2.
|
Observasi dan penelitian
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
3.
|
Penyusunan Proposal
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
4.
|
Ujian Proposal
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
5.
|
Penelitian
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
6.
|
Penyusunan KTI
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
7.
|
Ujian KTI
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
BAB V
HASIL
PENELITIAN
5.1 Gambaran
Umum Tempat Penelitian
5.1.1
Letak Geografis
Puskesmas Tanjung Karang
seperti halnya Puskesmas di Indonesia didasarkan pada KEPMENKES No. 128 Tahun
2004, merupakan sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Kota Mataram
yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau
sebagian wilayah kecamatan yang dalam hal ini yaitu Wilayah Kecamatan Ampenan
daan Sekarbela Kota Mataram. Keadaan geografis Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung
Karang sebagian besar berupa daerah pinggir pantai dan sebagian lainnya daerah
dataran rendah.
Wilayah Kerja Puskesmas
Tanjung Karang yang daerahnya berupa dataran rendah adalah Kelurahan Kekalik
Jaya dan Taman Sari. Luas Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang adalah 7.533
Km2 yang terdiri dari 6 kelurahan dengan batas wilayah adalah sebagai
berikut :
a.
Sebelah
Utara : Berbatasan dengan
Kelurahan Ampenan Tengah, Wilayah Kerja Puskesmas Ampenan.
b.
38
|
c.
Sebelah selatan :
Berbatasan dengan kelurahan Karang Pule, Wilayah Kerja Puskesmas Karang Pule.
d. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Selat Lombok.
5.1.2
Demografi Wilayah Kerja Puskesmas
Tanjung Karang
a. Kepadatan Penduduk
Jumlah kepadatan penduduk
yang dilayani di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang adalah 40.231 jiwa yang
tersebar di 6 kelurahan. Penduduk terpadat berada di Kelurahan Tanjung Karang
Permai yaitu berjumlah 8.893 jiwa, kemudian disusul dengan Kelurahan Ampenan
Selatan 8.630 jiwa, Kelurahan Kekalik Jaya 8.171 jiwa, Kelurahan Banjar 6.735
jiwa, Kelurahan Taman sari 5.502 jiwa, Kelurahan Tanjung Karang 2.300 jiwa.
Sedangkan Kelurahan terluas adalah Tanjung Karang, dan luas Wilayah Kelurahan
terkecil adalah Tanjung Karang Permai.
Perbandingan antara penduduk
berjenis kelamin laki-laki dengan perempuan adalah 20.496 jiwa (47,78%) dengan
22.402 jiwa (52,22%). Kebanyakan penduduk yang tinggal di Wilayah Kerja
Puskesmas Tanjung Karang bekerja di bidang pedagangan, nelayan, jasa angkutan
dan industri pengolahan.
b. Sarana / tempat pelayanan
kesehatan
Sarana pelayanan kesehatan
lingkup Puskesmas tanjung Karang selain Puskesmas Induk, juga 2 Puskesmas
Pembantu (Pustu) yaitu Pustu di Ampenan Selatan dan Puskesmas Pembantu (Pustu)
di Tanjung Karang tepatnya Wilayah Perumnas. Dengan 2 buah Polindes di Ampenan
Selatan dan di Kekalik Jaya, dimana bidan desanya menetap. Namun ada pula 1
orang bbidan desa yang tidak menetap di desa, yaitu Bidan Desa Tanjung Karang
Permai.
Selain itu sebagai salah satu
puskesmas dalam lingkup Kota Mataram, keberadaan alat dan bahan kesehatan
relative lengkap dan sesuai standar pelayanan dan lebih memungkinkan
pengembangan Puskesmas kedepannya.
c. Sumber Daya Kesehatan Ketenagaan
Jumlah tenaga pada lingkup
puskesmas Tanjung Karang tahun 2008 adalah 47 orang yang terdiri dari 38
(80,85%) tenaga PNS, dan 9 (19,15%) tenaga mengabdi / sukarela.
Dari jumlah 47 orang tenaga
yang ada, sebagian besar adalah tenaga paramedic perawatan (perawat, perawat
gigi, dan bidan) dan paramedic non perawatan (Sarjana kesehatan, sanitarian,
ahli gizi, laboran dan asisten apoteker).
5.2 Identifikasi Karakteristik Responden
5.2.1 Umur
Umur/usia adalah salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi pilihan akseptor untuk menggunakan alat kontrasepsi. Untuk
mengetahui karakteristik responden berdasarkan kelompok umur, dapat dilihat
pada tabel 5.1 berikut :
Tabel 5.1. Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur
di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.
No
|
Umur
|
n
|
%
|
1
|
<20 tahun
|
1
|
1,0
|
2
|
20 – 35 tahun
|
84
|
84,0
|
3
|
> 35 tahun
|
15
|
15,0
|
Jumlah
|
100
|
100,0
|
|
Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa dari 100
responden didapatkan sebagian besar 84 responden (84,0%) responden berada pada
kelompok umur 20-35 tahun dan sebagian kecil 1 responden (1,0%) responden
berada pada kelompok umur < 20 tahun.
5.2.2
Pendidikan
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan
pendidikan, dapat dilihat pada tabel 5.2 berikut :
Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat
Pendidikan di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang
Tahun 2011.
No
|
Pendidikan
|
n
|
%
|
1
|
Dasar
|
34
|
34.0
|
2
|
Menengah
|
43
|
43.0
|
3
|
Tinggi
|
23
|
23.0
|
Jumlah
|
100
|
100.0
|
|
Berdasarkan tabel 5.2 diatas dapat dilihat bahwa 43 responden
(43,0%) responden memiliki tingkat pendidikan Menengah sedangkan yang paling
sedikit 23 responden (23,0%) responden berpendidikan tinggi.
5.2.3 Pekerjaan
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan
jenis pekerjaan, dapat dilihat pada tabel 5.3 berikut :
Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di
Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.
No
|
Pekerjaan
|
N
|
%
|
1
|
Bekerja
|
32
|
32.0
|
2
|
Tidak
Bekerja
|
68
|
68.0
|
Jumlah
|
100
|
100.0
|
|
Berdasarkan tabel 5.3 di
atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 68 responden (68,0%)
responden tidak bekerja di luar rumah melainkan
beraktifitas sebagai ibu rumah tangga (IRT), sedangkan sisanya 32 responden (32,0%) responden bekerja di berbagai
bidang yaitu ada yang PNS, Honorer dan ada yang bergerak dibidang swasta.
5.2.4 Paritas
Untuk mengetahui karakteristik responden bedasarkan
jumlah paritas, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Paritas di
Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.
No
|
Paritas
|
n
|
%
|
1
|
Primipara
|
32
|
32.0
|
2
|
Multipara
|
63
|
63.0
|
3
|
Grande
Multipara
|
5
|
5.0
|
Jumlah
|
100
|
100.0
|
|
Berdasarkan tabel 5.4 di atas dapat dilihat bahwa sebagian
besar 63 responden (63,0%) responden adalah multipara atau ibu sudah pernah melahirkan
2-4 kali dan sebagian kecil 5 responden (5,0%) responden adalah grande
multipara atau sudah melahirkan > 4 kali.
5.3 Identifikasi
Faktor Sosial Budaya Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD
Untuk mengetahui distribusi
faktor Sosial Budaya Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD dapat dilihat
pada tabel 5.5 berikut :
Tabel 5.5 Distribusi faktor Sosial Budaya Penyebab Rendahnya
Pemakaian Kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya
Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.
No
|
Sosial Budaya
|
n
|
%
|
1
|
Positif
|
65
|
65,0
|
2
|
Negatif
|
35
|
35,0
|
Jumlah
|
100
|
100,0
|
|
Berdasarkan tabel 5.5 di atas
dilihat bahwa dari 100 responden sebagian besar faktor sosial budaya yang
menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak positif yaitu
sebanyak 65 responden (65,0%) dan sebagian kecil memiliki dampak negatif yaitu sebanyak 35 responden (35,0%)
5.4 Identifikasi
Faktor Psikologis Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD
Untuk mengetahui distribusi
faktor psikologi Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD dapat dilihat
pada tabel 5.6 berikut :
Tabel 5.6 Distribusi faktor
Psikologis Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas
Tanjung Karang Tahun 2011.
No
|
Psikologi
|
n
|
%
|
1
|
Positif
|
68
|
68,0
|
2
|
Negatif
|
32
|
32,0
|
Jumlah
|
100
|
100,0
|
|
Berdasarkan tabel 5.6 di atas
dilihat bahwa dari 100 responden sebagian besar faktor psikologi yang
menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak positif yaitu
sebanyak 68 responden (68,0%) dan sebagian kecil memiliki dampak negatif yaitu sebanyak 32 responden (32,0%)
5.5 Identifikasi
Faktor Pengetahuan Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD
Tingkat pengetahuan adalah
hal yang sangat mempengaruhi seseorang dalam melakukan sesuatu, jika
pengetahuan responden tentang IUD baik maka besar kemungkinan responden akan
menggunakan IUD. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden makan dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.7 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat
Pengetahuan Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja
Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.
No
|
Pengetahuan
|
n
|
%
|
1
|
Baik
|
57
|
57.0
|
2
|
Cukup
|
43
|
43.0
|
Jumlah
|
100
|
100.0
|
|
Berdasarkan tabel 5.7 diatas
terlihat bahwa dari 100 responden sebagian besar responden memiliki tingkat
pengetahuan baik sebanyak 57 responden (57,0%) dan sebagian kecil responden
memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 43 responden (43,0%).
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Karakteristik
responden
6.1.1
Umur
Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan oleh peneliti berdasarkan kelompok umur dari 100 responden
dapat diketahui bahwa sebagian besar 84 responden (84,0%) responden berada pada
kelompok umur 20-35 tahun dan sebagian kecil 1 responden (1,0%) responden
berada pada kelompok umur < 20 tahun.
Dari hasil penelitian diatas
peneliti mengasumsikan bahwa umur merupakan salah satu faktor yang menyebabkan
rendahnya tingkat pengetahuan ibu tentang faktor-faktor yang menyebabkan
rendahnya cakupan alat kontrasepsi IUD. Semakin produktif usia seseorang maka
semakin tinggi tingkat pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat mempengaruhi
pola pikir dan daya tangkap dalam menggunakan alat kontrasepsi. Hal ini sangatlah
penting untuk menjaga jarak anak dan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
Sedangkan ibu yang berumur <20 dan >35 tahun memiliki pengetahuan yang
kurang tentang faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan alat
kontrasepsi IUD. Hal ini disebabkan oleh pola pikir dan daya tangkap yang
dimiliki oleh ibu usia <20 dan >35 tahun semakin menurun. Karena pada
umumnya semakin semakin rendah usia seseorang maka tingkat pengetahuannya
semakin kurang. Begitu juga sebaliknya semakin lanjut usia seseorang maka semakin
menurun pola pikir dan daya tangkapnya.
Hal ini sesuai dengan teori
yang diungkapkan oleh Hartanto (2002) mengatakan bahwa faktor-faktor -faktor
usia dapat ditentukan fase-fase. Usia kurang 20 tahnu : fase menunda kehamilan,
usia antara 20-35 tahun fase menjarangkan kehamilan, usia antara 35 tahun lebih
fase mengakhiri kehamilan. (Hartanto,2002).
Sedangkan menurut penelitian
yang dilakukan oleh Eman (2005) di Puskesmas Tanjung, mengatakan bahwa ibu
dengan usia produktif memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang
faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan alat kontrasepsi IUD. Hal ini
disebabkan oleh banyaknya pengalaman dan tingginya jenjang pendidikan yang
ditempuh oleh ibu.
47
|
6.1.2
Pendidikan
Pada tabel dapat dilihat
bahwa sebagian besar responden berpendidikan menengah keatas yaitu 43(43,0%).
Pendidikan merupakan proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.(Kamus Besar Bahasa
Indonesia 2008). Dengan kata lain, semakin tinggi pendidikan seseorang maka
pandangannya terhadap suatu persoalan akan lebih objektif.
6.1.3
Pekerjaan
Pada tabel dapat dilihat
bahwa responden sebagian besar beraktifitass sebagai ibu rumah tangga yaitu
sebesar 68(68,0%). Ibu-ibu biasanya beranggapan bahwa jika menggunakan IUD maka
tidak boleh melakukan kerja yang berat.
Pekerjaan disini selain
dikaitkan dengan berat ringannya beban kerja bagi akseptor maka pekerjaan
terkait pula dengan ekonomi. Ekonomi adalah sebuah kegiatan yang biasa
menghasilkan uang. Ekonomi juga cakupan urusan keuangan rumah tangga
(Depdiknas,2007)
Tingkat ekonomi mempengaruhi
pemilihan jenis kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena untuk mandapatkan pelayanan
kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus menyediakan dan ayang diperlukan.
6.1.4
Paritas
Dari hasil penelitian yang
tertuang pada tabel dapat dilihat bahwa sebagian besar responden 63(63,0%)
adalah multipara artinya sudah melahirkan 2-4 kali, sedangkan yang paling
sedikit 5(5,0%) adalah grande multipara atau melahirkan lebih dari 4 kali. Hal
ini menunjukan bahwa kesadaran massyarakat tentang jumlah anak yang baik untuk
kesehatan ibu sudah cukup baik karena menurut Wiknjosastro (2006) paritas 2-4
merupakan paritas yang paling aman di tinjau dari sududt kematian maternal.
Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 4) mempunyai resiko angka kematian
maternal lebih tinggi.
Paritas adalah jumlah anak
yang dilahirkan seseorang wanita selama hidupnya. Hal ini sangat mempengaruhi
kesehatannnya. (Wikjosastro 2006)
6.2 Faktor Sosial
Budaya Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD
Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan terhadap 100 responden sebagian besar faktor sosial budaya
yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak positif
yaitu sebanyak 68 responden (68,0%) dan sebagian kecil memiliki dampak negatif yaitu sebanyak 32 responden (32,0%).
Faktor sosial budaya
merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dalam pemilihan
jenis kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena untuk mendapatkan pelayanan
kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus menyediakan dana yang diperlukan.
Walaupun jika dihitung dari segi keekonomisannya, kontrasepsi IUD lebih murah
dari KB suntik atau pil, tetapi kadang orang melihatnya dari berapa biaya yang
harus dikeluarkan untuk sekali pasang. Kalau patokannya adalah biaya setiap
kali pasang, mungkin IUD tampak jauh lebih mahal. Tetapi kalau dilihat
masa/jangka waktu penggunaannya, tentu biaya yang harus dikeluarkan untuk
pemasangan IUD akan lebih murah dibandingkan KB suntik atau pun pil. (Erfandi,
2008).
Pandangan dari agama-agama
tertentu yang melarang atau mengharamkan penggunaan IUD. Ada beberapa orang
yang menganggap bahwa metode KB IUD termasuk yang dilarang dalam ajaran agama,
karena beberapa produk IUD saat ini terbuat dari bahan yang tidak kondusif bagi
zygote sehingga bisa membunuhnya dan proses kehamilan tidak terjadi.
Dari hasil penelitian dan
pendapat ahli tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat
sosial budaya yang dimiliki oleh seseorang, maka semakin rendah pula tingkat
pemakaian alat kontrasepsi IUD yang digunakan.
6.3 Faktor Psikologis
Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD
Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap 100 responden sebagian besar faktor
psikologi yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak
positif yaitu sebanyak 68 responden (68,0%) dan sebagian kecil memiliki dampak
negatif yaitu sebanyak 32 responden
(32,0%).
Faktor psikologis berkaitan
dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang dapat mempengaruhi rendahnya
pemakaian kontrasepsi IUD. Karena Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi
terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
Contohnya adalah seperti sikap setuju atau tidaknya mereka terhadap informasi
alat kontrasepsi dan KB IUD, pengertian alat kontrasepsi dan manfaatnya, serta
kesediaannya mendatangi tempat pelayanan fasilitas dan sarananya, juga
kesediaan mereka memenuhi kebutuhan sendiri.
Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Pardosi (2005) yang mengatakan bahwa faktor
psikologis yang berkaitan dengan sikap dapat mempengaruhi seseorang dalam
pemilihan dan pemakaian alat kontrasepsi IUD .
6.4 Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil tahu
dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu
(Notoadmojo,2010) penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni :
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan kognitif merupakan yang
sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Apabila pengetahuan
seseorang cukup baik maka tindakan yang dilakukan akan baik pula.
Pada penelitian ini sebagian besar 43(43,0%) responden
memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baik tentang IUD dan 57(57,0%) lainnya
memiliki tingkat pengetahuan yang sangat baik tentang IUD, tidak ada respon
yang tidak paham mengenai IUD.
BAB VII
KESIMPULAN
DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
7.1.1 Karakteristik
Reponden
Dari 100 responden dapat diketahui bahwa sebagian
besar responden memiliki rentang umur 20-35 tahun sebanyak 84 responden
(84,0%), memiliki tingkat pendidikan menengah sebanyak 43 responden (43,0%),
tidak bekerja sebanyak 68 responden (68,0%) dan memiliki paritas multipara
sebanyak 63 responden (63,0%).
7.1.2
Faktor sosial budaya yang
menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD
Dari 100 responden sebagian besar faktor sosial budaya
yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak positif yaitu
sebanyak 65 responden (65,0%)
7.1.3
Faktor psikologi yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD
Dari 100 responden sebagian besar faktor psikologi
yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak positif
yaitu sebanyak 68 responden (68,0%).
55
|
7.1.4
Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan responden
memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 57 responden (57,0%) dan sebagian
kecil responden memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 43 responden
(43,0%).
7.2 Saran
7.2.1 Bagi
Akseptor KB
Agar dapat melihat secara objektif alat kontrasepsi
sehingga pemilihan alat kontrasepsi tidak hanya berdasarkan pada pengaruh dan
larangan dari suami, orang tua, keluarga maupun teman tetapi lebih berdasarkan
pada kecocokan alat kontrasepsi berdasarkan pemeriksaan medis dan kenyaman
responden sendiri.
7.2.2 Bagi Petugas Kesehatan (Bidan)
Agar dapat memberikan pengaruh-pengaruh positif kepada
akseptor dengan memperlihatkan bukti-bukti fisik mengenai pemakaina alat
kontrasepsi IUD, sehingga hal-hal negative yang terlanjur melekat di masyarakat
akan berkurang sehingga pemakaian alat kontarsepsi IUD lebih meningkat.
7.2.3
Bagi Puskesmas Tanjung Karang
Agar bekerja sama dengan instansi terkait seperti
BKKBN dalam memberikan pelayanan dan penyuluhan tentang KB khususnya IUD kepada
masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang.
7.2.4 Bagi Masyarakat
Agar dapat memberikan pengaruh-pengaruh yang baik
terhadap lingkungan, memandang setiap persoalan dengan lebih bijak sehingga
program-program pemerintah khususnya pada program KB (pemakaian alat
kontrasepsi jangka panjang dan efektif) dapat berhasil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar