Sabtu, 12 Januari 2013

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA CAKUPAN AKSEPTOR KONTRASEPSI IUD DI KELURAHAN KEKALIK JAYA WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANJUNG KARANG TAHUN 2011

Judul KTI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan berbagai jenis masalah. Masalah utama yang dihadapi di Indonesia adalah di bidang kependudukan yang masih tingginya pertumbuhan penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin besar usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu Pemerintah terus berupaya untuk menekan laju pertumbuhan dengan program keluarga berencana.
Program KB ini dirintis sejak tahun 1951 dan terus berkembang, sehingga pada tahun 1970 terbentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini salah satu tujuannya adalah penjarangan kehamilan mengunakan metode kontrasepsi dan menciptakan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi seluruh masyarakat melalui usaha-usaha perencanaan dan pengendalian penduduk.
1

Untuk mengendalikan kualitas penduduk yang demikian besar BKKBN menargetkan untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk nasional menjadi sekitar 1,1 % per tahun. Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan pemakaian kontrasepsi, disamping itu juga dengan meningkatkan pelayanan keluarga berencana (KB) dan kesehatan reproduksi yang terjangkau,  bermutu serta efektif menuju terbentuknya keluarga kecil bahagia dan sejahtera  (BKKBN 2009)
Paradigma baru Program KB Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (NKKBS) menjadi "Keluarga berkualitas 2015" untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas adalah keluarga sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung jawab, Harmonis, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sarwono, 2003 ).
Gerakan KB Nasional selama ini telah berhasil mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam membangun keluarga kecil yang makin mandiri. Keberhasilan ini mutlak harus diperhatikan bahkan terus ditingkatkan karena pencapaian tersebut belum merata. Sementara ini kegiatan keluarga berencana masih kurangnya dalam pengunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Bila dilihat dari cara pemakaian alat kontasepsi dapat dikatakan bahwa 51,21 % akseptor KB memilih Suntikan sebagai alat kontrasepsi, 40,02 % memilih Pil, 4,93 % memilih Implant 2,72 % memilih IUD dan lainnya 1,11 %. Pada umumnya masyarakat memilih metode non MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang). Sehingga metode KB MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) seperti Intra Uterine Devices (IUD). Implant, Medis Operatif Pria (MOP) dan Medis Operatif Wanita (MOW) kurang diminati. (www. bkkbn. go. id, 2011).
Di Indonesia berdasarkan hasil pelayanan KB baru komulatif menurut metode kontrasepsi tahun 2007 jumlah peserta KB baru sebesar 5.704.111 peserta.(BKKBN, 2008). Dari hasil data pencapaian akseptor KB aktif Kota Mataram tahun 2011 adalah 47.663 orang (90,01%) dari 65.773 pasangan usia subur (PUS), yang memakai alat kontrasepsi hormonal sebesar 65,11% yang terdiri dari Suntikan 4.562 orang (50,36%), pil 739 orang (8,15%), implant 598 orang (6,60%), sedangkan yang menggunakan alat kontrasepsi efektif sebesar 4,47% yaitu IUD sebanyak 2.450 orang (27,05%), kondom 345 orang (3,80%) dan MOP/MOW 161 orang (1,77%). (BKKBN Kota Mataram, 2011)
Data akseptor IUD tahun 2011 dari seluruh Puskesmas Kota Mataram yaitu dari Puskesmas Karang Taliwang sebanyak 72 orang, Puskesmas Tanjung Karang 65 orang, Puskesmas Pagesangan sebanyak 45 orang, Puskesmas Mataram sebanyak 40 orang, Puskesmas Tanjung Karang sebanyak 26 orang, Puskesmas Ampenan sebanyak 21 orang, Puskesmas Karang Pule sebanyak 19 orang, dan Puskesmas Selaparang hanya 1 orang (BKKBN Kota Mataram 2011).
Berdasarkan data dari Poskesdes Kekalik Jaya jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) tahun 2011 adalah 337, sedangkan yang menjadi peserta KB aktrif adalah  Berdasarkan survey pendahuluan di kelurahan Kekalik Jaya bahwa pengguna alat kontrasepsi Metode kontrasepsi jangka panjang khususnya IUD hanya 4 orang. Pada umumnya PUS (Pasangan Usia Subur) yang telah menjadi akseptor KB lebih banyak menggunakan suntik dan pil. Namun pada akhir-akhir ini akseptor lebih dianjurkan untuk menggunakan program Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), yaitu alat kontrasepsi spiral (IUD), susuk (implant) dan kontap (vasektomi dan tubektomi). Metode ini lebih ditekankan karena MKJP dianggap lebih efektif dan lebih mantap dibandingkan dengan alat kontrasepsi pil, kondom maupun suntikan (www.bkkbn.go.id,2011).
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai "Faktor-faktor penyebab rendahnya cakupan akseptor kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya".

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merumuskan masalah sebagai berikut "Apakah faktor-faktor penyebab rendahnya cakupan kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang?"

1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1   Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab rendahnya cakupan akseptor kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung karang Tahun 2011.



1.3.2   Tujuan Khusus
a.     Mengidentifikasi karakteristik meliputi umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas akseptor KB non IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.
b.    Mengidentifikasi faktor sosial budaya sebagai penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011
c.     Mengidentifikasi faktor psikologis sebagai penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011
d.    Mengidentifikasi faktor pengetahuan sebagai penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1     Bagi Puskesmas Tanjung Karang
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan guna peningkatan pelayanan kontasepsi IUD demi terciptanya metode kontrasepsi efektif dan berjangka panjang.
1.4.2     Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya dalam memperbanyak referensi tentang alat kontrasepsi IUD dan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya.
1.4.3     Bagi akseptor IUD (Responden)
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi masyarakat setempat untuk mengerti dan memahami tentang fungsi, manfaat, serta efektifitas kontrasepsi IUD sehingga masyarakat semakin mengenal dan pemakaian kontrasepsi IUD semakin bertambah
1.4.4     Bagi Peneliti
Penelitian ini sangat berguna untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan dalam penelitian serta sebagai bahan untuk menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama kuliah.
1.4.5     Bagi Peneliti Lain
Agar dapat dijadikan masukan dalam penelitian serupa dan dapat lebih memperdalam penelitian yang sudah ada.



                                                           BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Keluarga Berencana (KB)
Keluarga Berencana Artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak anda dan menentukan sendiri kapan anda ingin hamil atau salah satu usaha masalah kependudukan sekaligus merupakan bagian yang terpadu dalam program Pembangunan Nasional dan bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual, sosbud penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi Nasional (BKKBN,2011).

2.2  Kontrasepsi
Kontrasepsi merupakan bagian dari pelayanan kesehatan reproduksi untuk pengaturan kehamilan, dan merupakan hak setiap individu sebagai mahluk sosial.(Prawiroharjo,2006)
Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat sementara ataupun menetap dan dapat dilakukan tanpa menggunakan alat, secara mekanis, menggunakan obat/alat atau dengan operasi.
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah teriadinya kehamilan (Winkjaksastro, 2010)

7
 
2.3  Intra Uterin Devices (IUD)
2.3.1     Pengertian IUD
Adalah kontrasepsi yang terbuat dari plastik halus berbentuk spiral (Lippes Loop) atau berbentuk lain (Cu T 380A atau ML Cu 250) yang dipasang didalam rahim dengan memakai alat khusus oleh dokter atau bidan/paramedis lain yang sudah dilatih (Buku Petugas Fasilitas Pelayanan KB Depkes RI, 2005).
IUD merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari plastik halus, lembut dan lentur yang diletakkan dalam rongga rahim.
IUD (Intra Uterine Device) adalah rangka plastik kecil yang dipasang kedalam rahim lewat vagina (www. BKKBN.Go.id, 2011).
2.3.2     Macam-macam IUD
Jenis-jenis IUD di kategorikan menjadi 2 yaitu:
a.       Un Medicated IUD
Lippes Loop
Diperkenalkan pada awal 1960an dan dianggap sebagai IUD standar, terbuat dari polyethylene (suatu plastik inert secara biologik) ditambah Barium Sulfat. Ada empat macam IUD Lippes Loop yaitu Lippes Loop A, B, C, D.
b.      Medicated IUD
1)     Cooper IUD
    Yang paling dikenal sampai saat ini adalah CuT-380 A
2)      IUD yang Mengandung Hormon
Progestasert - T= Alza T. Panjang 36 mm, lebar 32 mm, dengan 2 lembar benang ekor warna hitam. Mengandung 38 mg Progesterone, dan Barium Sulfat melepaskan 65 mcg Progesterone per hari. Tabung inserternya berbentuk lengkung. Daya kerja 18 bulan.
2.3.3     Daya Guna
Daya guna IUD biasa (non medicated IUD) seperti Lippes Loop (ukuran D) dan cincin anti karat mempunyai angka kegagalan tinggi. Yaitu 2 sampai 6 untuk 100 wanita. Sebaliknya IUD tembaga ( Tcu 380 dan MLCu 375) yang mempunyai luas permakaian tembaga yang besar adalah IUD yang sangat efektif karena kegagalan tahun pertamanya hanya atau kurang dari 1. Angka kehamilan tahun pertama dan kumulatif dalam 8 tahun adalah 0,6 dan 2,3 untuk Copper T 380A. IUD dengan luas permukaan tembaga yang lebih kecil ( Tcu 200, Tcu 220, dan Tcu7) dan progestase ( IUD yang melepaskan progesterone) mempunyai angka kegagalan pertama 1 sampai 3 per 100 wanita (Hartanto. 2003)
2.3.4     Daya Tahan
Daya tahan IUD sekitar 3,5 sampai 8 tahun. Untuk jenis IUD yang mengandung hormon (progestasen- T) mempinyai daya tahan selama 18 bulan. Untuk IUD jenis Lippes Loop mempunyai daya kerja untuk selama- lamanya sampai menopause selama tidak menimbulkan masalah atau leluhan pemakaianya (Hartanto, 2003)
2.3.5     Cara Kerja IUD
IUD adalah suatu alat yang terbuat dari plastik yang biasa mengandung tembaga hormon steroid. IUD akan berada dalam uterus, bekerja terutama mencegah terjadinya pembuahan (fertilisasi) dengan memblok bersatunya ovum dengan sperma, mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopi dan menginaktifkan sperma.
Mekanisme cara kerja yang pasti dari IUD belum diketahui. Ada beberapa mekanisme cara kerja IUD yang telah diajukan yaitu:
a.       Timbulnya reaksi radang lokal yang non spesifik didalam cavum uteri sehingga implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu. Disamping itu, dengan munculnya leokosit, makrofag, foreign body giant cells, sel mononuclear dan sel plasma yang dapat mengakibatkan lysis dari spermatozoa atau ovum dan blastocyst.
b.      Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi.
c.       Gangguan atau terlepasnya blastocyst telah berimplantasi didalam endrometrium.
d.      Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba fallopii.
e.       Immobilisasi spermatozoa scat melewati cavum uteri.
f.       Dari penelitian-penelitian terakhir, disangka bahwa IUD juga mencegah spermatozoa membuahi sel telur.
g.      Untuk IUD yang mengandung Cu:
1)      Antogonisme kationic yang spesifik terhadap Zn yang terhadap dalam enzim carbonic anhydrase yaitu salah satu enzim dalam traktus genetalia wanita dimana Cu menghambat reaksi carbonic anhydrase sehingga tidak memungkinkan terjadinya implantasi dan mungkin juga menghambat aktifitas alkali phosphatase.
2)      Menganggu pengambilan esterogen endogenouse oleh mokosa uterus.
3)      Menganggu jumlah DNA (Deoksiribo Nukleat Acid) dalam endometrium.
4)      Menganggu metabolisme endogen.
h.      Untuk IUD yang mengandung hormon progesterone.
1)      Gangguan proses pematangan proliferatif-sekretoir sehingga timbul penekanan terhadap endometrium dan terganggunya proses implantasi.
2)      Lendir servik yang menjadi lebih kental atau tebal karena pengaruh progestin.(Hartanto, 2003)
Melihat uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mekanisme kerja IUD tidak mencegah ovulasi dan tidak mengganggu corpus luteum.
2.3.6     Efektifitas
a.       Efektifitas dari IUD dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuation rate) yaitu beberapa lama IUD tetap tinggal inutero tanpa :
1)      Ekspulsi spontan.
2)      Terjadinya kehamilan.
3)      Pengangkatan/pengeluaran karena alasan- alasan medis atau pribadi.
b.      Efektifitas dari bermacam- macam IUD tergantung pada :
1)      IUD nya yaitu ukuran, bentuk, mengandung Cu atau Progesterone.
2)      Akseptor yaitu umur, paritas, frekuensi senggama.
c.       Dari faktor- faktor yang berhubungan dengan akseptor yaitu umur dan paritas, diketahui :
1)      Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan pengangkatan/ pengeluaran IUD.
2)      Makin muda usia, terutama pada nulligravid, makin tinggi angka ekspulsi dan pengangkatan/ pengeluaran IUD.
d.      Dari uraian diatas, maka use- beffectiveness dari IUD tergantung pada variabel administratif, pasien dan medis, termasuk kemudahan insersi, pengalaman pemasang, kemungkinan ekspulsi dari pihak akseptor, kemampuan akseptor untuk mengetahui terjadinya ekspulsi dan kemudahan akseptor untuk mendapatkan pertolongan medis.(Hartanto, 2003)
2.3.7     Keuntungan
Keuntungan- keuntungan IUD adalah sebagai berikut :
a.     Sangat efektif 0,6- 0,8 kehamilan / 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 - 170 kehamilan).
b.     Efektif dengan potensi jangka panjang (sampai 8 tahun atau lebih) untuk CopperT 380 A.
c.     IUD dapat efektif segera setelah pemasangan.
d.    Tidak dapat efek samping hormonal dengan Cu IUD.
e.     Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus.
f.      Cocok untuk ibu- ibu yang sedang menyusui.
g.     Dapat digunakan sampai masa menopouse.
h.     Tidak ada interaksi dengan obat- obat.
i.       Membantu mencegah kehamilan ektopik
(Saifudin, BA 2003)
2.3.8     Kerugian
IUD bukanlah alat kontarsepsi yang sempurna, sehingga masih terdapat beberapa kerugian, antara lain :
a.       Pemeriksaan dalam dan penyaringan infeksi saluran genetalia diperlukan sebelum pemasangan IUD.
b.      Dapat meningkatkan resiko penyakit radang panggul (RPP)
c.       Memerlukan prosedur pencegahan infeksi sewaktu memasang dan mencabutnya.
d.      Bertambah darah haid dan rasa sakit selama beberapa bulan pertama pemakaian IUD.
e.       Klien tidak dapat mencabut sendiri IUDnya.
f.       Tidak dapat melindungi klien terhadap PMS (Penyakit Menular Seksual), AIDS/HIV.
g.      IUD dapat keluar rahim melalui kanalis hingga keluar vagina.
h.      Bertambahnya resiko mendapat penyakit radang panggul pada pemakaian IUD.
(Saifudin, 2003)
2.3.9     Kontra Indikasi
Kontra indikasi IUD terbagi menjadi 2 yaitu :
a.       Kontra-indikasi absolut :
1)      Infeksi pelvis akut, termasuk persangkaan Gonorrhoe atau Chlamyda.
2)      Kehamilan atau persangkaan kehamilan.
b.      Kontra-indikasi relatif kuat :
1)      Partner seksual yang banyak.
2)      Kesukaran memperoleh pertolongan gawat darurat bila terjadi komplikasi.
3)      Pernah mengalami infeksi pelvis atau infeksi pelvis yang rekuren, post-partum endometritis atau abortus febrilis dalam tiga bulan terakhir.
4)      Kelainan darah yang tidak diketahui sebabnya.
5)      Riwayat kehamilan ektopik atau keadaan-keadaan yang menyebabkan predisposisi untuk terjadinya kehamilan ektopik.
6)      Pernah mengalami infeksi pelvis satu kali dan masih memungkinkan kehamilan selanjutnya.
7)      Gangguan respon tubuh terhadap infeksi (AIDS, Diabetes Melitus, pengobatan dengan kortikosteroid dan lain-lain).
8)      Kelainan pembekuaan darah (Hartono, 2003)
c.       Keadaan-keadaan lain yang dapat menyebabkan kontra indikasi untuk insersi IUD :
Penyakit katup jantung (Kemungkinan terjadi sub-akut bakterial endokarditis), keganasan endometrium atau serviks, stenosis servik yang sehat, uterus yang kecil sekali, endometriosis, myoma uteri, polip endometrium, kelainan kongenital uterus, dismenore yang hebat, darah haid yang banyak, haid yang ireguler, atau perdarahan bercak atau (spotting), alergi terhadap Cu atau penyakit Wilson yaitu penyakit gangguan Cu yang turun menurun,anemia, ketidakmampuan untuk mengetahui tanda-tanda bahaya IUD, ketidakmampuan untuk memeriksa sendiri ekor IUD, riwayat Gonorhea, Clamydia, Syphilis, atau Herpes, Actinomycosis genetalia, riwayat reaksi vaso-vagal yang berat atau pingsan, Inkompatibilitas golongan darah misalnya Rh negatif, pernah mengalami problem ekspulsi IUD, leukore atau infeksi vagina, riwayat infeksi pelvis, riwayat operasi pelvis, keinginan untuk mendapatkan anak dikemudian hari atau pertimbangan kesuburan dimasa yang akan datang.
Pendapat lain mengatakan terdapat beberapa kontra indikasi IUD antara lain :
a.       Indikasi-kontra mutlak pemakaian IUD ialah kehamilan, penyakit radang panggul aktif atau rekuren, karsinoma servik, karsinoma korporis uteri.
b.      Indikasi-kontra relatif lain ialah tumor ovarium, kelainan utrerus mioma, kanalis servikalis, dan sebagainya), Gonorhea, servisitis, kelainan haid, dismenore, stenosis kanalis servikalis (Winkjosastro, 2002)
2.3.10 Waktu Pemasangan IUD
Waktu pemasangan IUD dapat dipasang bersamaan dengan menstruasi, segera setelah bersih menstruasi, pada masa akhir puerperium, tiga bulan pasca persalinan, bersamaan dengan seksio sesarea, bersamaan dengan abortus dan kuretage, hari kedua-ketiga pasca persalinan (Manuaba, 2009)
2.3.11 Periksa Ulang IUD
Pemeriksaan ulang sesudah IUD atau AKDR dipasang, dilakukan 1  minggu sesudahnya, pemeriksaan kedua 3 bulan kemudian, dan selanjutnya tiap 6  bulan.(prawiroharjo ,2009)
2.3.12 Efek Samping
Kemungkinan terjadinya kehamilan, ekspulsi, dan beberapa efek samping hendaknya dijelaskan kepada pasien.
Ekspulsi biasanya terjadi pada 3-6 bulan pertama, yang dapat sebagian atau seluruh IUD. Ekspulsi dapat diketahui oleh pasien pada waktu memperhatikan darah haidnya. Pasien dapat pula diberi petunjuk cara meraba filamen sendiri sebelum senggama dan sesudah haid selesai. Beberapa efek samping yang ringan ialah sebagai berikut:
a.       Nyeri pada waktu pemasangan. Kalau nyeri sekali, dapat dilakukan anestesia paraservikal.
b.      Kejang rahim, terutama pada bulan-bulan pertama. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan spasmolitikum atau pemakaian IUD lebih kecil ukurannya.
c.       Nyeri pelvik. Pemberian spasmolitikum dapat mengurangi keluhan ini.
d.      Perdarahan diluar haid (spotting).
e.       Darah haid lebih banyak (menoragia).
f.       Sekret vagina lebih banyak.
Disamping itu pula terjadi efek samping yang lebih serius, walaupun jarang dan biasanya segera dikenal, yaitu sebagai berikut :
a.       Perforasi uterus
Dalam keadaan ini IUD harus dikeluarkan melalui laparoskopi, atau laparotomi. Hal ini lebih-lebih harus dilakukan kalau terjadi perforasi pada IUD tembaga, karena dapat menimbulkan perlekatan-perlekatan dengan usus.
b.       Infeksi pelvik
Infeksi yang ringan umumnya dapat diobati dengan antibiotika. Jika infeksinya berat, hendaknya dibuat biakan dan uji kepekaan dari daerah endoservuks. IUD itu harus dikeluarkan, dan antibiotika yang sesuai diberikan.
c.        Endometritis
Gejala dini endometritis dengan IUD ini ialah keputihan yang berbau, disparenia, metroragia, dan menoragia. Lebih lanjut dapat menjadi parametritis, pembentukan abses pelvik, dan peritonitis. Pemeriksaan bakteriologik dari endoserviks dan uterus harus dilakukan, dan IUD dikeluarkan (Wiknjosastro, 2002)




2.3.13 Pencabutan IUD
IUD (Intra Uterine Devices) dapat dibuka sebelum waktunya bila dijumpai :
a.       Ingin hamil kembali.
b.      Leokorea, sulit diobati dan peserta menjadi kurus.
c.       Terjadi Infeksi.
d.      Terjadi Perdarahan.
e.       Terjadi kehamilan mengandung bahan aktif dengan IUD.
f.       (Hartono,2003)
2.3.14 Faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi IUD
a.       Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita-cita tertentu. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin mudah dalam memperoleh menerima informasi, sehingga kemampuan ibu dalam berpikir lebih rasional.(Varney, 2006). Sedangkan Menurut beberapa ahli salah satunya adalah Dictionory of Education Pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya didalam masyarakat dimana ia hidup, proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh, mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum (Ihsan Fuad, 2005).
b.      Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2010). Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mat dan telinga. Pengetahuan merupakan pedoman dalam membentuk tindakan seseorang. (Maulana, 2009). Pengetahuan sebenarnya merupakan sebuah informasi juga yang merupakan hasil dari pengolahan data, memandang bahwa suatu informasi dikatakan pengetahuan jika dapat digunakan dalam pengambilan keputusan sebagaimana dikemukakan. (Vercellis, 2009)
c.       Pekerjaan
Pekerjaan disini selain dikaitkan dengan berat ringannya beban kerja bagi akseptor maka pekerjaan terkait pula dengan ekonomi. Ekonomi adalah sebuah kegiatan yang biasa menghasilkan uang. Ekonomi juga cakupan urusan keuangan rumah tangga. (Depdiknas, 2002).
Tingkat ekonomi mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus menyediakan dana yang diperlukan.
Pekerjaan adalah aktifitas yang dilakukan sehari-hari dimana seluruh bidang pekerjaan umumnya diperlukan adanya hubungan social dan hubungan dengan orang baik, setiap orang harus dapat bergaul dengan orang lain, setiap orang harus bergaul dengan teman sejawat maupun berhubungan dengan atasan. Pekerjaan dapat mnggambarkan tingkat kehidupan seseorang karena dapat mempengaruhi sebagian aspek kehidupan seseorang termasuk pemeliharaan kesehatan. (Notoatmojo, 2010)
d.      Umur
Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan. (Depdiknakes, 2002). Usia yang dimaksud disini adalah usia akseptor KB. Usia mempengaruhi akseptor dalam penggunaan alat kontrasepsi. Dari faktor-faktor usia dapat ditentukan fase-fase. Usia kurang 20 tahun; fase menunda kehamilan, usia antara 20-30 tahun; fase menjarangkan kehamilan. Usia antara 30 tahun lebih; fase mengakhiri kehamilan. (Hartanto, 2002).
e.       Paritas
Paritas dapat dibedakan menjadi primipara, multipara dan grandemultipara. (Prawiroharjo, 2009). Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu baik yang hidup maupun mati. Jumlah anak yang banyak pada keluarga yang social ekonominya menengah kebawah akan menyebabkan kekurangan perhatian yang seutuhnya pada anak. (Notoatmojo, 2003). Paritas adalah jumlah anak yang di lahirkan seorang wanita selama hidupnya.hal ini sangat mempengaruhi kesehatannya. Paritas 2-3 merupakan paritas yang paling aman di tinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai resiko angka kematian maiernal lebih tinggi (winkjosastro,2006).
f.       Sosial budaya
Istilah sosial budaya menunjukan kepada dua segi kehidupan bersama manusia, yaitu kemasyarakatan dan kebudayaan. Masyarakat setempat belum terbiasa dalam penggunaan IUD,efek negatif pandangan bahwa IUD dapat mempengaruhi kenyamanan dalam hubungan sex, dilarang suami, dilarang keluarga, pandangan dari agama tertentu yang melarang atau mengharamkan penggunaan IUD.
          (Anonim, 2010)
g.      Psikologis
Psikologi berarti ilmu jiwa. Namun pengertian jiwa tidak pernah ada kesepakatan dari sejak dahulu.(Nursalam 2009).Jenis kontrasepsi IUD ini diklaim paling aman. Meski demikian kondisi ini tidak berlaku umum bagi tiap ibu. Ada beberapa resiko seperti perdarahan, rasa nyeri di perut dan sebagainya. Namun selama dokter/ bidan memastikan tidak ada yang salah dengan pemasangan alat ini, maka efek yang muncul bisa jadi adalah efek psikologis. Masalah psikologis biasanya keluhan yang muncul adalah rasa sakit, rasa tidak nyaman, suami meras ada yang menjanggal/”menusuk” saat berhubungan intim dan sebagainya. Ketakutan akan keluarnya material IUD dari rahim atau jalan lahir, Perasaan risih dan malu karena harus membuka pakaian dalam dan memperlihatkan alat kemaluan pada orang Iain/pemeriksa. Prosedur medis termasuk pemeriksaan felvik diperlukan dalam pemasangan IUD dan seringkali menimbulkan perasaan takut selama pemasangan.
    (Nursalam, 2011)
h.      Klasifikasi Pengetahuan
1)      Baik            : 76 - 100% jika 17-20 jawaban benar
2)      Cukup         : 50 - 75% jika 16-11 jawaban benar
3)      Kurang        : < 50% jika 0-10 jawaban benar
(Arikunto, 2006)




BAB III
KERANGKA KONSEP

3.1      Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Pengetahuan Ibu

Faktor Eksternal :
1.      Sosial budaya
2.      Psikologis

Rendahnya cakupan akseptor kontrasepsi IUD
Faktor Internal :
1.      Umur
2.      Paritas
3.      Pendidikan
4.      Pekerjaan

 



                                               
                                                           



                                                                                   
                                                                                               



                                                    




Keterangan :
   : Variabel yang diteliti



Sumber dimodifikasi dari teori Notoadmodjo, 2010.

24
Gambar 3.1. Kerangka Konsep


3.2      Definisi Operasional

No
Variabel
Definisi Operasional
Alat Ukur
Cara Ukur
Hasik Ukur
Skala Data
1.
Umur
Lama waktu hidup sejak dilahirkan
Kuisioner
Wawancara
a.      <20 tahun
b.      20-35 tahun
c.      >35 tahun
Ordinal
2.
Paritas
Jumlah anak yang dilahirkan oleh wanita sampai dengan saat penelitian ini
Kuisioner
Wawancara
a.       Primipara:1
b.      Multipara 2-4
c.       Grande > 4
Ordinal
3.
Pendidikan





Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang melalui pengajaran dan pelatihan
Kuisioner
Wawancara
a.       Dasar : SD
b.      Menengah : SMP-SLTA
c.       Tinggi : Perguruan tinggi
Ordinal
4.
Pekerjaan
Kegiatan yang biasa dilakukan yang menghasilkan uang yang dikaitkan dengan berat ringannya pekerjaan
Kuisioner
Wawancara
a.       Bekerja
b.      Tidak bekerja
Nominal



5.
Pengetahuan
Hasil tahu dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu
Kuesioner
Wawancara
a.       Baik : 76 % -100%
b.      Cukup : 50%-70%
c.       Kurang : < 50%
Ordinal
6.
Sosial budaya
Pandangan terhadap penggunaan kontrasepsi IUD yang dipengaruhi oleh kehidupan sosial masyarakat sekitar
Kuesioner
Wawancara
a.       Positif : Jika 49-100%
b.      Negatif : Jika <49 %
Nominal
7.
Psikologis
Pandangan yang dikemukakan oleh responden tentang pemasangan IUD
Kuesioner
Wawancara
a.       Positif : Jika 47-100%
b.      Negatif :
Jika < 47%
Nominal




BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1  Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. menurut penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha menggali dan mendeskripsikan/menjelaskan gejala-gejala, peristiwa kejadian yang terjadi pada saat sekarang (Arikunto, 2002). Dengan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Cross sectional yaitu variabel pada objek penelitian diukur/dikumpulkan secara simultan/dalam waktu yang bersamaan. (Notoatmojo, 2010)

4.2  Tempat dan Waktu Penelitian
4.2.1     Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah daerah atau lokasi di mana penelitian tersebut dilaksanakan dan lokasi penelitian ini adalah di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela Kota Mataram dengan alasan :
a.       Cakupan akseptor untuk IUD yaitu 4 akseptor sampai Desember 2011
b.      Belum ada penelitian sejenis di tempat tersebut.
c.       Tempat yang strategis
27
 
4.2.2     Waktu
Penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 1-30 Agustus 2012 di Kelurahan Kekalik Jaya yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang.

4.3  Populasi dan Sampel Penelitian
4.3.1        Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2010). Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada di wilayah penelitian, maka penelitianya merupakan penelitian populasi.
Populasi dalam penelitian ini adalah pasangan usia subur yang menjadi akseptor KB selain IUD di Kelurahan Kekalik Jaya sebanyak 337 jiwa.
4.3.2        Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoadmodjo,2010)
4.3.3        Besar Sampel
Besar sampel adalah banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel berdasarkan pertimbangan tenaga, waktu, biaya yang dimiliki. Untuk besar sampel dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut (Notoatmodjo, 2010)
            Keterangan :         
N = Besar populasi
n  = Besar sampel
d  = Tingkat kepercayaan/ ketepatan yang diinginkan (0,01)
Besar sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :
n =
n  =                                
n  = 
n  = 
n = 100
Berdasarkan perhitungan tersebut diatas, maka jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 orang.
4.3.4        Tehnik Pengambilan Sampel
Teknik sampling adalah teknik yang digunakan untuk mengambil sampel dalam populasi (Arikunto, 2006). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Random Sampling. Random Sampling yaitu pengambilan sampel secara random atau acak. Random sampling yang digunakan adalah Systematic Random Sampling yaitu pengambilan sampel secara acak sistematis, caranya adalah membagi jumlah atau anggota populasi dengan perkiraan jumlah yang diinginkan, hasilnya adalah interval sampel. Sampel diambil dengan membuat daftar elemen atau anggota populasi secara acak antara 1 sampai dengan banyaknya anggota populasi. Kemudian membagi dengan jumlah sampel yang diinginkan , hasilnya sebagai interval adalah X, maka yang terkena sampel adalah setiap kelipatan dari X tersebut.
Keterangan :
I     = Intervalnya
N   = Jumlah populasi
n    = Sampel yang diinginkan
I =
I = 3,37 dibulatkan menjadi 3
Bilangan 1 s.d 3 dirandom, bila keluar angka 3 maka 3 adalah sampel pertama, sampel kedua, ketiga, keempat dan seterusnya adalah bilangan kelipatan 3. Jadi 6, 9, 12 dan seterusnya sampai didapat 100 sampel.( Notoatmodjo, 2010 hal 121 )
4.3.5        Kriteria Sampling
4.3.5.1    Kriteria Inklusi
Kriteria Inklusi adalah sampel yang dapat diambil atau dimasukan atau layak untuk diteliti dengan kriteria inklusi. (Notoatmodjo, 2010) yaitu :
1.   Pasangan usia subur yang ada di wilayah kekalik Jaya
2.   Ibu-ibu yang sudah menikah.
3.   Pasangan usia subur yang bersedia menjadi responden dalam penelitian
4.3.5.2    Kriteria Ekslusi
Kriteria Ekslusi adalah sampel yang tidak untuk diteliti. (Notoatmodjo, 2010) dengan kriteria :
1.      Ibu yang menggunakan IUD
2.      Pasangan usia subur yang bersedia menjadi responden tetapi tidak hadir pada saat penelitian.

4.4  Teknik dan Jenis Pengumpulan Data
4.4.1     Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data mengenai gambaran rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD maka digunakan teknik kuesioner terstruktur dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan berupa karakteristik responden, faktor sosial budaya, psikologis dan pengetahuan responden tentang kontrasepsi IUD. Untuk mengumpulkan data gambaran umum tempat penelitian digunakan teknik dokumentasi yaitu dengan mengambil data yang ada pada profil kelurahan Kekalik Jaya.
4.4.2     Jenis data Yang Dikumpulkan
4.4.2.1  Data Primer yaitu data yang bersumber langsung dari responden, didapatkan dengan wawancara dan membawa kuesioner ke responden yang meliputi :
a.    Data karakteristik responden yang meliputi: umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas.
b.   Data tentang faktor sosial budaya sebagai penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD.
c.    Data tentang faktor psikologis sebagai penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD
d.   Data tentang faktor pengetahuan sebagai penyebab rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD.
4.4.2.2  Data Sekunder yaitu data yang berupa dokumen-dokumen seperti data mengenai keadaan demografi suatu daerah. Dalam penelitian ini yang termasuk data sekunder adalah tentang Data gambaran umum lokasi penelitian dan jumlah akseptor KB non IUD yang didapatkan dari register KB Poskesdes Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung karang Tahun 2011.


4.5  Cara pengolahan Data dan Analisa Data
4.5.1        Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data dilakukan secara manual dan melalui komputerisasi. Dalam pengolahan ini mencakup :
a.       Editing
Setelah semua data terkumpul, Peneliti melakukan pengecekan ulang. Hal tersebut dilakukan untuk memeriksa kelengkapan dari hasil jawaban responden pada setiap lembar jawaban kuesioner.
b.      Coding
Merubah bentuk data berbentuk menjadi angka atau bilangan-­bilangan pada masing-masing variabel, diberi kode atau skor selanjutnya dimasukan dalam lembar kerja, tabel kerja untuk memudahkan entri data dikomputer.
Data karakteristik responden :
1)      Umur
Umur diolah dengan cara mengelompokkannya dalam 3 kategori yaitu:
(a)    < 20 tahun                               : kode 1
(b)   20-35 tahun                             : kode 2
(c)    > 35 tahun                               : kode 3

2)      Pendidikan
Pendidikan diolah dengan cara mengelompokkannya dalam kategori :
(a)    Dasar (SD-SMP)                     : kode 1
(b)   Menengah (SLTA)                  : kode 2
(c)    Tinggi(Perguruan Tinggi)        : kode 3
3)      Pekerjaan
Pekerjaan diolah dengan cara mengelompokkannya dalam 2 kategori yaitu,:
(a)    Bekerja                                    : kode 1
(b)   Tidak bekerja                          : kode 2
4)      Paritas
Paritas diolah dengan cara mengelompokkannya dalam kategori :
(a)    Primipara                     : kode 1
(b)   Multipara                     : kode 2          
(c)    Grande multipara        : kode 3
c.       Skoring
Merubah bentuk data berbentuk menjadi angka atau bilangan-­bilangan pada masing-masing variabel, diberi skor selanjutnya dimasukan dalam lembar kerja, tabel kerja untuk memudahkan entri data dikomputer.
1)      Faktor Sosial Budaya
Sosial budaya diolah dengan cara mengelompokkannya dalam 2 kategori yaitu :
(a)    Positif                                : Jika 49-100%           
(b)   Negatif                              : Jika <49%
2)      Psikologis
Psikologis diolah dengan cara mengelompokkannya dalam 2 kategori yaitu :
(a)    Positif                                : Jika 47-100%
(b)   Negatif                              : Jika <47%
Pada skoring sosial budaya dan psikologis digunakan skala Guttman, skala ini merupakan skala yang bersifat tegas dan konsistensi dengan memberikan jawaban yang tegas seperti jawaban dari pertanyaan ya, dan tidak, positif dan negatif, setuju dan tidak setuju, benar dan salah. untuk kuesioner sosial budaya dan psikologis untuk jawaban “ya” diberi skor 1 dan untuk jawaban “tidak” diberi skor 0.
3)      Pengetahuan:
Untuk kuesioner pengetahuan jawaban benar diberi skor 1 dan jawaban salah diberi skor 0.

Selanjutnya dikategorikan :
Baik                 : 76 - 100% jika 17-20 jawaban benar
Cukup                         : 50 - 75% jika 16-11 jawaban benar
Kurang            : < 50% jika 0-10 jawaban benar
(Arikunto, 2006)
4)      Entry
Memasukkan data dengan cara memindahkan data dari kuesioner ke dalam master tabel (tabel umum). Master tabel adalah suatu tabel yang berisi seluruh data atau variabel hasil penelitian (Notoatmodjo, 2010).
5)      Tabulasi Data
Tabulasi data dilakukan secara manual dan dengan bantuan komputer. Dalam tahap ini, data dari master tabel akan dipindahkan kedalam tabel distribusi frekuensi.

4.5.2        Analisis Data
Setelah data terkumpul dari hasil instrumen yang digunakan, data tersebut dianalisa, analisa yang digunakan analisa univariat, kemudian data disajikan dalam bentuk narasi dan tabel.






4.6  Waktu penelitian
No
Kegiatan
Waktu Penelitian
Desember 2011
(Minggu Ke-)
Januari 2012
(Minggu Ke-)
Februari 2012
(Minggu Ke-)
Maret 2012
(MingguKe-)
April 2012
(Minggu Ke-)
Mei 2012
(MingguKe-)
Juni 2012
(MingguKe-)
Juli 2012
(MingguKe-)
Agustus 2012
(MingguKe-)
September 2012
(MingguKe-)
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1.
Pengajuan Judul








































2.
Observasi  dan penelitian








































3.
Penyusunan Proposal








































4.
Ujian Proposal








































5.
Penelitian








































6.
Penyusunan KTI








































7.
Ujian KTI














































BAB V
HASIL PENELITIAN

5.1  Gambaran Umum Tempat Penelitian
5.1.1        Letak Geografis
Puskesmas Tanjung Karang seperti halnya Puskesmas di Indonesia didasarkan pada KEPMENKES No. 128 Tahun 2004, merupakan sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Kota Mataram yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian wilayah kecamatan yang dalam hal ini yaitu Wilayah Kecamatan Ampenan daan Sekarbela Kota Mataram. Keadaan geografis Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang sebagian besar berupa daerah pinggir pantai dan sebagian lainnya daerah dataran rendah.
Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang yang daerahnya berupa dataran rendah adalah Kelurahan Kekalik Jaya dan Taman Sari. Luas Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang adalah 7.533 Km2 yang terdiri dari 6 kelurahan dengan batas wilayah adalah sebagai berikut :
a.      Sebelah Utara      : Berbatasan dengan Kelurahan Ampenan Tengah, Wilayah Kerja Puskesmas Ampenan.
b.     
38
Sebelah Timur     : Berbatasan dengan Kecamatan Mataram Wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan
c.      Sebelah selatan    : Berbatasan dengan kelurahan Karang Pule, Wilayah Kerja Puskesmas Karang Pule.
d.     Sebelah Barat      : Berbatasan dengan Selat Lombok.
5.1.2        Demografi Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang
a.       Kepadatan Penduduk
Jumlah kepadatan penduduk yang dilayani di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang adalah 40.231 jiwa yang tersebar di 6 kelurahan. Penduduk terpadat berada di Kelurahan Tanjung Karang Permai yaitu berjumlah 8.893 jiwa, kemudian disusul dengan Kelurahan Ampenan Selatan 8.630 jiwa, Kelurahan Kekalik Jaya 8.171 jiwa, Kelurahan Banjar 6.735 jiwa, Kelurahan Taman sari 5.502 jiwa, Kelurahan Tanjung Karang 2.300 jiwa. Sedangkan Kelurahan terluas adalah Tanjung Karang, dan luas Wilayah Kelurahan terkecil adalah Tanjung Karang Permai.
Perbandingan antara penduduk berjenis kelamin laki-laki dengan perempuan adalah 20.496 jiwa (47,78%) dengan 22.402 jiwa (52,22%). Kebanyakan penduduk yang tinggal di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang bekerja di bidang pedagangan, nelayan, jasa angkutan dan industri pengolahan.

b.      Sarana / tempat pelayanan kesehatan
Sarana pelayanan kesehatan lingkup Puskesmas tanjung Karang selain Puskesmas Induk, juga 2 Puskesmas Pembantu (Pustu) yaitu Pustu di Ampenan Selatan dan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Tanjung Karang tepatnya Wilayah Perumnas. Dengan 2 buah Polindes di Ampenan Selatan dan di Kekalik Jaya, dimana bidan desanya menetap. Namun ada pula 1 orang bbidan desa yang tidak menetap di desa, yaitu Bidan Desa Tanjung Karang Permai.
Selain itu sebagai salah satu puskesmas dalam lingkup Kota Mataram, keberadaan alat dan bahan kesehatan relative lengkap dan sesuai standar pelayanan dan lebih memungkinkan pengembangan Puskesmas kedepannya.
c.       Sumber Daya Kesehatan Ketenagaan
Jumlah tenaga pada lingkup puskesmas Tanjung Karang tahun 2008 adalah 47 orang yang terdiri dari 38 (80,85%) tenaga PNS, dan 9 (19,15%) tenaga mengabdi / sukarela.
Dari jumlah 47 orang tenaga yang ada, sebagian besar adalah tenaga paramedic perawatan (perawat, perawat gigi, dan bidan) dan paramedic non perawatan (Sarjana kesehatan, sanitarian, ahli gizi, laboran dan asisten apoteker).
5.2  Identifikasi Karakteristik Responden
5.2.1     Umur 
Umur/usia adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pilihan akseptor untuk menggunakan alat kontrasepsi. Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan kelompok umur, dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut :
Tabel 5.1. Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.

No
Umur
n
%
1
<20 tahun
1
1,0
2
20 – 35 tahun
84
84,0
3
> 35 tahun
15
15,0
Jumlah
100
100,0

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa dari 100 responden didapatkan sebagian besar 84 responden (84,0%) responden berada pada kelompok umur 20-35 tahun dan sebagian kecil 1 responden (1,0%) responden berada pada kelompok umur < 20 tahun.





5.2.2     Pendidikan
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan pendidikan, dapat dilihat pada tabel 5.2 berikut :
Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.

No
Pendidikan
n
%
1
Dasar
34
34.0
2
Menengah
43
43.0
3
Tinggi
23
23.0
Jumlah
100
100.0

Berdasarkan tabel 5.2 diatas dapat dilihat bahwa 43 responden (43,0%) responden memiliki tingkat pendidikan Menengah sedangkan yang paling sedikit 23 responden (23,0%) responden berpendidikan tinggi.
5.2.3     Pekerjaan
Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan, dapat dilihat pada tabel 5.3 berikut :
Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.

No
Pekerjaan
N
%
1
Bekerja
32
32.0
2
Tidak Bekerja
68
68.0
Jumlah
100
100.0


Berdasarkan tabel 5.3 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 68 responden (68,0%) responden tidak bekerja di luar rumah melainkan beraktifitas sebagai ibu rumah tangga (IRT), sedangkan sisanya 32 responden (32,0%) responden bekerja di berbagai bidang yaitu ada yang PNS, Honorer dan ada yang bergerak dibidang swasta.
5.2.4     Paritas
Untuk mengetahui karakteristik responden bedasarkan jumlah paritas, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.4 Distribusi Responden Berdasarkan Paritas di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.

No
Paritas
n
%
1
Primipara
32
32.0
2
Multipara
63
63.0
3
Grande Multipara
5
5.0
Jumlah
100
100.0

Berdasarkan tabel 5.4 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 63 responden (63,0%) responden adalah multipara atau ibu sudah pernah melahirkan 2-4 kali dan sebagian kecil 5 responden (5,0%) responden adalah grande multipara atau sudah melahirkan > 4 kali.







5.3  Identifikasi Faktor Sosial Budaya Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD

Untuk mengetahui distribusi faktor Sosial Budaya Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD dapat dilihat pada tabel 5.5 berikut :
Tabel 5.5 Distribusi faktor Sosial Budaya Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.
No
Sosial Budaya
n
%
1
Positif
65
65,0
2
Negatif
35
35,0
Jumlah
100
100,0

Berdasarkan tabel 5.5 di atas dilihat bahwa dari 100 responden sebagian besar faktor sosial budaya yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak positif yaitu sebanyak 65 responden (65,0%) dan sebagian kecil memiliki dampak negatif  yaitu sebanyak 35 responden (35,0%)

5.4  Identifikasi Faktor Psikologis Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD

Untuk mengetahui distribusi faktor psikologi Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut :
Tabel 5.6  Distribusi faktor Psikologis Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.

No
Psikologi
n
%
1
Positif
68
68,0
2
Negatif
32
32,0
Jumlah
100
100,0
Berdasarkan tabel 5.6 di atas dilihat bahwa dari 100 responden sebagian besar faktor psikologi yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak positif yaitu sebanyak 68 responden (68,0%) dan sebagian kecil memiliki dampak negatif  yaitu sebanyak 32 responden (32,0%)

5.5  Identifikasi Faktor Pengetahuan Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD

Tingkat pengetahuan adalah hal yang sangat mempengaruhi seseorang dalam melakukan sesuatu, jika pengetahuan responden tentang IUD baik maka besar kemungkinan responden akan menggunakan IUD. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden makan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.7 Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD  di Kelurahan Kekalik Jaya Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Tahun 2011.

No
Pengetahuan
n
%
1
Baik
57
57.0
2
Cukup
43
43.0
Jumlah
100
100.0

Berdasarkan tabel 5.7 diatas terlihat bahwa dari 100 responden sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 57 responden (57,0%) dan sebagian kecil responden memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 43 responden (43,0%).



BAB VI
PEMBAHASAN

6.1  Karakteristik responden
6.1.1        Umur
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti berdasarkan kelompok umur dari 100 responden dapat diketahui bahwa sebagian besar 84 responden (84,0%) responden berada pada kelompok umur 20-35 tahun dan sebagian kecil 1 responden (1,0%) responden berada pada kelompok umur < 20 tahun.
Dari hasil penelitian diatas peneliti mengasumsikan bahwa umur merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pengetahuan ibu tentang faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan alat kontrasepsi IUD. Semakin produktif usia seseorang maka semakin tinggi tingkat pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat mempengaruhi pola pikir dan daya tangkap dalam menggunakan alat kontrasepsi. Hal ini sangatlah penting untuk menjaga jarak anak dan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Sedangkan ibu yang berumur <20 dan >35 tahun memiliki pengetahuan yang kurang tentang faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan alat kontrasepsi IUD. Hal ini disebabkan oleh pola pikir dan daya tangkap yang dimiliki oleh ibu usia <20 dan >35 tahun semakin menurun. Karena pada umumnya semakin semakin rendah usia seseorang maka tingkat pengetahuannya semakin kurang. Begitu juga sebaliknya semakin lanjut usia seseorang maka semakin menurun pola pikir dan daya tangkapnya.
Hal ini sesuai dengan teori yang diungkapkan oleh Hartanto (2002) mengatakan bahwa faktor-faktor -faktor usia dapat ditentukan fase-fase. Usia kurang 20 tahnu : fase menunda kehamilan, usia antara 20-35 tahun fase menjarangkan kehamilan, usia antara 35 tahun lebih fase mengakhiri kehamilan. (Hartanto,2002).
Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Eman (2005) di Puskesmas Tanjung, mengatakan bahwa ibu dengan usia produktif memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan alat kontrasepsi IUD. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pengalaman dan tingginya jenjang pendidikan yang ditempuh oleh ibu.
47
Dengan demikian dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, teori dan penelitian orang lain terdapat kesamaan bahwa semakin cukup atau produktif usia seseorang maka semakin baik atau meningkat pengetahuan yang dimiliki tentang faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan alat kontrasepsi IUD.
6.1.2        Pendidikan
Pada tabel dapat dilihat bahwa sebagian besar responden berpendidikan menengah keatas yaitu 43(43,0%).
Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.(Kamus Besar Bahasa Indonesia 2008). Dengan kata lain, semakin tinggi pendidikan seseorang maka pandangannya terhadap suatu persoalan akan lebih objektif.
6.1.3        Pekerjaan
Pada tabel dapat dilihat bahwa responden sebagian besar beraktifitass sebagai ibu rumah tangga yaitu sebesar 68(68,0%). Ibu-ibu biasanya beranggapan bahwa jika menggunakan IUD maka tidak boleh melakukan kerja yang berat.
Pekerjaan disini selain dikaitkan dengan berat ringannya beban kerja bagi akseptor maka pekerjaan terkait pula dengan ekonomi. Ekonomi adalah sebuah kegiatan yang biasa menghasilkan uang. Ekonomi juga cakupan urusan keuangan rumah tangga (Depdiknas,2007)
Tingkat ekonomi mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena untuk mandapatkan pelayanan kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus menyediakan dan ayang diperlukan.
6.1.4        Paritas
Dari hasil penelitian yang tertuang pada tabel dapat dilihat bahwa sebagian besar responden 63(63,0%) adalah multipara artinya sudah melahirkan 2-4 kali, sedangkan yang paling sedikit 5(5,0%) adalah grande multipara atau melahirkan lebih dari 4 kali. Hal ini menunjukan bahwa kesadaran massyarakat tentang jumlah anak yang baik untuk kesehatan ibu sudah cukup baik karena menurut Wiknjosastro (2006) paritas 2-4 merupakan paritas yang paling aman di tinjau dari sududt kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 4) mempunyai resiko angka kematian maternal lebih tinggi.
Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan seseorang wanita selama hidupnya. Hal ini sangat mempengaruhi kesehatannnya. (Wikjosastro 2006)

6.2  Faktor Sosial Budaya Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 100 responden sebagian besar faktor sosial budaya yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak positif yaitu sebanyak 68 responden (68,0%) dan sebagian kecil memiliki dampak negatif  yaitu sebanyak 32 responden (32,0%).
Faktor sosial budaya merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang dalam pemilihan jenis kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus menyediakan dana yang diperlukan. Walaupun jika dihitung dari segi keekonomisannya, kontrasepsi IUD lebih murah dari KB suntik atau pil, tetapi kadang orang melihatnya dari berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali pasang. Kalau patokannya adalah biaya setiap kali pasang, mungkin IUD tampak jauh lebih mahal. Tetapi kalau dilihat masa/jangka waktu penggunaannya, tentu biaya yang harus dikeluarkan untuk pemasangan IUD akan lebih murah dibandingkan KB suntik atau pun pil. (Erfandi, 2008).
Pandangan dari agama-agama tertentu yang melarang atau mengharamkan penggunaan IUD. Ada beberapa orang yang menganggap bahwa metode KB IUD termasuk yang dilarang dalam ajaran agama, karena beberapa produk IUD saat ini terbuat dari bahan yang tidak kondusif bagi zygote sehingga bisa membunuhnya dan proses kehamilan tidak terjadi.
Dari hasil penelitian dan pendapat ahli tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat sosial budaya yang dimiliki oleh seseorang, maka semakin rendah pula tingkat pemakaian alat kontrasepsi IUD yang digunakan.

6.3  Faktor Psikologis Sebagai Penyebab Rendahnya Pemakaian Kontrasepsi IUD

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terhadap 100 responden sebagian besar faktor psikologi yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak positif yaitu sebanyak 68 responden (68,0%) dan sebagian kecil memiliki dampak negatif  yaitu sebanyak 32 responden (32,0%).
Faktor psikologis berkaitan dengan sikap yang dimiliki oleh seseorang dapat mempengaruhi rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD. Karena Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Contohnya adalah seperti sikap setuju atau tidaknya mereka terhadap informasi alat kontrasepsi dan KB IUD, pengertian alat kontrasepsi dan manfaatnya, serta kesediaannya mendatangi tempat pelayanan fasilitas dan sarananya, juga kesediaan mereka memenuhi kebutuhan sendiri.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pardosi (2005) yang mengatakan bahwa faktor psikologis yang berkaitan dengan sikap dapat mempengaruhi seseorang dalam pemilihan dan pemakaian alat kontrasepsi IUD .

6.4  Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoadmojo,2010) penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni : penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan kognitif merupakan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Apabila pengetahuan seseorang cukup baik maka tindakan yang dilakukan akan baik pula.



Pada penelitian ini sebagian besar 43(43,0%) responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baik tentang IUD dan 57(57,0%) lainnya memiliki tingkat pengetahuan yang sangat baik tentang IUD, tidak ada respon yang tidak paham mengenai IUD.



BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1  Kesimpulan
7.1.1     Karakteristik Reponden
Dari 100 responden dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki rentang umur 20-35 tahun sebanyak 84 responden (84,0%), memiliki tingkat pendidikan menengah sebanyak 43 responden (43,0%), tidak bekerja sebanyak 68 responden (68,0%) dan memiliki paritas multipara sebanyak 63 responden (63,0%).
7.1.2     Faktor sosial budaya yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD
Dari 100 responden sebagian besar faktor sosial budaya yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak positif yaitu sebanyak 65 responden (65,0%)
7.1.3     Faktor psikologi yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD
Dari 100 responden sebagian besar faktor psikologi yang menyebabkan rendahnya pemakaian kontrasepsi IUD memiliki dampak positif yaitu sebanyak 68 responden (68,0%).
55
 
7.1.4     Tingkat Pengetahuan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 57 responden (57,0%) dan sebagian kecil responden memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 43 responden (43,0%).

7.2  Saran
7.2.1     Bagi Akseptor KB
Agar dapat melihat secara objektif alat kontrasepsi sehingga pemilihan alat kontrasepsi tidak hanya berdasarkan pada pengaruh dan larangan dari suami, orang tua, keluarga maupun teman tetapi lebih berdasarkan pada kecocokan alat kontrasepsi berdasarkan pemeriksaan medis dan kenyaman responden sendiri.
7.2.2     Bagi Petugas Kesehatan (Bidan)
Agar dapat memberikan pengaruh-pengaruh positif kepada akseptor dengan memperlihatkan bukti-bukti fisik mengenai pemakaina alat kontrasepsi IUD, sehingga hal-hal negative yang terlanjur melekat di masyarakat akan berkurang sehingga pemakaian alat kontarsepsi IUD lebih meningkat.


7.2.3     Bagi Puskesmas Tanjung Karang
Agar bekerja sama dengan instansi terkait seperti BKKBN dalam memberikan pelayanan dan penyuluhan tentang KB khususnya IUD kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Karang.
7.2.4     Bagi Masyarakat
Agar dapat memberikan pengaruh-pengaruh yang baik terhadap lingkungan, memandang setiap persoalan dengan lebih bijak sehingga program-program pemerintah khususnya pada program KB (pemakaian alat kontrasepsi jangka panjang dan efektif) dapat berhasil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar